fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mindset dan Penguasaan Keahlian (Mastery)

1 min read

Di artikel yang lalu, saya sempat menceritakan bahwa orang-orang yang memiliki Fixed Mindset lebih cepat mengalami learning plateau dibandingkan dengan pemilik Growth Mindset. Hal ini terjadi karena pada saat mereka belajar dan berlatih, salah satunya berhenti lebih cepat. Alasannya setidaknya ada dua kemungkinan:

  • Pertama, mereka mengalami kesulitan. Lalu berhenti karena menganggap dirinya tidak berbakat.
  • Kedua, mereka cepat puas dengan penguasaannya. Menganggap dirinya berbakat. Sehingga mereka berhenti belajar. Merasa bahwa dirinya sudah mampu, sudah hebat, sudah terlatih.

mindset-dan-penguasaan-keahlian-mastery

Meski kesannya bertolak belakang, dua-duanya adalah ciri Fixed Mindset: malas bertumbuh, berhenti belajar.

Tentu saja ini berisiko. Setidaknya ada dua risiko.

Risiko Pertama: Kita tidak mencapai potensi optimal kita.

Kita stuck di level yang tidak seharusnya. Katakanlah kita belajar skill coaching, potensi kita misalnya bisa mencapai level 9 (Darimana kita tahu? Ini hanya ilustrasi. Kita tidak akan pernah tahu di level mana potensi kita sampai kita mencoba dengan maskimal). Namun karena kesulitan di level 3, kita menyerah, lalu berhenti. Ini namanya menyia-nyiakan potensi. Karena sebenarnya kita bisa mencapi level 9.

Penguasaan sebuah skill hampir selalu melalui kurva sigmoid sebagai berikut[1]:

Hypnothetical S-Shaped Learning Curve With a Plateau
Hypnothetical S-Shaped Learning Curve With a Plateau

Seringkali orang-orang dengan Fixed Mindset mengalami learning plateau lebih cepat. Padahal, learning plateau sebenarnya ada setelah keahliah dikuasai secara penuh.

Risiko Kedua: Kita tidak akan mencapai penguasaan keahlian (mastery) yang sebenarnya.

Penguasaan kita hanya penguasaan semu. Merasa diri ahli, padahal belum ada apa-apanya. Karena kita tidak mau mengalami kepedihan saat berlatih. Padahal, para master di bidang apapun, rata-rata menginvestasikan waktu 10.000 jam untuk mencapai keahlian tersebut. Mereka mau melakukan deliberate practice bertahun-tahun demi menguasainya. Master Oyama, pendiri Kyokushin Karate, pernah berkata: jalan beladiri dimulai dengan 1000 hari berlatih dan dikuasai setelah 10.000 hari latihan.

Dalam konsep penguasaan keahlian, ada sebuah hukum yang dikenal dengan Dunning-Kruger Effect[2].  Dalam bahasa teknis Dunning-Kruger Effect adalah bias kognitif ketika seseorang yang inkompeten mengalami superioritas ilusif, ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain pada umumnya.

dunning-kruger-effect

Dalam bahasa awam, orang yang baru belajar sedikit jauh lebih percaya diri dibandingkan mereka yang belajar lebih banyak. Kompetensi membuat orang semakin tidak percaya diri (baca: rendah hati) – merasa dirinya baru tahu sedikit hal sehingga dia mau belajar lebih banyak. Sikap inilah yang mengantarkan dia pada penguasaan keahlian (mastery) yang sebenarnya.

“One becomes a beginner after 1000 days of training. One becomes a master after 10,000 days of practice.” ~Masutatsu Oyama

[1] Futrell, Charles. Sales Management: Teamwork, Leadership adn Technology, Harcourt Brace College, 1997

[2] Kruger, Justin; David Dunning. "Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments". Journal of Personality and Social Psychology, 1999
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *