fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Modal Karier: Rahasia Sukses di Profesi Apapun

2 min read

Apa yang membedakan antara mereka yang sukses berkarier di satu profesi dengan mereka yang mentok di profesi yang sama? Pertanyaan ini menggantung di benak saya selama beberapa tahun. Mengapa orang menjalani profesi yang sama namun jalan hidupnya seakan berbeda? Ada yang sukses dan bahagia dengan pilihan kariernya, sementara lainnya stress dan banyak mengeluh tentang karier yang dijalaninya.

modal-karier-rahasia-sukses-di-profesi-apapun

Katakanlah profesi sebagai seorang professional speaker, saya mengenal seseorang yang sangat bahagia menjalaninya. Kariernya di bidang ini bisa dibilang lancar jaya. Order berdatangan tanpa dia minta. Sementara itu, saya juga mengenal seseorang di profesi yang sama yang berjuang keras untuk mendapatkan satu dua order yang belum tentu datang juga. Apa yang membedakannya?

Ada lagi teman saya yang baru saja menjalani bisnis di insurance. Dalam waktu singkat, kurang dari setahun, dia sudah masuk klub elit: MDRT – Million Dollar Round Table. Sementara ada teman saya lainnya yang sudah beberapa tahun menjalankan bisnis yang sama, belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Apa yang membedakannya?

Pertanyaan di awal tadi tetap menggantung, sampai kemudian saya bertemu dengan bukunya Cal Newport[1]. Newport mengenalkan sebuah terminologi baru: modal karier. Newport mendefinisikan modal Karier sebagai keterampilan yang langka dan berharga yang dapat kita jadikan pengungkit dalam mendefinisikan karier kira. Kuncinya adalah langka dan berharga. Sesuai hukum dasar ekonomi, sesuatu yang langka dan berharga lebih mahal dibandingkan sesuatu yang pasaran bukan? Nah, modal karier yang cukuplah yang menjadi “faktor penentu” kesuksesan karier seseorang.

Namun, saya ingin memperluas definisi dari Newport. Menurut saya, modal karier adalah segala hal yang kita miliki yang dapat dijadikan pengungkit dalam karier kita. Tanpa modal karier yang cukup, seseorang akan bergulat di dalam profesi yang ia jalani.

Setidaknya ada empat modal karier yang perlu dibangun seseorang ketika memutuskan untuk menjalani profesi tertentu. Empat modal karier tersebut adalah: kompetensi, kredensial, koneksi, dan portofolio. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama, Kompetensi

Profesi apa yang ingin Anda jalani? Menjadi seorang Coach? Professional Speaker? Trainer? Agen Asuransi? Apapun profesi yang ingin Anda jalani, Anda perlu kompeten menguasai pengetahuan dan skill-nya. Bila Anda tidak kompeten, orang akan kapok menggunakan jasa Anda. Semakin langka dan berharga kompetensi yang Anda kuasai, semakin mudah Anda bersaing di pasar karier yang ada.

Kedua, Kredensial

Kredensial adalah kualifikasi dan pencapaian pribadi yang membuktikan Anda kompeten dalam satu bidang tertentu. Bentuknya bisa berupa sertifikasi, penghargaan/award, atau professional membership yang Anda miliki. Kredensial membuat orang yakin dan percaya diri menggunakan jasa Anda. Seorang coach yang terakreditasi di ICF tentu lebih dipercaya dibanding mereka yang tidak. Agen asuransi yang memiliki kualifikasi RFP atau CFP tentu lebih dipercaya dibanding mereka yang tidak.

Ketiga, Koneksi

Menurut hipotesa saya, 80% order yang dihasilkan oleh seseorang saat memulai kariernya berasal dari relasi yang ia miliki sebelumnya. Artinya apa? Bila kita ingin menjalani karier sebagai seorang Executive Coach misalnya, maka kita perlu membangun jejaring dengan calon target market kita. Bergabung dengan Asosiasi Management Indonesia (AMA) misalnya. Berikan value di asosiasi tersebut. Tunjukkan bahwa diri Anda berharga.

Keempat, Portofolio

Sebagian besar klien akan menanyakan klien-klien yang pernah kita tangani sebelumnya. Ini berlaku di setiap profesi. Bahkan perusahaan yang merekrut fresh graduate pun akan menanyakan apakah kita pernah berorganisasi sebelumnya? Apakah kita pernah menjalani aktivitas yang mirip dengan posisi yang kita inginkan sebelumnya? Karena perusahaan ingin merekrut seseorang yang berpengalaman, bukan hanya berpengetahuan. Demikian juga klien, mereka ingin bekerjasama dengan professional yang berpengalaman, bukan hanya berpengetahuan. Jadi, tidak ada salahnya kita memulai jasa kita secara pro bono untuk mengumpulkan portofolio klien. Caranya bagaimana? Hanya kreativitas Anda yang membatasi.

Jadi, karier apa yang ingin Anda jalani? Sudahkah Anda mulai mengumpulkan keempat modal karier di atas? Jangan terjun bebas, meninggalkan profesi Anda sekarang berpindah ke profesi baru tanpa modal karier yang cukup. Perkuat modal karier Anda. Jadilah orang yang hebat, sehingga mereka tidak bisa mengabaikan Anda.

“Be so good, they can’t ignore You” ~Steve Martin

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.
[1] Newport, Cal. So Good They Can’t Ignore You: Why Skills Trump Passion in the Quest for Work You Love. Grand Central Publishing, Hachette Book Group 2012
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *