fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mengapa Resolusi Tahun Baru Gagal? Apa Solusinya?

2 min read

Pekan lalu, saat menyiapkan launching Productivity Planner via jurnalproduktivitas.com ada seseorang bertanya kepada saya: “mas, kenapa plannernya 12 pekan, bukan setahun?” Saya jawab: “karena perencanaan tahunan terlalu mainstream dan cenderung gagal.” Namun, jawaban saya jangan diartikan bahwa saya mengharamkan perencanaan tahunan atau resolusi tahun baru ya. Mengapa? Kita akan membahas detailnya di artikel ini.

Pernah dengar istilah resolusi tahun baru kan? Sebuah pernyataan tujuan yang ingin dicapai di tahun itu. Secara umum, biasanya resolusi tahun baru antara satu orang dengan orang lainnya mirip. Itu-itu saja. Menurut web statista (dot) com, berikut adalah resolusi paling populer di tahun 2018:

  • Menjadi lebih sehat
  • Mulai berolahraga
  • Menyimpan uang lebih banyak
  • Merawat diri lebih baik
  • Membaca lebih banyak
  • Memulai pertemanan baru
  • Mempelajari ilmu baru
  • Mendapatkan pekerjaan baru
  • Memulai hobi baru

Masalahnya adalah, menurut statistik hanya 9,2% orang yang berhasil mewujudkan resolusi tahun barunya. Bahkan riset dari Universitas Scranton menyatakan hanya 8% orang yang berhasil mencapainya.

Riset yang dilakukan oleh John Norcross menyebutkan[1]:

  • Hanya 71% orang yang masih bertahan dengan resolusi tahun barunya setelah 2 minggu
  • Hanya 64% orang yang masih bertahan dengan resolusi tahun barunya setelah satu bulan
  • Hanya 46% orang yang masih bertahan dengan resolusi tahun barunya setelah enam bulan

Tidak heran jika kemudian orang-orang tidak mau menetapkan resolusi tahun barunya. Menurut statistik, orang-orang yang menetapkan resolusi tahun barunya tidak lebih dari 50%. Alasan mereka: percuma menetapkan resolusi tahun baru, toh ujung-ujungnya gagal juga. Namun, alasan ini tidak tepat dan jadi bumerang. Mengapa? Karena mereka yang sekadar ingin berubah tanpa menetapkan resolusi tahun barunya 96% gagal di bulan keenam (bandingkan dengan statistik di atas). Jadi, entah nanti gagal atau tidak, menetapkan resolusi tahun baru sebenarnya meningkatkan peluang keberhasilan kita. Apalagi jika kita paham penyebab gagalnya dan solusinya, peluang keberhasilan kita akan semakin tinggi.

Lalu, apa saja faktor penyebab kegagalan resolusi tahun baru itu?

Saya menyimpulkan setidaknya ada tiga faktor utama penyebab kegagalan resolusi tahun baru. Mari kita bahas satu per satu.

Pertama,  mencoba mengejar terlalu banyak tujuan dalam satu waktu

Berapa resolusi yang kita tetapkan? 10? 20? Resolusi yang terlalu banyak menyebabkan pikiran kia kewalahan. Untuk mencapai sebuah tujuan kita memerlukan waktu dan energi yang memadai dan itu tidak dapat dilakukan bila kita tidak fokus dalam melakukannya. Solusinya? Cukup tetapkan 1-3 resolusi tahun baru dan buat rencana untuk mencapainya. Seperti kata pepatah Rusia, jangan mengejar dua kelinci sekaligus karena kita tidak akan mendapatkan keduanya.

Kedua, menetapkan resolusi yang tidak spesifik

Jika kita menetapkan tujuan yang tidak spesifik maka kita sulit mewujudkannya. Contoh:

  • Turun berat badan
  • Berinvestasi lebih banyak
  • Mulai berolahraga

Tiga resolusi ini terlalu abstrak, tidak spesifik. Bandingkan dengan:

  • Berhenti makan setelah jam 17.00
  • Berinvestasi 10% dari penghasilan
  • Ke gym setiap hari rabu dan sabtu pk.16.00-17.00

Ini jauh lebih spesifik dan bisa dijalankan. Kuncinya, tetapkan tujuan yang SMART:

  • Specific (spesifik)
  • Measurable (terukur)
  • Actionable (berorientasi tindakan)
  • Realistic (mungkin dilakukan)
  • Time-bound (berbatas waktu)

Detailnya silakan baca di buku ketiga saya Life by Design (Metagraf, 2018) yak.

Ketiga, hanya mengandalkan motivasi, tidak memiliki sistem yang tepat untuk mewujudkannya.

Hanya menetapkan resolusi dan tidak merancang sistem untuk mencapainya adalah percuma. Menurut Richard Wiseman, untuk mempertahankan dan mencapai resolusi/tujuan, kita perlu:

  1. Memiliki alasan yang kuat mengapa kita ingin mewujudkan hal tersebut. Pikirkan apa manfaat yang akan didapat bila kita berhasil mencapainya.
  2. Membuat rencana langkah demi langkah. Memecah sebuah tujuan besar ke dalam sub-sub tujuan yang lebih kecil.
  3. Menceritakan tujuan dan rencana kita ke orang lain yang dapat kita percaya (coach, mentor, rekan atau pasangan kita).
  4. Membuat catatan tentang kemajuan yang kita capai.
  5. Memberi penghargaan atas kemajuan yang terjadi, sekecil apapun kemajuannya.

Pertanyaannya, saat kita menetapkan resolusi tahun baru apakah kita juga merancang sistem untuk mencapainya?

PS: Untuk membantu Anda fokus pada tujuan dan rencana yang Anda buat, saya merancang sebuah planner bernama 12 Week Productivity Planner. Sudah punya? Anda bisa memesannya di jurnalproduktivitas.com 😉

 

Catatan Kaki:

[1]https://www.researchgate.net/publication/11443909_Auld_Lang_Syne_Success_Predictors_Change_Processes_and_Self-Reported_Outcomes_of_New_Year’s_Resolvers_and_Nonresolvers

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.