fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Apakah Anda Memiliki Grit?

1 min read

Grit adalah salah satu kunci kesuksesan seseorang, setidaknya itulah hasil penelitian dari Angela Duckworth – profesor psikologi di Universitas Pennsylvania[1]. Seperti pernah saya tuliskan di artikel yang lalu, grit adalah perseverance (ketekunan) dan passion (gairah) untuk menuntaskan sebuah tujuan jangka panjang. Pertanyaannya, jika memang grit adalah kunci sukses, dapatkah kita mengembangkannya?

Apakah-Anda-memiliki-Grit

“Saya pikir, orang dapat belajar bagaimana memiliki grit,” kata Duckworth. Huff… beruntunglah Duckworth adalah pendukung Growth Mindset yang meyakini bahwa kualitas diri dapat diubah. Jadi, grit bisa dikembangkan. Pertanyaan berikutnya, bagaimana caranya?

Duckworth menyarankan kita untuk mengenali dulu empat area grit. Jika Anda memiliki keempatnya, itu artinya Anda memiliki grit. Jika belum, tandai di area mana Anda perlu mengembangkannya. Berikut empat area grit menurut Duckworth.

Pertama, Anda memiliki sebuah minat yang menggairahkan Anda

Orang-orang menyebutnya dengan passion. Apa aktivitas yang tidak pernah membuat Anda bosan melakukannya? Apa aktivitas yang Anda mau melakukannya setiap hari? Hal apa yang membuat Anda mau untuk “menderita” dalam memperjuangkannya? Jika Anda tidak dapat menjawabnya, inilah saatnya Anda menemukan dan mengembangkannya. Anda bisa mulai dengan menulis seluruh aktivitas yang pernah Anda lakukan, lalu beri skor 1-10 tingkat gairah Anda saat Anda memikirkan, melakukan dan menceritakannya ke orang lain.

Kedua, lihat kemunduran (setback) sebagai prasyarat kesuksesan

Banyak orang kecewa saat menghadapi kemunduran. Mereka menganggapnya sebagai kegagalan yang permanen. Tentu saja, ini tidak tepat. Kegagalan tidaklah permanen melainkan sementara. Kita jatuh, membuat kesalahan, dan gagal adalah normal, tidak terhindarkan. Bahkan, seringkali diperlukan. Semua setback ini adalah bagian dari proses. Anda bisa belajar banyak dari setback yang terjadi. Jadikan kegagalan sebagai umpan balik yang berharga untuk mencapai kesuksesan Anda.

Ketiga, temukan cara untuk membuat pekerjaan Anda bermakna

Mengejar tujuan yang bermakna adalah salah satu kunci kepuasan dalam hidup. Menariknya, hal ini juga meningkatkan performance kita. Artinya, jangan hanya bekerja untuk diri sendiri. Pikirkan, bagaimana membuat pekerjaan Anda berdampak positif pada orang lain di sekitar Anda. Pikirkan bagaimana Anda dapat memberi manfaat pada banyak orang, bukan hanya mengejar kepentingan pribadi saja.

Keempat, percaya bahwa Anda dapat berubah dan bertumbuh

Ketika seseorang menghadapi kegagalan, mereka menyerah karena mereka berpikir bahwa ini adalah pertanda bahwa mereka tidak berbakat di sana. Sebuah pola pikir fixed mindset. Ini adalah pola pikir yang kurang tepat. Sadari bahwa jika kita mau, kita bisa berubah. Jika kita mau, kita bisa bertumbuh.

Perhatikan keempat area di atas. Sudahkah Anda memiliki keempatnya? Lalu, di area mana Anda merasa perlu untuk melatih dan mengembangkannya?

“The difference between a successful person and others is not a lack of strength, not a lack of knowledge, but rather a lack in will.”
― Vince Lombardi Jr.

[1] Duckworth, A.L.; Peterson, C.; Matthews, M.D.; Kelly, D.R. (2007). "Grit: Perseverance and passion for long-term goals" (PDF). Journal of Personality and Social Psychology.
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *