fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mind to Muscle: Dari Otak ke Otot

2 min read

Kita tahu pentingnya pola makan sehat. Kita tahu pentingnya berolahraga. Kita tahu pentingnya berinvestasi. Kita tahu pentingnya mendengarkan dan memperhatikan orang lain yang sedang berbicara. Namun, sudahkah kita melakukannya? Kita banyak tahu, namun sedikit melakukan. Bila kita ukur antara performa dengan pengetahuan kita, sudah pasti ada kesenjangan yang cukup besar. Masalah kita bukan di pengetahuan. Masalah kita ada di tindakan. Pertanyaannya: seberapa besarkah kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan kita? Lalu, bila kita dapat mempersempitnya akan berubah menjadi seperti apakah kehidupan kita? Bukankah menarik bila level performa kita mendekati level pengetahuan kita?

Kita dapat belajar banyak dari Michael Hall (NLP Trainer & Founder Neurosemantic). Ia merancang sebuah teknik yang diberi nama Mind to Muscle. Teknik yang bertujuan mengubah sebuah pengetahuan menjadi sebuah tindakan nyata. Ia tidak hanya merancang tekniknya, ia benar-benar menggunakannya. Ia gunakan teknik Mind to Muscle sehingga ia berhasil membiasakan menulis dan berolahraga setiap hari. Sebagai buahnya, Hall mampu menghasilkan 3-4 buku setiap tahunnya. Total sampai hari ini ia telah menghasilkan lebih dari 30 buku berkualitas tinggi. Ketika ia ditanya, apa rahasianya ia menjawab: saya melakukan teknik Mind to Muscle 10-30x sehari sampai saya benar-benar melakukan apa yang sudah saya rencanakan[1].

Bagaimana kisahnya Michael Hall menemukan teknik ini? Semua diawali saat dia terlibat dengan sebuah riset tentang bagaimana membangun kekayaan.[2] Ia mengkaji puluhan literatur terkait hal ini. Hasilnya, membangun kekayaan ternyata tidak sekompleks apa yang orang-orang bayangkan. Membangun kekayaan bukanlah sebuah rocket science. Kesimpulan dari riset tersebut sangat sederhana: “Kekayaan dibangun dengan menyisihkan sebagian kecil penghasilan seseorang secara teratur.”[3] Hall kemudian berpikir: Saya sudah tahu hal ini sejak dulu! Pertanyaannya, mengapa sampai detik ini saya tidak melakukannya? Apa yang menghambat saya untuk melakukannya?[4]

Apakah karena saya tidak meyakininya? Tidak, saya meyakininya.

Benarkah? Ya, benar. Saya benar-benar meyakininya.

“Saya meyakini bahwa kekayaan dibangun dengan menyisihkan sebagian kecil penghasilan saya secara teratur.”

Bandingkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya (sama-sama dicetak tebal dan miring). Apa yang berbeda? Kalimat kedua lebih personal bukan? Lebih merasuk ke dalam tubuh kita dibandingkan kalimat yang pertama. Coba bayangkan, seakan-akan Anda mengatakan kalimat di atas di depan seseorang. Katakan dengan penuh keyakinan. Apakah terasa berbeda? Sekarang coba otak-atik kalimatnya. Mana yang lebih merasuk ke dalam tubuh dan jiwa Anda?

“Saya meyakini bahwa kekayaan dibangun dengan menyisihkan sebagian kecil penghasilan saya secara teratur.”

“Saya yakin bahwa saya mampu membangun kekayaan dengan menyisihkan sebagian kecil penghasilan saya secara teratur.”

Perhatikan, bagaimana bahasa (linguistik) memengaruhi pikiran dan tubuh (neurologi). Pernyataan yang tadinya umum dan tidak menyentuh jiwa kita, kini terasa lebih personal.

Sekarang apa yang terjadi bila kalimat di atas dimodifikasi menjadi seperti ini?

“Saya yakin saya akan mulai membangun kekayaan dengan menyisihkan sebagian kecil penghasilan saya setiap pekan.”

Apa yang berbeda? Kata ‘saya akan’ menaikkan level pernyataan di atas dari keyakinan menjadi keputusan. Katakan dengan nada yang bulat, dan Anda akan menemukan momen untuk bertindak.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan mulai membangun kekayaan dengan menyisihkan sedikitnya 10% dari penghasilan saya setiap pekan.”

Lebih spesifik dan mulai terasa berbeda kah? Sekarang, coba modifikasi kalimatnya agar emosi kita mulai terlibat. Uji coba beberapa kalimat, misalnya:

“Mulai hari ini dan seterusnya saya memilih untuk membangun kekayaan dengan menyisihkan sedikitnya 10% dari penghasilan saya setiap pekan.”

“Mulai hari ini dan seterusnya saya menolak untuk menunda membangun kekayaan dan saya akan menyisihkan sedikitnya 10% dari penghasilan saya setiap pekan.”

Mana format yang lebih menggugah emosi Anda? Setiap orang memiliki pilihan yang berbeda. Apa yang Anda rasakan saat mengatakannya?

“Membangun kekayaan dengan menyisihkan sedikit penghasilan saya setiap pekan membuat saya merasa sedikit keraguan… dan gairah… juga harapan dan kepercayaan diri.”

Awalnya, Anda mungkin hanya menyadari sedikit emosi yang terasa. Namun, saat Anda mengulang-ulang kalimatnya. Membayangkan Anda benar-benar melakukannya, perasaan tersebut mulai membesar. Dan ini adalah dorongan neurologis untuk melakukan sesuatu. Kita telah mengaktifkan otot kita untuk benar-benar bertindak.

Maka, apa satu hal yang dapat saya lakukan hari ini untuk merealisasikan ide ini?

“Oke, saya dapat menuliskan hal ini sebagai tujuan pekanan saya.”

Apa lagi?

“Saya akan minta teman saya untuk membuat saya tetap on the track, saya akan mengizinkan dia menanyakan ke saya tentang hal ini.”

Akhirnya kita dapat melihat, satu ide di awal tadi sekarang mulai berubah menjadi sebuah tindakan. Dari otak mulai menjadi otot. Inilah asal mula teknik Mind to Muscle-nya Michael Hall. Insyaallah besok saya tuliskan pattern tekniknya secara lebih terstruktur.

 

[1] Cerita ini saya dapatkan dari mas Teddi Prasetya

[2] Sumber: http://www.neurosemantics.com/the-knowing-doing-gap/

[3] Sisihkan sebagian penghasilan sehingga terkumpul modal. Investasikan modal ini secara teratur.

[4] Supaya enak bacanya, mulai kalimat ini saya menggunakan kata ganti ‘saya’ untuk menunjukkan apa yang Michael Hall pikirkan dan lakukan.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.