fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Proses Membangun Keahlian: Dari Newbie sampai Expert

5 min read

man kicking heavy bag

Apa perbedaan antara seorang master kungfu dengan seorang pemula yang baru belajar kungfu? Sangat nyata. Seorang master sangat menguasai keahliannya, sehingga ia dapat melakukan sebuah gerakan jurus tanpa memikirkannya. Berbeda dengan seorang pemula, mereka masih harus bekerja keras mengingat-ingat gerakan jurus yang dihafalnya. Ya, setiap orang menguasai sebuah keahlian di level yang berbeda-beda.

Jika Anda membaca blog ini, saya mengasumsikan bahwa Anda ingin bertumbuh. Anda tidak ingin stagnan. Anda ingin mengembangkan diri Anda. Dan salah satu bentuk pengembangan diri terbaik adalah mempelajari keahlian baru. Sayangnya, proses mempelajari ilmu baru tidak selalu jelas. Informasi memang berserakan di internet, namun tidak jelas tahapannya. Maka, kita perlu paham tahapan dalam penguasaan sebuah keahlian.

Salah satu yang bermanfaat dalam hal ini adalah Dreyfus Model. Dengan Dreyfus Model kita menjadi paham tahapan dalam menguasai keahlian apapun. Entah belajar bahasa baru, menguasai skill coaching, menjadi penulis, atau menjadi pemasar yang lebih baik.

Dreyfus Model dapat kita gunakan untuk panduan kita dalam mempelajari sebuah skill secara lebih sistematis. Dreyfus Model awalnya dikenalkan oleh Hubert Dreyfus dan Stuart Dreyfus pada tahun 1980. Model ini kemudian diperbaharui oleh Stuart Dreyfus pada 2011. Menurut Dreyfus Model, penguasaan seseorang terhadap sebuah keahlian terdiri dari lima level:

  1. Novice
  2. Advanced Beginner
  3. Competent
  4. Proficient
  5. Expert

Mari kita bahas satu per satu.

Level of Mastery

Pertama, Novice.

Novice, atau orang sering mengistilahkan dengan newbie, adalah level ketika kita belum tahu apa-apa. Kita tidak paham dengan apa yang kita lakukan. Kita memiliki sedikit pengalaman atau bahkan tidak berpengalaman sama sekali dalam keahlian ini.

Pengalaman, menurut Dreyfus, tidak bergantung dari berapa banyak pengulangan yang dilakukan serta berapa lama seseorang melakukan sesuatu. Pengalaman mengacu pada perubahan perspektif dan cara berpikir dalam diri seseorang. Banyak orang yang bekerja di posisi yang sama bertahun-tahun tetapi tetap saja dia tidak bertumbuh, keahlian yang terkait pekerjaannya tetap tidak terasah. Dengan kata lain, ia tidak berhasil mendapatkan pengalaman selama bekerja. Saat seseorang bekerja selama sepuluh tahun, apakah ia benar-benar berpengalaman sepuluh tahun? Atau jangan-jangan hanya pengalaman setahun yang diulang sepuluh kali?

Ketika kita berada di level ini, kita perlu mempelajari aturan, teknik, atau prosedur) yang dapat kita ikuti tanpa perlu memperhatikan konteksnya terlebih dahulu.

Misalnya, saat belajar coaching, kita bisa gunakan kerangka kerja GROW:

  • Goal: mulai dari menetapkan tujuan;
  • Realities: kenali situasi saat ini terkait tujuan;
  • Options: eksplorasi pilihan-pilihan untuk mewujudkan tujuan;
  • Will: pilih satu langkah pertama yang akan dilakukan.

Contoh lain, saat belajar public speaking, kita bisa gunakan rumus ABCD:

  • Aha: awali dengan pembukaan yang menarik perhatian;
  • Bahas: jelaskan poin-poin bahasan Anda;
  • Contoh: berikan contoh tiap poin;
  • Dengan demikian: akhiri dengan kesimpulan.

Saat awal belajar menulis, kita bisa gunakan esai 5 praragraf

  • 1 paragraf pembuka yang menyebutkan tiga poin bahasan;
  • 3 paragraf isi yang menjelaskan masing-masing poin di paragraf pembuka;
  • 1 paragraf penutus sebagai kesimpulan.

Aturan-aturan di atas membantu kita untuk mengawali belajar sebuah keahlian. Kemudian melakukan monitoring untuk memastikan prakti/perilaku kita sesuai dengan aturan yang kita pelajari. Proses monitoringnya bisa dilakukan dengan self-observation (mengobservasi diri sendiri) atau instructional feedback (meminta umpan balik dari ahli).

Namun, kita tidak akan disebut sebagai orang yang mahir atau ahli di bidang tersebut hanya dengan menguasai aturan-aturan di atas saja. Kenapa? Karena seringkali aturan di atas tidak berlaku ketika konteksnya berubah. GROW tidak efektif untuk mengcoaching hal-hal terkait isu mindset atau emosi, rumus ABCD tidak berlaku dalam konteks presentasi bisnis, esai 5 paragraf tidak cukup untuk menghasilkan sebuah buku.

Kedua, level Advanced Beginner.

Di tahap ini kita mulai belajar mengaplikasikan aturan ke situasi nyata. Kita juga mungkin akan menerapkan aturan, teknik, atau prosedur ke dalam konteks yang berbeda. Dalam proses ini, sangat mungkin kita mengalami kesalahan. Dari kesalahan inilah kita belajar sesuatu, kita mendapatkan pengalaman. Kita menjadi sadar bahwa ternyata aturan yang kita pelajari tidak selalu berlaku dalam setiap situasi. Pengalaman ini membuat kita menjadi tahu apa yang perlu dilakukan dalam situasi yang berbeda.

Misalnya, saat mengcoaching isu terkait kondisi emosi, kita mungkin masih menggunakan GROW. Lalu kita sadar, tidak bisa menggunakan GROW secara kaku. Kita lalu belajar dan beradaptasi, pada tahap R (Realities) kita mengajak coachee untuk merasakan kembali emosinya saat ini — bukan hanya mengajak mereka memikirkan perasaannya.

Demikian pula saat presentasi bisnis, kita mungkin masih menggunakan rumus ABCD. Namun di tahap B kita mengubahnya menjadi tiga alasan mengapa klien akan suka dengan produk kita, dan di tahap C kita akan ceritakan pengalaman klien lain yang puas dengan kita.

Kemudian saat menulis menggunakan esai 5 paragraf, kita sudah mulai bisa menyesuaikannya tergantung topik yang kita bahas di tulisan kita.

Di level ini kita mulai merasa percaya diri dalam melakukan pekerjaan terkait keahlian tersebut. Namun, jika ada yang tidak beres ada kecenderungan kita menyalahkan situasi atau aturannya. Ini terjadi karena di level ini awalnya kita belum menyadari bahwa sebuah aturan tidak bisa diterapkan dalam segala situasi.

Di level ini kita juga belum menghasilkan sesuatu yang luar biasa, kita masih bergantung pada aturan dan teknik. Namun tidak apa-apa, kita berada di jalur yang benar

Ketiga, level Competent.

Level kompeten adalah level ketika kita sudah banyak melakukan praktik dalam berbagai situasi. Kita juga menguasai banyak aturan, teknik, serta prosedur sehingga kita memiliki banyak pilihan. Namun, banyaknya aturan yang kita kuasai kadang justru membuat kita kewalahan dan kebingungan. Kita seringkali masih perlu berpikir keras untuk memilih mana aturan yang tepat untuk digunakan dalam situasi tertentu. Namun saat kita berhasil mengambil keputusan yang tepat, kita akan merasa puas dan gembira.

Sebagai coach, kita sudah menguasai banyak teknik untuk mengklarifikasi, memberikan refleksi, merangkum, dsb. Namun kita masih kadang bingung kapan situasi yang tepat untuk menerapkannya.

Sebagai pembicara kita sudah tahu teknik story telling, analogi, pertanyaan retoris. Namun, kadang masih harus berpikir mana yang perlu diterapkan saat ini.

Penulis yang kompeten sudah tahu teknik metafora, aliterasi, rima, dsb. Namun kita kadang kala masih kewalahan untuk menerapkannya dalam tulisan.

