fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Konsep Pembentukan Perilaku menurut Ibnul Qayyim & NLP

3 min read

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Al Fawaaid mengatakan:

“Bertahan dan lawanlah lintasan pikiran (al khatirah), karena jika kau gagal melakukannya, ia akan menjadi pemikiran (al fikrah). Bila ia telah menjadi pemikiran, tolaklah, jika engkau tidak melakukannya, ia akan menjadi keinginan (al ‘iradah). Lawanlah keinginan, jika tidak, ia akan menjadi tekad dan niat (al ‘azimah). Cegahlah tekad dan niat, sebab bila tidak ia akan menjadi tindakan (al ‘amal). Bila ia sudah menjadi tindakan, perangilah, sebab bila tidak ia akan menjadi kebiasaan (al ‘adah) yang engkau akan sulit melepaskan diri darinya.”

Tulisan sederhana dari Imam Ibnul Qayyim ini sebenarnya konsep yang luar biasa dalam pembentukan perilaku/kebiasaan. Perhatikan urutan bagaimana sebuah lintasan pikiran pada akhirnya membentuk sebuah kebiasaan. Saya akan mengaitkan bahasan pembentukan perilaku ini dengan konsep Human Model of The World dari disiplin ilmu NLP (Neuro-Linguistic Programming). Semoga berkenan.

Tahap pertama: al Khatirah

Al khatirah adalah lintasan pikiran yang datang dan pergi. Sebagian muncul dari dalam diri (karena kebutuhan atau nafsu) sebagian lagi berasal dari bisikan syaithan (waswas). Menurut Imam Ibnul Qayyim, bila lintasan yang pikiran adalah lintasan pikiran buruk kita harus menghentikannya. Sebab, bila kita membiarkannya ia akan berubah menjadi fikrah (pemikiran yang menetap). Saat menjadi fikrah, kita akan lebih sulit untuk menghilangkannya dibandingkan saat ia masih berbentuk khatirah.

Dalam disiplin ilmu NLP, lintasan pikiran ini bisa berbentuk visual (gambar yang melintas, entah gambaran dari memori ataupun imajinasi), bisa juga berbentuk auditory (suara yang melintas, entah suara berasal dari memori atau hanya imajinasi). Lintasan pikiran berbentuk visual maupun auditory ini bisa kita hilangkan secara mudah dengan teknik Submodalities Editing ataupun Swish Pattern (penjelasan menyusul di artikel berikutnya insyaallah).

Tahap Kedua: al Fikrah

Al fikrah adalah pemikiran yang menetap. Kita menyebutnya dengan mindset. Di level ini, lintasan pikiran yang sering muncul mengkristal dan menetap menjadi sebuah pola pikir. Fikrah ini semacam peta yang memandu perasaan dan perilaku kita. Ia bisa memandu kita ke arah kebaikan atau keburukan tergantung dari isinya. Dalam ilmu NLP, fikrah in setara dengan Internal Representation – gambar dan suara yang muncul saat kita memikirkan sesuatu. Gambar dan suara yang muncul ini akan memengaruhi perasaan kita padanya. Misalnya, apa yang muncul dalam pikiran Anda saat mendengar azan berkumandang? Gambar dan suara yang muncul dalam pikiran Anda inilah yang mewakili fikrah Anda. Sebagian mungkin segera membayangkan masjid, lalu berkata pada diri “Waktunya berjama’ah ke masjid” sementara sebagian orang lain mungkin sekadar memunculkan suara “sudah waktu sholat, sebentar lagi shalatnya, beresin kerjaan dulu.” Dua pemikiran yang berbeda ini akan menghasilkan perilaku yang berbeda. Awalnya, semua ini hanya berupa lintasan pikiran yang bisa segera disingkirkan. Namun karena kita mengulang-ulangnya, lintasan pikiran ini menjadi otomatis dan menetap menjadi sebuah pemikiran.

Tahap Ketiga: al ‘Iradah

Bila pemikiran yang kita miliki tidak kita ubah, maka ia akan mengkristal menjadi ‘iradah – keinginan atau kehendak. Dalam istilah lain ‘iradah adalah kecenderungan hati untuk melakukan sesuatu. Dalam disiplin ilmu NLP, keinginan ini masuk ranah state of mind -atau biasa disingkat dengan istilah state. Secara mudah state adalah keadaan pikiran dan perasaan tertentu. Marah, sedih, malas adalah contoh state. State di level ‘iradah adalah state yang belum begitu kuat sehingga tidak langsung berubah menjadi perilaku atau tindakan. Namun, bila tidak dihentikan, keinginan ini nanti bisa menjelma menjadi tekad (‘azimah). Saat menjadi ‘azimah, ia akan menjelma menjadi tindakan dengan mudah. Maka, bila kita memiliki keinginan yang buruk, kita perlu mencegahnya. State yang kita rasakan perlu kita ubah. Bagaimana caranya? Ada dua cara. Pertama, mengubah apa yang kita pikirkan. Kedua, mengubah fisiologi kita (gerakan, napas atau posisi tubuh kita). Artikel terkait ini dapat dibaca di sini dan di sini.

Tahap Keempat: al ‘Azimah

Keinginan yang menguat akan mengkristal menjadi tekad bulat alias ‘azimah atau ‘azzam. Saat ini muncul, lalu kesempatan dan kemampuan ada, maka ia akan segera berubah menjadi tindakan. Ustadz Umar Sulaiman Asyqar dalam kitab Fiqh Niat mengatakan “azam adalah lebih cenderung berbuat, tidak memilih yang lain, dan memutuskan akan melakukannya – inilah kekuatan maksud, tekad dan titik terakhir sebuah keinginan.” Dalam NLP, ‘azimah adalah bentuk state yang sangat kuat.

Tahap Kelima: al ‘Amal

Saat ada kesempatan dan kemampuan, sebuah ‘azimah akan berubah menjadi ‘amal – perbuatan/perilaku/tindakan. Tubuh kita membenarkan apa yang diinginkan oleh hati kita. Kita berbuat mewujudkan lintasan pikiran kita.

Tahap Keenam: al ‘Adah

Jika tindakan tersebut kita ulang-ulang, maka ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Saat menetap menjadi kebiasaan, ia akan membentuk karakter kita dan sulit bagi kita melepaskannya.

Perbandingan konsep pembentukan perilaku menurut Imam Ibnul Qayyim dan disiplin ilmu NLP

Maka, paling mudah mencegah sebuah kebiasaan buruk adalah menghentikannya sebelum ia menjadi sebuah kebiasaan. Terutama, saat ia baru berupa lintasan pikiran. Bagaimana bila ia sudah menjadi sebuah kebiasaan kita? Sama. Karena proses dari lintasan pikiran sampai kebiasaan ini sebenarnya selalu ada. Hanya saja, saat sudah menjadi kebiasaan proses ini begitu cepat dan otomatis terjadi sehingga kita tidak menyadarinya secara penuh. Sadari lintasan pikiran yang muncul sesaat sebelum kebiasaan tersebut muncul. Lalu lemahkan dan hentikan. Teknisnya saya tuliskan menyusul insyaallah, do’akan agar saya diberikan umur untuk menuliskannya di artikel lainnya.

“Watch your thoughts, they become your words; watch your words, they become your actions; watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.”

Lao Tsu
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *