fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Filosofi Jurus: Mendisiplinkan Pikiran & Tubuh

1 min read

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video perkenalan dari Sifu Mark Stas, founder beladiri campuran Wing Flow System. Ada satu kalimat menarik yang ia ucapkan dalam video tersebut “Tujuan akhir dari seni beladiri adalah membangun tubuh dan pikiran ke puncaknya juga menjadi mampu melindungi diri sendiri dalam situasi hidup-mati…” Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Sifu Mark Stas ini.

Tujuan dari seni beladiri bukan sekadar untuk berolahraga, bukan sekadar untuk menang di atas Oktagon, bukan sekadar untuk mengalahkan musuh. Tujuan berlatih seni beladiri adalah membangun tubuh dan pikiran. Untuk membangun tubuh dan pikiran kita perlu melatih, menantang dan mendisiplinkannya. Mendisiplinkan tubuh dan pikiran sehingga kita menguasainya alih-alih dikuasai olehnya. Mendisiplinkan tubuh dan pikiran sehingga kita mampu mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain.

Saya jadi teringat apa yang disampaikan oleh guru silat Makao saya, Abah Gending Raspuzi. Beliau menyampaikan kata jurus bermakna “sakujur diurus.” Arti mudahnya: seluruh tubuh disadari. Maka, pada saat kita melakukan gerakan jurus, jangan hanya mengulang-ulang gerakan tanpa menyadari proses bergeraknya. Kita perlu menyadari gerakan tubuh kita seutuhnya. Mulai dari bentuk gerakan secara umum sampai detail-detail gerakan mikronya. Bagaimana posisi kuda-kuda (apakah kaki menumpu pada kedua kaki atau salah satunya), merasakan tenaga di bagian tubuh (mana yang diisi mana yang dikosongkan), arah tenaga (apakah lurus, berputar, spiral atau menyilang), posisi tenaga (apakah di ujung atau di pangkal) dan sebagainya. Ini semua ditujukan untuk melatih kesadaran akan tubuh kita.

Saya pun kemudian jadi memahami apa yang dimaksud oleh Eben Pagan di kelas Wake Up Productive. Bahwa olahraga adalah intentional use of body – penggunaan tubuh secara disengaja. Ya, karena selama ini seringkali kita menggunakan tubuh kita tidak disadari. Wajar bila akhirnya postur tubuh kita menjadi tidak bagus, gerakan kita pun tak elok dipandang. Olahraga secara umum atau berjurus secara khusus adalah sarana untuk melatih tubuh kita. Menyiapkan tubuh agar mampu melakukan tugas-tugas dalam hidup kita.

Menariknya, bila kita melihat dari sudut pandang disiplin ilmu Neuro-Linguistic Programming ada sebuah kaidah yang berbunyi “mind and body are one system that affect each other” – pikiran dan tubuh adalah satu sistem yang saling memengaruhi satu sama lain. Artinya, saat kita melatih tubuh kita bukankah itu berarti kita pun sedang melatih pikiran kita? Saat kita berlatih menyadari tubuh, bukankah itu berarti kita sedang berlatih menyadari pikiran kita? Saat kita berlatih menguatkan tubuh bukankah itu berarti kita sedang berlatih menguatkan pikiran kita?

Pada saat kita melatih jurus berulang-ulang, secara rutin, dengan sepenuh kesadaran, kita tidak hanya menyempurnakan gerakan dan struktur serta biomekanika tubuh. Kita pun akan menemukan lapisan kesadaran baru, pemahaman dan pemaknaan baru. Entah secara praktis (bagaimana mengaplikasikan jurus tersebut di situasi nyata) maupun secara filosofis (bagaimana mengaplikasikan makna jurus dalam kehidupan sehari-hari). Berlatih jurus artinya membangun struktur tubuh dan konstruksi pikiran yang baru dan kokoh. Berlatih jurus artinya berlatih mendisiplinkan tubuh dan pikiran kita.

Tentu saja, tidak hanya berlatih beladiri yang memberikan efek semacam ini. Setiap olahraga yang mendorong kita melampaui batas kemampuan fisik (dan pikiran) serta menantang kita untuk mencapai kesempurnaan gerakan memiliki efek yang sama. Entah itu Yoga, Pilates atau bahkan Calisthenic. Pertanyaannya, apa olahraga pilihan Anda? Bagaiamana Anda memanfaatkannya bukan sekadar untuk mendisiplinkan tubuh namun juga mendisiplinkan pikiran Anda?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.