fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Aturan 10.000 Jam

2 min read

Sejak Malcolm Gladwell mengenalkan “Aturan 10.000 Jam” melalui bukunya[1] – orang-orang mulai mengetahui apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli. Bukan bakat, bukan kecerdasan melainkan kemauan untuk melakukan latihan dan pengulangan selama 10-20 tahunlah yang membuat seseorang ahli.

“Success has to do with deliberate practice. Practice must be focused, determined, and in an environment where there’s feedback.” ~Malcolm Gladwell

Sayangnya, baru sekadar mengetahui bukan memahami, apalagi mau melakukan. Bahkan, tidak sedikit yang salah memahami ini. Gladwell sendiri sebenarnya mengutip dari Anders Ericsson – seorang peneliti yang fokus meneliti perbedaan antara seorang ahli dengan seorang amatir.

Photo by Tomasz Gudzowaty
Photo by Tomasz Gudzowaty

Kesalahan paling fatal terkait “Aturan 10.000 Jam” ini adalah menganggap bahwa jika kita berlatih mengulang-ulang sesuatu selama 10.000 jam, maka kita akan ahli di sana. Practice makes perfect. Sayangnya, kebenarannya tidak demikian. Tidak sembarang latihan dan pengulangan mengantarkan ke keahlian. Anda perlu melakukan latihan dan pengulangan yang tepat. Dalam istilah Ericsson bukan sekadar practice melainkan deliberate practice – latihan yang terencana. Perfect practice makes perfect.

Pertanyaan utamanya, bagaimana sebenarnya melakukan deliberate practice? Bagaimana menerapkan “Aturan 10.000 Jam” untuk membangun sebuah keahlian? Saya pernah menuliskannya di blog ini beberapa waktu lalu (cek di sini). Kali ini saya akan tambahkan beberap poin agar kita dapat segera menerapkan “Aturan 10.000 Jam” segera.

Pertama, pilih beberapa keahlian yang ingin Anda kuasai

Anda mungkin memiliki beberapa minat, beberapa bidang yang ingin Anda kuasai. Silakan Anda pilih 3-5 keahlian terlebih dulu. Mulailah melatihnya satu per satu. Setelah Anda mulai menguasainya sampai di level lumayan (Aturan 20 Jam), mulailah pertimbangkan di bidang mana Anda ingin menjadi ahli. Pilih satu bidang yang akan Anda tekuni 10 tahun ke depan. Pilih satu keahlian yang ingin Anda kuasai selama 10.000 jam ke depan.

Kedua, tetapkan standar keahlian

Seperti apakah level keahlian yang ingin Anda capai? Seperti apakah performance level master yang ahli di bidang tersebut? Apa yang Anda lihat? Apa yang Anda dengar? Tetapkan ukuran pencapaian yang ingin Anda capai. Dengan demikian, Anda memiliki standar untuk mengevaluasi pencapaian Anda.

Ketiga, temukan mentor

Seringkali kita tidak paham standar seperti apa yang seharusnya kita capai. Untuk itulah kita memerlukan seorang mentor. Orang yang sudah lebih dulu berjalan di jalan ini sebelumnya. Orang yang sudah mencapai keahlian yang kita harapkan. Mentor ini akan menjadi pembimbing kita, menunjukkan kemana seharusnya kita menuju, memberikan umpan balik terhadap pencapaian kita.

Keempat, lakukan pengulangan dengan cara yang lebih baik

Pengulangan saja tidak membuat Anda menjadi seorang ahli. Anda perlu membandingkan hasil pengulangan Anda dengan standar yang sudah ditetapkan. Menemukan dimana gap-nya, lalu mengulangi latihannya dengan perbaikan. Di sinilah pentingnya umpan balik. Tanpa umpan balik, Anda tidak akan mengalami kemajuan yang berarti. Jadi, lucu bila ada seseorang yang berlatih dan menghindari umpan balik – dipastikan ia tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan saat berlatih. Ericsson di bukunya[2] mengenalkan metode 3 F berikut:

  • Focus – fokus pada performance level yang Anda inginkan
  • Feedback – dapatkan umpan balik yang obyektif
  • Fix It – analisa apa yang salah, lalu perbaiki

Kelima, fokus pada “doing” bukan sekadar “knowing”

Penguasaan keahlian adalah tentang “doing” bukan sekadar “knowing.” Mengetahui banyak hal berbeda dengan mampu melakukannya. Mengetahui berbeda dengan melakukan. Membaca buku tentang tennis tidak membuat Anda menjadi petenis hebat. Membaca buku tentang kung fu tidak membuat Anda menjadi ahli kung fu. Membaca banyak buku tentang coaching tidak membuat Anda menjadi seorang coach hebat. Anda perlu berlatih – praktik secara fisik – agar Anda ahli di bidang tersebut. Sehingga pengetahuan Anda tidak hanya mengendap di dalam pikiran, namun menyerap ke dalam tubuh.

“Excellence demands effort and planned, deliberate practice of increasing difficulty” ~Anders Ericsson

[1] Gladwell, Malcolm. Outliers. Little, Brown and Company. 2008

[2] Ericsson, K. Anders. Peak: Secrets from the New Science of Expertise. Boston: Houghton Mifflin Harcourt. 2016
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *