fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mitos-Mitos dalam Belajar

1 min read

Teman-teman dekat saya tentu tahu kalau saya ini learning addict – pecandu belajar. Minat belajar saya cukup beragam, mulai dari sejarah, filsafat, bahasa, sampai sains. Seringkali ketika saya tertarik untuk memahami sebuah ide, saya membaca minimal 3-4 judul buku terkait. Rasanya tidak puas bila hanya berusaha memahami sebuah ide hanya dari satu buku saja. Nah, tulisan kali ini akan membahas tentang mitos-mitos dalam belajar. Memahaminya akan membuat proses belajar kita menjadi lebih efektif. Langsung saja yak.

Mitos #1: Fokus adalah mode terbaik dalam belajar

Fakta: Fokus saja tidak cukup, kadangkala kita perlu melamun juga untuk memahami sebuah pembelajaran.

Sepekan ke belakang, atas rekomendasi rekan saya kang Dedy, saya mengikuti sebuah ecourse yang diselenggarakan oleh McMaster University, University of California San Diego, dan Coursera. Judulnya Learning How to Learn: Powerful mental tools to help you master tough subjects. Di ecourse tersebut sang instruktur, Barbara Oakley, Ph.D. menjelaskan ada dua mode otak:

  • Focused mode. Mode otak ketika perhatian kita fokus penuh pada satu hal.
  • Diffuse mode. Mode otak ketika perhatian kita menyebar dan mengembara kemana-mana, mode “melamun.”

Belajar akan lebih efektif bila mengombinasikan kedua mode ini. Pertama, lakukan focused mode untuk memahami sebuah materi. Setelah itu lakukan istirahat dan biarkan pikiran mengembara (diffuse mode) agar otak kita mengkonsolidasikan apa yang sudah kita pelajari.

Mitos #2: Tidur tidak mendukung proses belajar.

Fakta: Tidur justru mendukung proses belajar. Kita belajar sangat baik ketika kita tidur.

Salah satu diffuse mode terbaik adalah tidur. Ada empat manfaat utama tidur terkait dengan proses belajar.

Pertama, saat kita bangun kita memproduksi racun dalam otak kita. Tidur membersihkan racun tersebut dari otak kita. Bila tidak dibersihkan, kita tidak akan mampu berpikir jernih.

Kedua, saat tidur otak kita akan menghapus koneksi neuron yang tidak berguna dan menguatkan koneksi neuron terkait apa yang sedang kita pelajari.

Ketiga, saat tidur otak akan mencari solusi dari masalah yang belum terpecahkan. Otak pun akan mengaitkan apa yang kita pelajari dengan hal-hal lainnya. Ini memungkinkan kita untuk memahami apa yang tidak kita pahami sebelumnya.

Keempat, saat tidur otak akan mengkonsolidasikan hasil belajar kita. Otak akan menyimpan apa yang sudah kita pelajari ke memori jangka panjang sehingga kita dapat mengingatnya di kemudian hari.

Maka, luangkan waktu untuk tidur. Sistem kebut semalam tanpa tidur tidak akan memberikan hasil optimal. Hasil yang mungkin ada justru otak kita terasa penuh dan tidak bisa berpikir jernih.

Mitos #3: Mengulang pembelajaran berkali-kali di hari yang sama adalah strategi terbaik.

Fakta: Strategi terbaik dalam belajar adalah Spaced Repetition – mengulang pembelajaran berkali-kali di hari yang berbeda. Strategi ini akan membuat pembelajaran tersebut tersimpan di memori jangka panjang.

Bila diibaratkan koneksi antar neuron adalah semen basah, maka ia perlu waktu agar mengering. Melatih pemecahan soal matematika 20x dalam sehari tidak akan membuat kita mengingat caranya. Hasil akan berbeda bila kita mengulangnya 4x sehari dalam 5 hari. Demikian juga menghapal kosakata bahasa asing, lebih baik menghapal beberapa kosakata dalam beberapa hari daripada berusaha menghapalnya hanya dalam satu hari.

Hari ini saya bagikan tiga mitos dulu, insyaallah di artikel lain saya akan bahas mitos-mitos lainnya.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.