fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Memerdekakan Diri

2 min read

Sudahkah kita merdeka? Menurut KBBI, merdeka artinya bebas (dari penghambaan atau penjajahan), tidak terikat atau tidak bergantung. Pertanyaan besarnya, apakah benar manusia adalah makhluk yang merdeka? Atau ia adalah makhluk yang terikat dan memiliki kebutuhan menghamba?

Dari buku-buku motivasi, kita belajar bahwa manusia memiliki free of will – kehendak bebas. Ia memiliki kebebasan menentukan takdirnya sendiri: mau meraih apa dan mau menjadi apa. Kita 100% menentukan kehidupan kita, begitu katanya. Jika memang demikian, lalu dimana takdir diletakkan? Bukankah meyakini takdir adalah bagian dari keimanan?

Sementara itu, dalam menyebut diri kita, kita melekatkan diri kita pada posisi hamba/budak. Perhatikan istilah yang kita gunakan dalam bahasa Indonesia: “saya” diambil dari kata “sahaya” yang artinya budak. Dalam bahasa Sunda, “abdi” diambil dari bahasa Arab “abd” yang artinya hamba/budak. Dalam bahasa Jawa, “kulo” diambil dari kata “kawulo” yang artinya juga budak. Jadi, kita menyebut diri kita sebagai budak/hamba, pertanyaannya hamba siapa?

Saya ingat, dulu saat mengikuti kajiannya Bang Imad di masjid Salman, beliau menyebutkan bahwa manusia memiliki kebutuhan menghamba. Disadari atau tidak, manusia akan mencari “sesuatu” untuk disembah, dipuji, dicintai dan diikuti dengan sepenuh hati. Dalam bahasa Arab, kita mengistilahkan “sesuatu” yang disembah, dipuji, dicintai dan diikuti ini dengan sebutan “ilah,” istilah lainnya tuhan, berhala, atau idol. Nah, banyak dari manusia yang salah memilih “ilah”. Ada yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “ilah,” ada yang menjadikan uang sebagai “ilah,” ada yang menjadikan tokoh pujaannya sebagai “ilah.” Inilah yang diberantas dan dihilangkan saat kita menjadi seorang muslim. Gerbang menjadi seorang muslim adalah membaca dua kalimat syahadat (persaksian). Pada kalimat pertama kita bersaksi untuk meniadakan “ilah” atau “tuhan” yang tak layak, membebaskan diri dari penghambaan yang tidak tepat: “laa ilaha…” Lalu, kita diarahkan untuk menghamba pada satu-satunya penghambaan yang layak yaitu menghamba kepada Allah: “illa-Allah.” Bebaskan diri dari menghamba pada tuhan-tuhan palsu dan pasrahkan diri untuk menghamba hanya kepada Allah.

Maka, meskipun kita memiliki kehendak bebas, kita perlu berserah diri pada aturan yang Allah buat. Karena dengan berserah diri, kita akan selamat (dalam bahasa Arab, aslama bermakna berserah diri, sementara salamah artinya selamat, keduanya terkait dengan asal kata Islam). Termasuk di dalamnya, kita perlu berserah diri pada takdir. Bahkan Nietsche, yang notabene bukan seorang muslim pun mengajarkan kita untuk “Amor Fati” – mencintai takdir. Saat kita mencintai takdir, kita akan berdamai dengan kehidupan, berdamai dengan diri sendiri. Lalu, dimana letak kebebasannya?

Dalam Islam, kelompok Qadariyah meyakini bahwa manusia itu bersifat mukhayyar: memiliki free will tidak terbatas. Sebaliknya, kelompok Jabariyyah meyakini bahwa manusia bersifat musayyar alias tidak punya free will, semua sudah ditakdirkan. Bagi kita yang Ahlus Sunnah, bahasan ini sudah tuntas. Manusia itu makhluk pertengahan yang mukhayyar sekaligus musayyar. Manusia diberi takdir namun diberi kebebasan berikhtiar. Sebaliknya, manusia bebas berikhtiar, namun dibatasi oleh takdir. Memiliki keyakinan seperti ini menghindarkan kita dari sikap pasrah (dalam arti tidak mau berusaha) dan kesombongan. Pasrah karena menganggap semua sudah ditakdirkan, sombong karena merasa semua pencapaian adalah hasil dari usahanya sendiri. Karena takdir sendiri ada dua macam: takdir mubram dan mualaq. Takdir mubram adalah takdir yang tetap, tidak akan berubah. Sementara takdir mu’alaq adalah takdir yang dapat berubah dengan ikhtiar manusia.

Maka, manusia adalah makhluk yang bebas dan merdeka namun manusia juga makhluk yang terikat pada penghambaan. Merdeka dari tuhan yang salah, dan menghamba pada Tuhan yang sebenarnya. Merdeka dalam menentukan tindakan, namun tetap tunduk dan berserah diri pada takdir yang datang. Merdeka dari keyakinan dan pemikiran yang menghambat diri, lalu memilih keyakinan dan pemikiran yang memberdayakan diri. Merdeka dari keputusasaan, dan menghidupkan optimisme serta pengharapan.

Selamat hari Kemerdekaan Republik Indonesia, merdeka!

Credit: Photo by Anggit Rizkianto on Unsplash

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *