fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Life Begins at Forty

2 min read

“The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary.”

Arthur Schopenhauer, Filosof Jerman

Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang Elang. Konon, Elang adalah burung yang paling panjang usia hidupnya. Seekor elang dapat hidup sampai 70 tahun. Namun, agar ia sampai di sana, ia perlu membuat keputusan besar saat ia berusia 40 tahun.

Saat Elang berusia 40 tahun, cakarnya menua, paruhnya membengkok hingga menyentuh dada, sayapnya pun memberat karena bulunya tumbuh tebal dan lebat. Di usia ini, Elang hanya punya dua pilihan: menunggu kematian atau tetap hidup dengan menjalani proses perubahan yang menyakitkan selama 150 hari.

Elang yang memilih untuk tetap hidup harus berusaha keras terbang ke puncak gunung. Membangun sarang di tepi jurang lalu menyendiri di sana selama proses perubahan berlangsung.

Proses perubahannya akan sangat menyakitkan. Ia harus mematukkan paruhnya pada batu sampai paruh tersebut lepas. Lalu ia harus sabar menunggu sampai paruh baru tumbuh. Dengan paruh baru itu, ia harus mencabut satu per satu cakar tuanya. Setelahnya ia pun harus menunggu sampai cakar baru tumbuh. Ketika cakar baru tumbuh, ia akan menyabut bulu badannya satu per satu sampai semua terlepas dari tubuhnya.

Setelah 150 hari, barulah bulu baru tumbuh sempurna. Ia kembali mampu terbang dengan bulu, paruh dan cakar yang baru. Dengan transformasi barunya ini, ia pun menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi.

Proses yang menyakitkan bahkan bagi seekor burung bukan? Apakah kisah Elang ini nyata? Tentu saja, meskipun banyak motivator menggunakan cerita ini, ini bukanlah kisah nyata. Ini hanya metafora untuk menginspirasi kita.

Kisah Elang ini menginspirasi mereka yang beranjak ke usia 40 tahun untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Meyakinkan mereka bahwa hidup tidak berakhir di sini, bahkan hidup barulah dimulai. Life begins at forty, demikian kata pepatah Inggris.

Meskipun, konon katanya dulu pepatahnya berbunyi ‘death begins at forty’ karena memang usia masyarakat Inggris di Abad Pertengahan tidak sampai 40 tahun. Bahkan, angka harapan hidup mereka saat itu hanya sampai 25 tahun.

Kemudian semua berubah saat revolusi industri kedua datang. Ilmu kedokteran semakin maju, sistem kesehatan semakin membaik, angka harapan hidup masyarakat Inggris pun berubah. Sampai pada tahun 1932, seorang psikolog Amerika bernama Walter Pitkin berani mempublikasikan buku berjudul Life Begins at Forty. Dengan tegas ia mengatakan: “Life begins at forty. This is the revolutionary outcome of our New Era. Today it is half a truth. Tomorrow it will be an axiom.” Kehidupan dimulai pada usia empat puluh. Ini adalah hasil revolusioner dari Era Baru kita. Hari ini, kita menganggapnya sebagai setengah kebenaran. Besok itu akan menjadi aksioma (kebenaran yang nyata). Ramalan ini benar adanya karena hari ini angka harapan hidup dunia bukan 25 namun 66 tahun.

Mengapa saya menulis hal seperti ini? Karena hari ini adalah hari lahir saya. Hari ini, saya menginjak usia 39 tahun menurut hitungan kalender Masehi. Namun, mengapa saya berbicara tentang umur 40 tahun? Karena menurut kalender Hijriyah, hitungan umur saya sudah masuk ke-40 tahun (saya lahir 26 Jumadil Awal 1401, artinya pada Jumadil Awal 1441 yang bertepatan bulan Januari 2020 lalu umur saya sudah menginjak 40 tahun).

Saya mendengar, segala sesuatu yang melekat di usia 40 tahun akan tetap melekat sampai akhir hayat. Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filosof Jerman pernah mengatakan “The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary.” Ibarat buku, buku yang kita tulis sudah tuntas. Sisa hidup kita hanyalah tafsiran atas buku tadi.

Tentu saja, ada harap-harap cemas yang datang. Bagaimana saya tak cemas? Sementara masih banyak amal buruk yang terikat dan sangat sedikit amal baik yang melekat. Padahal sahabat Abdullah bin Abbas pernah berkata “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Bagaimana saya tak cemas, bila saya masih memikirkan dunia dan bergaul dengan manusia, sementara Imam Malik bernah berkata “Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan bergaul bersama manusia. Ketika mereka sampai usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia.”

Namun, kecemasan tidak membantu apa-apa. Kita masih bisa memanjatkan do’a dan berikhtiar semampu kita.

Maka, di titik ini saya hanya bisa berdo’a sebagaimana yang Allah ajarkan di surat Al Ahqaf: “… apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Do’akan agar saya bisa menjalankan separuh usia ini dengan baik dan menjadi lebih bijak dalam segala sesuatunya. Semoga Allah menggugurkan dosa dan kesalahan saya di masa lalu dan memberikan kehidupan baru yang lebih diberkahi. Aamiiin.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.