fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Ini Alasan Mengapa Hidup Kita Begini-Begini Saja

1 min read

Saya yakin teman-teman sempat mendengar Program 27 Hari Mengubah Hidup yang saya infokan beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini izinkan saya berbagai cerita mengapa program ini dirancang.

Saya mengamati masalah terbesar kita saat ini bukan kurangnya pengetahuan melainkan kurangnya tindakan. Dalam bahasa yang lebih kerennya ada knowing-doing gap. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Robert I. Sutton & Jeffrey Pfeffer di bukunya. Meskipun buku Sutton dan Pfeffer ini konteksnya adalah kesenjangan pengetahuan dan tindakan di perusahaan, kita bisa ambil manfaatnya dalam konteks personal.

Di buku tersebut, Sutton dan Pfeffer mengatakan antara pengetahuan dan tindakan kita seringkali tidak setara. Misal, pengetahuan kita di skala 8, namun tindakan kita baru di skala 5. Artinya, kita tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita tahu. Padahal bisa jadi, jarak kita dengan kesuksesan yang kita impikan (apapun itu: turun berat badan, menerbitkan buku, memulai bisnis, menjual lebih banyak dsb) setara dengan jarak antara tindakan dengan pengetahuan yang kita punya.

  • Kita tahu bahwa kalau mau turun berat badan perlu kurangi asupan karbohidrat dan gula, tapi kita tetap saja mengonsumsinya,
  • Kita tahu bahwa kalau mau badan bugar perlu olahraga rutin, tapi kita tetap saja lebih suka bermalas-malasan di atas sofa daripada menggerakkan badan.
  • Kita tahu bahwa kalau mau menerbitkan buku kita perlu menulis setiap hari, tapi tetap saja kita tidak memulainya.
  • Kita tahu bahwa kalau mau menjual lebih banyak kita perlu konsisten melakukan promosi, bila perlu lakukan follow up secara personal ke 10-15 orang setiap hari, tapi rasa malas mengalahkan keinginan kita ini.
Buku The Knowing-Doing Gap masuk 100 buku bisnis terbaik sepanjang masa.

Solusinya bagaimana? Tiga hal ini mudah-mudahan menjadi solusi:

  • Bertindak, bukan hanya berbicara. Ngomong itu gampang dan murah, yang mahal adalah praktik dan bertindak. Kita bisa saja membual tentang konsep ini dan itu, trik untuk menjadi produktif, bagaimana rencana untuk begini dan begitu, tapi semua itu tidak ada harganya sampai kita melakukan tindakan nyata.
  • Berpikir, bukan hanya mengingat. Ketika mentok atau berencana melakukan sesuatu, berpikirlah untuk menemukan caranya. Loh, kok berpikir? Katanya disuruh bertindak. Iya, benar, saya katakan berpikir bukan mengingat. Berpikir itu aktif, mengingat itu pasif. Berpikir artinya mendayagunakan kreativitas dan logika, sementara mengingat hanya mengandalkan memori. Di sini kita sering terjebak, kita menggantikan berpikir dengan mengingat. Misalnya, sering ndak kita dengar kalimat “Saya sudah coba kemarin, dan gagal” ini namanya mengingat, berpikir adalah mengatakan “Kemarin saya belum berhasil, hari ini apa yang perlu saya lakukan secara berbeda?” Jadi bertindak dan berpikir tidak bertentangan, justru saling membangun.
  • Berencana, bukan hanya bermimpi. Mimpi itu mudah. Tidur saja yang lelap, maka Anda akan bermimpi. Sementara berencana atau membuat rencana butuh data, pemikiran dan evaluasi yang berkelanjutan. Jelas ini tidak mudah, namun inilah yang membedakan antara pemimpi dengan pemimpin.

Inilah alasan saya merancang Program 27 Hari Mengubah Hidup. Saya ingin membantu lebih banyak orang untuk berpikir, membuat rencana dan akhirnya mengambil tindakan nyata.

Besok, program ini akan naik harga. Hari ini adalah hari terakhir untuk mengikuti program ini dengan harga diskon super besar. Ambil keputusan sekarang juga, lakukan tindakan untuk mengubah hidup Anda.

Klik di sini untuk info lebih lengkapnya: https://ruangtraining.com/program-27-hari/

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.