fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mengatasi Kebosanan

2 min read

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ditanya oleh salah satu peserta training Mendesain Hidup: “Mas, kenapa saya seringkali bosan melakukan hal yang sama berulang-ulang, padahal saya tahu aktivitas itu adalah hal yang penting? Bagaimana cara mengatasinya?” Hmm, ini pertanyaan menarik, karena hal ini pun kadangkala terjadi pada diri saya. Bagaimana cara kita mengatasinya? Mari kita bahas.

Saya menemukan, kita mengalami kebosananan setidaknya karena tiga hal.

Pertama, aktivitas tersebut belum menjadi sebuah kebiasaan.

Kedua, kita merasa tidak tertantang lagi melakukan aktivitas tersebut.

Ketiga, kita mulai kehilangan makna dalam melakukannya.

Mari kita bahas satu per satu.

Kebiasaan

Bila sebuah aktivitas belum menjadi sebuah kebiasaan, otak kita memerlukan energi yang besar untuk melakukannya. Willpower yang digunakan lebih besar, sehingga energi kita menjadi terkuras. Wajar, bila di satu titik kita merasa bosan. Kebosanan adalah tanda energi kita sudah sangat rendah, butuh diisi ulang dayanya. Maka, saat kita bosan beristirahatlah. Isi kembali daya kita sehingga kita dapat melakukan aktivitas tersebut saat daya kita terisi kembali.

Tantangan

Kebosanan juga dapat terjadi saat kita tidak lagi merasa tertantang melakukan sebuah aktivitas. Pernah dengar riset Prof. Mihaly Csikszentmihalyi terkait kondisi flow? Menurut Mihaly, kondisi flow akan terjadi saat kita melakukan aktivitas yang memenuhi dua unsur:

  • Kita punya kemampuan untuk melakukannya.
  • Kita merasa tertantang saat melakukannya.

Jadi tingkat kemampuan yang dimiliki dan tingkat tantangannya seimbang. Saat tantangan terlalu tinggi sementara kemampuan kita jauh di bawahnya, flow akan hilang dan kecemasan akan muncul. Sebaliknya saat kemampuan kita jauh di atas sementara tantangannya terlalu rendah maka kebosanan lah yang akan muncul. Jadi bosan adalah tanda kurangnya tantangan.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai solusinya? Tentu saja tingkatkan tantangannya. Dengan cara apa?

  • Tingkatkan kuantitasnya.
  • Tingkatkan kualitasnya.
  • Perpendek durasinya.

Contoh, misalnya bosan push up 10x di pagi hari:

  • Coba naikkan ke 25x (kuantitas).
  • Ubah dari push up biasa menjadi push up diamond (kualitas).
  • Push up 10x dalam waktu 30 detik, coba diperpendek ke 20 detik (durasi).

Contoh lain, misalnya bosan menulis 500 kata setiap hari:

  • Coba naikkan jadi 1000 kata setiap hari.
  • Dari menulis 500 kata tanpa referensi, menjadi 500 kata dengan minimal mencantumkan satu referensi.
  • Dari menulis 500 kata dalam waktu 30 menit, coba diperpendek 500 kata dalam 20 menit.

Mengubah kuantitas, kualitas dan durasi akan meningkatkan tantangan dari aktivitas yang kita lakukan.

Makna

Terakhir, kebosanan bisa juga muncul karena kita mulai kehilangan makna atas apa yang kita lakukan. Misal, kita merasa sholat kita sudah berubah jadi rutinitas yang “membosankan,” maka kita perlu perbaharui maknanya. Dengan cara apa? Tentu saja setiap orang berbeda. Ada yang dengan cara menggali hikmah di balik sholat, ada pula dengan mengkaji makna bacaan sholat. Saya teringat salah satu ceramah ustadz Nouman Ali Khan, bahwa hidayah/petunjuk bukanlah sesuatu yang menetap. Ia bisa datang dan pergi, maka kita perlu memintanya setiap hari. Itulah hikmah kenapa kita membaca surat Al Fatihah 17x setiap hari. Di sana ada ayat yang merupakan do’a agar kita diberikan hidayah “Ihdinash shirat al mustaqiiim…” – tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. Ketika mendengar ceramah ini, saya mendapat makna baru ketika membaca surat al fatihah di dalam sholat.

Mungkin ini rahasinya mengapa kita perlu memberikan asupan bergizi pada pikiran kita dengan membaca buku dan mendengarkan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat. Bukan sekadar untuk menambah ilmu namun untuk menguatkan pemaknaan kita terhadap apa yang kita lakukan selama ini.

Maka, bila kebosanan kita berasal dari lunturnya pemaknaan, kita perlu secara berkala memperbaharui pemaknaan kita terhadap aktivitas tersebut. Dengan cara apa? Bergaul dengan orang-orang yang menginspirasi kita, membaca buku, menyimak audio video pembelajaran dan sebagainya.Kita juga dapat memperbaharui makna terkait aktivitas kita dengan menghubungkan kembali aktivitas tersebut dengan visi atau tujuan jangka panjang kita. Sehingga kita menemukan kembali alasan mengapa kita melakukan ini semua.

Nah, terkait kebosanan Anda, mana yang menjadi penyebabnya? Apakah karena ia belum menjadi sebuah kebiasaan atau karena Anda merasa kurang tertantang atau Anda merasa mulai kehilangan makna saat melakukannya? Mudah-mudahan, tulisan ini membantu Anda dan bermanfaat bagi kehidupan Anda.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *