fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Paradoks Stockdale dan Pandemi Covid-19

2 min read

James Stockdale adalah seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjadi tahanan di Vietnam. Ia ditahan 7,5 tahun di sana, tanpa menerima hak yang layak sebagai seorang narapidana. Siang dan malan, ia beserta tahanan Amerika lainnya menerima siksaaan fisik dan mental yang tak terbayangkan.

Namun akhirnya ia berhasil selamat dan tetap waras. Ia mengaku, salah satu yang “menyelamatkan” dirinya dan membuatnya tetap waras adalah ajaran Stoisisme-nya Epictetus. Ia memang membawa buku The Enchiridion (artinya ‘Pedoman’) karya Epictetus kemana-mana, bahkan selama perang dan ditangkap oleh gerilyawan Vietnam.

Stockdale sering mengutip perkataan Epictetus ”Dari beberapa hal, beberapa ada dalam kendali kita, dan yang lain tidak.” Musibah yang ia alami ada di luar kendalinya. Siksaan yang terima di luar kendali dirinya. Namun, sikapnya dalam menghadapi situasi ini ada dalam kendali dirinya. Maka ia memilih untuk menyikapi sebaik mungkin apapun yang ia alami. Mengutip Epictetus lagi, “Karena ini adalah tugasmu: bertindaklah dengan baik atas bagian yang diberikan kepadamu.” Ia menganggap bahwa ditahan adalah bagian dari skenario hidup yang perlu ia terima. Maka, ia menerimanya. Ia menerima bahwa dirinya adalah tawanan perang. Ia menghadapi realitas itu dengan berani.

Stockdale mengatakan “… tidak ada yang namanya ‘korban’ orang lain. Anda hanya bisa menjadi ‘korban’ dari diri Anda sendiri. Ini semua tentang bagaimana Anda mendisiplinkan pikiran Anda” Ia tidak menyerahkan jiwanya pada mereka yang menahannya. Fisiknya memang terpenjara, namun jiwanya tetap merdeka.

Ia tetap berpikir dan melakukan tindakan yang ia mampu. Ia mendisiplinkan pikirannya dan mendisiplinkan dirinya. “Tidak ada orang merdeka yang tidak menguasai dirinya sendiri” demikian katanya. Tak heran, ia masih meluangkan waktu untuk berolahraga setiap hari, karena menjaga fisik ada dalam kendali dirinya.

Stockdale mengkombinasikan antara optimisme dengan realitas. Ia tidak membohongi diri dengan delusi. Ia menghadapi realitas dengan berani.

Jim Collins mengabadikan sikap James Stockdale ini di dalam buku Good to Great karyanya. Ia menyebut keseimbangan antara optimisme dan realitas dengan istilah Paradoks Stockdale. Mengutip kalimat dari Stockdale, Collins mendefinisikan Paradoks Stockdale dengan “Keyakinan bahwa pada akhirnya kita akan menang, terlepas dari apapun kesulitannya, dan pada saat yang sama, kita harus menghadapi fakta paling brutal dari realitas kita saat ini, apa pun itu.”

Saat mewawancarai Stockdale untuk buku Good to Great, Jim Collins menanyakan situasi tawanan perang di sana. Ia bertanya: “Siapa yang tidak berhasil?”

“Oh, itu mudah,” katanya. “Para optimis.”

“Para optimis? Saya tidak mengerti, “ Jim Collins benar-benar bingung, berusaha memahami maksud dari Stockdale.

“Orang-orang optimis. Mmh, merekalah yang berkata, ‘Kita akan keluar pada hari Natal. Natal pun datang, dan pergi. Lalu mereka berkata, ‘Kita akan keluar pada hari Paskah. Paskah pun datang dan pergi. Lalu Thanksgiving, sampai Natal datang kembali. Dan mereka mati karena putus asa.”

Setelah jeda beberapa saat, Stockdale menoleh ke Jim Collins dan berkata, “Ini adalah pelajaran yang sangat penting. Anda harus memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya Anda akan menang, terlepas dari apapun kesulitannya, dan pada saat yang sama, harus menghadapi fakta paling brutal dari realitas Anda saat ini, apa pun itu.”

Sepertinya, layak bagi kita menerapkan Paradoks Stockdale dalam menghadapi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Ya, kita perlu optimis bahwa pandemi ini akan berakhir suatu saat nanti. Namun, kita juga perlu menghadapi realitas brutal bahwa di Indonesia pandemi masih berlangsung dan belum mencapai puncaknya. Bahkan, jika tidak ditangani dengan baik, ada kemungkinan situasi ini berlangsung sampai akhir tahun 2020. Pertanyaannya, apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapinya?

Tetap optimis, namun bersiaplah menghadapi realitas brutal. Fokus pada apa yang ada dalam kendali kita, jangan biarkan pikiran kita terlalu banyak mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali kita. Batasi asupan informasi tak berkualitas, pikirkan cara agar bisa tetap produktif dan bertawakal serta berdo’a agar Allah memberikan yang terbaik bagi diri kita.

“Kepanikan adalah separuh penyakit. Ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.”

Ibnu Sina

PS. Bila teman-teman tertarik mempelajari aplikasi praktis dari Stoisisme, silakan bergabung di kelas online Mindful Life yang saya selenggarakan melalui mindshare.id atau teman-teman bisa membaca buku Mindful Life karya saya yang bisa didapatkan di toko buku terdekat.

Referensi:

https://www.jimcollins.com/media_topics/TheStockdaleParadox.html

https://bigthink.com/personal-growth/stockdale-paradox-confronting-reality-vital-success?rebelltitem=1#rebelltitem1

TheStockdaleParadox.html http://lifestylemags.com/2017/11/16/james-stockdale-philosophical-fighter-pilot/

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.