fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Bagaimana Membangun Personal Branding yang Sebenarnya

3 min read

man in black suit sitting on chair beside buildings

Brand adalah persepsi pelanggan tentang diri kita. Persepsi ini dibentuk oleh pengalaman pelanggan dengan kita. Persepsi yang terbentuk kemudian memicu emosi tertentu yang membuat pelanggan membeli atau tidak membeli produk kita. Sebagaimana disampaikan oleh Seth Godin:

“Brand adalah seperangkat harapan, ingatan, cerita, dan hubungan, yang keseluruhannya bertanggungjawab atas keputusan pelanggan untuk memilih satu produk atau layanan melebihi dari produk dan layanan lainnya.”

Seth Godin

Bila kita bicara dalam konteks pribadi, kita mengenal istilah personal branding. Personal branding adalah salah satu faktor yang menentukan kesuksesan karier profesional seseorang. Personal branding adalah  bagaimana orang lain (klien, calon klien, rekan kerja, atasan, dsb) mempersepsikan diri kita secara personal maupun profesional. Membangun personal branding adalah membangun persepsi orang lain terhadap kita.

Istilah persepsi ini kadang juga diistilahkan dengan citra atau gambaran. Proses membangun persepsi atau citra inilah yang kita kenal dengan istilah pencitraan. Namun, pencitraan yang dilakukan tanpa integritas justru bisa jadi bumerang. Orang akan membandingkan pencitraan kita dengan pengalaman nyata mereka.

Bila pengalaman mereka dengan kita bertentangan dengan apa yang kita citrakan maka kepercayaan orang terhadap kita akan hancur — personal brand kita juga ikut terseret. Pengalaman orang lain dengan diri kita jauh lebih berpengaruh daripada cerita dan citra yang kita tunjukkan.

Di titik inilah kemudian saya berpikir, kita perlu memahami personal branding secara lebih esensial. Bahwa branding bukan sekadar pencitraan. Branding bukan sekadar mengumbar janji, branding juga tentang bagaimana kita memenuhi janji. Branding adalah tentang membangun pengalaman orang lain dengan kita. Pengalaman yang terbentuk inilah yang akan menjawab apakah janji tersebut kita penuhi atau tidak. Gambarannya begini, kita bisa saja mencitrakan diri kita sebagai expert di bidang kinerja (dengan mengenakan julukan “performance expert” misalnya) sehingga klien pun tertarik dengan kita. Namun, pencitraan saja tidak bisa menjadi penentu apakah klien akan berlanjut menggunakan jasa kita dan merekomendasikan ke koleganya atau justru kapok dengan kita. Penentunya adalah pengalaman mereka dengan kita — apakah kita bisa mendeliver sesuai yang kita janjikan atau tidak. Bila sesuai, maka persepsi awal akan terkuatkan dengan adanya pengalaman tersebut. Sebaliknya, bila tidak sesuai, mereka akan menganggap bahwa persepsi mereka salah.

Maka, menurut saya sebuah personal branding yang sebenarnya terbentuk dari tiga elemen:

  1. Expertise — keahlian.
  2. Portfolio — karya dan hasil kerja.
  3. Story — cerita.

Mari kita bahas satu per satu.

3 Elemen Personal Branding

Expertise (Keahlian)

Secara umum, kinerja seseorang dalam menuntaskan pekerjaaannya adalah fungsi langsung dari keahliannya. Seorang profesional perlu menguasai keahlian tertentu yang dapat membantunya untuk menyelesaikan pekerjaan. Seorang Financial Planner misalnya, ia tentu perlu punya pengetahuan dan skill financial planning. Seorang Coach, ia perlu menguasai skill coaching dengan baik. Manajer, ia perlu kompeten dalam mengelola anak buahnya (termasuk memotivasi dan menggerakkan mereka). Artinya, mau tidak mau, seorang profesional perlu menjadi ahli di bidangnya. Dan ini belum berhenti, ia pun perlu terus memperbaharui keahliannya. Mengapa? Karena keahlian dalam sebuah bidang itu tidak statis, ia berkembang mengikuti zaman.

Personal branding tanpa expertise itu bagaikan bungkus tanpa isi. Untuk membangun personal branding yang berintegritas, kita juga perlu membangun isinya. Menariknya, menurut Dunning Krueger, saat seseorang baru menguasai sedikit keahlian biasanya merasa lebih ahli daripada mereka yang benar-benar kompeten. Maka, tak heran banyak orang di luar sana yang sebenarnya tidak terlalu kompeten namun mereka percaya diri menggelari dirinya dengan sebutan-sebutan yang wah. Sebaliknya, kita yang sudah ahli justru malu menggelari diri kita dengan sebutan semacam itu.

Portfolio (Portofolio)

Elemen personal brand berikutnya adalah portofolio. Portofolio adalah kumpulan karya atau hasil pekerjaan. Alih-alih sibuk dengan pencitraan, saya lebih merekomendasikan diri kita untuk sibuk membangun portofolio. Misalnya, portofolio karya, kita bisa membangunnya bentuk:

  • Artikel atau tulisan (ke depannya, kita bisa kumpulkan menjadi sebuah buku).
  • Podcast
  • Video

Portofolio ini akan menyuarakan keahlian Anda lebih keras daripada suara Anda sendiri. Selain portofolio karya, kita juga bisa membangun portofolio dengan bekerja volunteer atau probono. Berikan layanan gratis terkait keahlian Anda bagi orang atau komunitas yang membutuhkan. Ini akan memberikan tiga manfaat. 

  1. Menajamkan keahlian Anda;
  2. Membentuk pengalaman profesional;
  3. Membangun jejaring dan kepercayaan dengan klien potensial.

Di level berikutnya, portofolio yang kita bangun adalah portofolio proyek dan klien. Daftar proyek yang berhasil kita tangani serta daftar klien yang pernah kita pegang.

Membangun portofolio adalah cara terbaik untuk menguatkan personal branding kita. Ini adalah cara terbaik untuk mengomunikasikan keahlian yang kita kuasai.

Artikel terkait

Story (Cerita)

Elemen terakhir yang dibutuhkan untuk membangun personal branding adalah story atau cerita. Dalam pengalaman saya, ini adalah elemen yang baru saya sadari di kemudian hari. Saat membangun karier, dulu saya hanya fokus pada expertise dan portofolio. Namun, saya lupa membagikan cerita. Padahal, cerita lah yang membuat orang tertarik dan mau mendengarkan kita. Sebut saja kawan saya, Dewa Eka. Ia sangat mumpuni dalam bercerita, kegagalan dan utang 7 Milyarnya ia jadikan cerita untuk “mengangkat” personal brand-nya di awal kariernya. Kita juga bisa melihat Tony Robins, ia mengangkat cerita dirinya sebagai “tukang kosek WC” yang overweight dan tidak punya pasangan — lalu ia berubah setelah belajar NLP. Cerita akan mengomunikasikan keahlian dan pengalaman kita secara halus dan tersamar.

Manusia pada umumnya menyukai cerita. Apalagi cerita yang relate dengan dirinya. Cerita transformasi, perubahan, dan keajaiban. Cerita yang mengandung before dan after. Orang akan bercermin dengan cerita kita, ketika ceritanya relate dengan dirinya, mereka akan tertarik untuk mengikuti, lalu terinspirasi untuk belajar dari kita.

Cerita adalah elemen yang dibutuhkan untuk mengomunikasikan keahlian dan portofolio kita dengan lebih halus. Ia akan membungkus isi dengan bungkus yang menarik ketika disajikan.

Nah, dari ketiga elemen ini. Mana elemen yang perlu Anda kuatkan? Expertise? Portofolio? atau Story?

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Bagaimana Membangun Personal Branding yang Sebenarnya”

  1. Sepakat…bagus sekali mas Aji, izin jadi bagian materi pembelajaran murid2 saya di Kelas Bakat. Kadang kita sibuk menghabiskan waktu untuk menjadi Expert lalu merasa sudah punya personal branding, padahal masih ada dua komponen lagi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *