fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Apa (Sebenarnya) yang Memotivasi Kita?

3 min read

Bicara tentang motivasi, apa yang kita ingat? Seminar motivasi? Buku Motivasi? Para Motivator? Apapun itu, setiap kita pasti memiliki gambaran tertentu ketika bicara tentang motivasi. Bicara tentang motivasi selalu menarik, karena hidup kita tak lepas dari memotivasi diri sendiri dan memotivasi orang lain bukan?

sumber gambar: rosalielleda.com
sumber gambar: rosalielleda.com

Termotivasi berarti tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya tergerak untuk menulis, itu artinya saya termotivasi. Anda tergerak untuk membaca, itu artinya Anda termotivasi. Kita tergerak untuk menemukan bisnis yang tepat, itu juga artinya termotivasi.

Pertanyaan besarnya, bagaimana caranya diri kita termotivasi melakukan hal-hal yang penting untuk dilakukan? Karena seringkali kita justru termotivasi untuk melakukan hal-hal yang tidak penting untuk dilakukan. Kita mudah termotivasi untuk nonton TV. Sementara itu kita tidak mudah termotivasi untuk mengerjakan laporan. Kita mudah termotivasi untuk jalan-jalan. Namun kita tidak mudah termotivasi untuk berolahraga. Kita mudah termotivasi untuk berbelanja. Namun tidak mudah termotivasi untuk berinvestasi.

Inilah sebabnya, para manajer tertarik mengetahui bagaimana cara memotivasi bawahannya. Para owner tertarik mengetahui bagaimana memotivasi timnya. Para guru tertarik bagaimana memotivasi murid-muridnya. Para orangtua tertarik bagaimana memotivasi anak-anaknya.

Kemudian lahirlah konsep reward and punishment (penghargaan dan hukuman). Dibuatlah sebuah sistem dimana ketika seseorang melakukan apa yang perlu dilakukan, maka ia diberikan reward. Sebaliknya, bila ia tidak melakukan apa yang perlu dilakukan, maka ia diberikan punishment. Maka, dunia bisnis dipenuhi berbagai iming-iming pencapaian dan sanksi. Di sekolah pun sama, murid yang nurut diberi ganjaran positif, murid yang bandel diberikan ganjaran negatif. Pun demikian di rumah, hadiah bagi anak baik, hukuman bagi anak nakal.

Efektifkah hal ini? Ya, hal ini efektif bila dilakukan dengan tepat. Bila tidak dilakukan secara tepat, reward and punishment justru menjadi bumerang. Penerapan reward and punishment yang tidak tepat justru menurunkan motivasi instrinsik, memicu pemikiran jangka pendek bahkan perilaku tak etis demi tercapainya reward yang diharapkan.

Konsep Reward & Punishment mengasumsikan bahwa manusia lebih mudah termotivasi bila ada rangsangan dari luar dalam bentuk yang kongkrit (motivasi ekstrinsik; misalnya: uang, hadiah, jabatan). Asumsi ini menyebabkan sebuah kesimpulan bahwa tanpa rangsangan yang kongkrit, orang tidak akan tergerak untuk melakukan sesuatu. Tentu saja konsep ini kurang lengkap (saya tidak mengatakan tidak tepat, hanya kurang lengkap). Mari kita analisis sama-sama.

Jika konsep bahwa tanpa motivasi ekstrinsik kita tidak akan tergerak melakukan sesuatu bagaimana dengan para relawan yang berkerja 24 jam untuk membantu bencana alam tanpa dibayar? Bagaimana dengan para relawan Indonesia Mengajar yang rela mengajar di pedalaman tanpa dibayar? Bagaimana dengan para kontributor Wikipedia yang menyisihkan waktu puluhan jam per minggu tanpa dibayar? Apakah mereka tidak termotivasi melakukannya? Justru mereka sangat termotivasi bahkan mungkin lebih termotivasi dibandingkan mereka yang dibayar. Mereka semua tergerak melakukan sesuatu bukan karena bayaran atau ganjaran yang terlihat. Mereka termotivasi karena sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih tinggi.

Penasaran dengan hal ini, membuat dua orang psikolog Edward Deci dan Richard Ryan melakukan riset mengenai motivasi instrinsik. Dari riset mereka muncullah konsep Self-Determination Theory, bahwa kita cenderung terdorong oleh kebutuhan untuk tumbuh dan memperoleh pemenuhan (fulfillment). Sehingga, isu-nya bukan sekedar termotivasi mengerjakan apa yang penting dikerjakan, namun juga bahagia dalam mengerjakannya. Lalu, apa yang perlu diperhatikan agar hal ini tercapai? Daniel Pink memaparkan dengan baik dalam bukunya yang berjudul DRIVE. Menurut Pink ada tiga elemen yang perlu diperhatikan agar kita tidak sekedar termotivasi melakukan sesuatu, namun juga bahagia dalam melakukannya.

Elemen Pertama, Autonomy (Otonomi)

Setingan baku kita adalah otonom dan self-directed. Kita tidak begitu suka dikendalikan oleh orang lain. Otonom berbeda dengan freedom. Otonom bukanlah seperti Lone Ranger yang bekerja hanya sendirian, bebas dari orang lain. Otonom terkait dengan kebebasan memilih, artinya kita tetap dapat otonom meskipun kita bekerjasama dengan orang lain bahkan bekerja untuk orang lain. Lawan dari otonomi adalah kendali. Kendali menciptakan kepatuhan, otonomi menciptakan keterlibatan.

Elemen Kedua, Mastery (Penguasaan)

Manusia secara alamiah memiliki kebutuhan untuk menjadi lebih baik dalam hal-hal tertentu yang penting baginya. Inilah mengapa saat kita mengalami kemajuan ketika mempelajari sesuatu kita menjadi bahagia. Begitu pula saat menyelesaikan sebuah tahap dalam pekerjaan kita pun merasa puas. Kemajuan menciptakan kebahagiaan. Meskipun mengejar penguasaan itu menyakitkan dan membutuhkan waktu panjang, namun mereka yang melakukannya tetap menikmatinya.

Elemen Ketiga, Purpose (Tujuan yang Bermakna)

Kita memiliki kecenderungan mencari tujuan yang bermakna. Tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sebuah misi yang membuat kita mau bangun sebelum terbit matahari. Sebuah misi yang mebuat kita sanggup bergadang hingga pagi menjelang. Kontribusi pada orang lain, pada dunia, pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Bila tiga elemen di atas diramu dengan baik, kita dapat menumbuhkan motivasi intrinsik diri kita (bahkan orang lain) dengan baik. Sehingga kita termotivasi melakukan hal-hal yang penting untuk dilakukan dan bahagia dalam melakukannya.

Maka:

  • Sudahkan kita mengejar tujuan yang bermakna dalam hidup kita? Tujuan yang lebih besar dari diri kita? Tujuan yang berdampak pada lingkungan kita?
  • Sudahkah kita memiliki keinginan untuk menguasai sebuah keahlian dan menjadi master di bidang tersebut? Sudahkah kita berinvestasi untuk mengasah keahlian kita? Sudahkah apa yang kita lakukan menantang batas kemampuan kita sehingga kita termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri kita?
  • Sudahkan kita mulai melakukan hal-hal yang benar-benar ingin kita lakukan? Dengan cara kita sendiri? Dengan orang-orang yang kita ingin bekerja dengannya?

Dan, insight apa saja yang Anda dapatkan setelah membaca artikel ini?

NB: Untuk teman-teman Coach dan Praktisi NLP, menurut teman-teman, apa kaitan tulisan ini dengan konsep Self-Actualization dan Coaching?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.