Seseorang naik ke level ini ketika ia telah mengumpulkan pengalaman. Berbagai pengalaman membuat kita melakukan kesalahan dan kita pun mencari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Kita mampu memecahkan masalah yang terjadi, juga mampu merencanakan apa yang akan dilakukan ke depannya untuk mengantisipasi masalah yang sebelumnya. Kita mulai bisa mengaplikasikan kemampuannya secara efektif. Kita juga mulai memahami konteks, kapan sebuah teknik efektif dilakukan dan kapan sebuah teknik tidak efektif dilakukan. Kita bisa bekerja secara efisien, terorganisir, dan mengetahui apa yang kita lakukan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Kita juga memiliki rasa tanggung jawab, berhenti menyalahkan pihak lain, dan berpikir dengan fokus pada solusi.
Kompleksitas sebuah pekerjaan menentukan kecepatan seseorang mencapai tingkat kompetensinya. Menurut Dreyfus, seseorang membutuhkan sekitar 2 hingga 3 tahun untuk menjadi kompeten di bidangnya. Namun, sekali lagi waktu yang dibutuhkan tergantung dari jenis pekerjaannya. Misalnya, untuk menjadi ahli bedah yang kompeten, mungkin saja membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun. Namun, seorang pemasar bisa saja mempelajari banyak pengetahuan dan keterampilan dalam tiga tahun saja.

Di level ini, meskipun kita banyak melakukan kesalahan namun pelan-pelan kita belajar banyak darinya.

Keempat, level Proficient.

Seseorang yang berada di level ini bisa melihat gambaran yang lebih besar. Mereka memahami esensi dari apa yang dilakukannya. Kadang kala, mereka yang di level ini merasa frutrasi ketika melihat hal yang terlalu disederhanakan. Seseorang dinyatakan proficient ketika ia mampu melakukan perbaikan diri. Ia tidak hanya belajar dari kesalahannya, ia juga bisa menandai kesalahan orang lain dengan tepat.

Kita sudah menguasai keahlian kita dengan sangat bagus. Kita tahu dengan tepat apa yang perlu dilakukan dalam situasi tertentu. Mungkin kita masih harus menganalisis apa yang harus dilakukan, namun kita tidak lagi bimbang dalam memilihnya.

Dalam mengcoaching, kita bisa berpindah dari satu teknik ke teknik lainnya dengan sangat halus. Saat satu teknik dianggap tidak efektif, kita secara fleksibel mengubah teknik tanpa disadari oleh coachee.

Saat berbicara di depan publik, kita bisa menyesuaikan contoh dan analogi sesuai dengan pendengarnya. Ketika satu contoh dirasa tidak tepat, dengan melihat reaksi pendengar kita bisa memberikan contoh lain yang lebih relevan.

Saat menulis, kita menulis lalu menyadari — kalimatnya terdengar kurang pas. Lalu, kita pun tahu apa yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya.

Kita tidak akan sampai di level proficient tanpa banyak pengalaman. Kita tidak bisa meretas untuk sampai di level ini. Butuh latihan terencana dalam waktu yang panjang.

Kelima, level Expert.

Level ketika seseorang menjadi ahli di bidangnya. Di tahap ini, seseorang sudah menjadi sumber informasi dan pengetahuan. Pengalaman mereka juga begitu luas sehingga orang pun memandang mereka. Pekerjaan yang dilakukan oleh expert didasarkan pada intuisinya.

Saat kita masuk ke level ini, intuisi kita akan sangat tajam. Sehingga kita mampu mengeksekusi sebuah keahlian tanpa harus memikirkannya. Kita masuk dalam tahap unconscious competence. Saat kita masuk ke level ini, kita akan memiliki visi tentang apa yang mungkin bisa dilakukan dengan keahlian kita.

Bisa dikatakan di level ini kita tidak lagi terikat dengan aturan, teknik, atau prosedur. Semua dilakukan berdasar intuisisnya. Seringkali praktisi tidak sadar menerapkan aturan yang sesuai. Mereka sangat fleksibel.

Level proficient dan expert sekilas terlihat sama. Perbedaannya memang samar, namun perbedaan yang samar inilah yang menjadi kunci. Perbedaannya ada pada intuisinya.

Apa yang dilakukan oleh ahli nampak effortless. Bahkan ajaib bagi sebagian orang.

Sekarang, periksa keahlian yang Anda miliki. Ada di level mana kah keahlian Anda saat ini?

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *