fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Bagaimana Menguasai Skill Apapun dengan Cepat

2 min read

Penguasaan terhadap sebuah skill baru menjadi sebuah kebutuhan pasti di era sekarang ini. Kebutuhan penguasaan skill baru ini muncul karena tuntutan pekerjaan dan kebutuhan pengembangan diri. Tidak tertutup kemungkinan juga, kebutuhan penguasaan skill baru ini muncul dari keingininan untuk mengaktualisasikan diri. Sayangnya, banyak orang yang ingin menguasai skill baru namun beralasan tidak mempunyai waktu untuk mempelajarinya. Padahal, sebuah skill baru dapat dikuasai dengan cepat jika kita memahami prinsip-prinsipnya.

ilustrasi: www.popcultureninja.com
ilustrasi: www.popcultureninja.com

Saya menemukan prinsip-prinsip ini salah satunya karena hobby saya dalam mempelajari sesuatu yang baru. Prinsip-prinsip yang akan saya bagikan ini sudah terbukti bermanfaat dalam proses menguasai berbagai skill. Saya menggunakannya untuk mempelajari hypnosis sampai mempelajari beladiri wing chun. Hasilnya, alhamdulillah, memuaskan.

Mari kita mulai bahas prinsip-prinsipnya. Ada lima prinsip untuk menguasai skill apapun dengan cepat.

Prinsip Pertama, temukan alasan pribadi mengapa Anda ingin menguasai skill tersebut. Alasan pribadi ini ibarat bahan bakar yang membuat Anda mampu bertahan dalam proses menguasai skill tersebut. Tanpa alasan pribadi yang kuat, Anda akan mudah berhenti di tengah jalan sebelum mendapatkan kemajuan yang berarti.  Jadi, apa alasan Anda ingin menguasai skill tersebut? Mengapa menguasai skill tersebut penting bagi Anda?

Prinsip Kedua, pecah sebuah skill yang kompleks menjadi beberapa sub-skill yang lebih sederhana. Istilah keren untuk prinsip ini adalah DECONSTRUCTION. Pada saat awal mempelajari sebuah skill, adalah wajar merasa bingung dan overwhelmed dikarenakan terlalu banyak informasi baru yang masuk ke kepala Anda. Untuk itulah, Anda perlu memecahkan dan memetakan skill baru ini ke dalam beberapa sub-skill yang sederhana. Buat sub-skill tersebut sekecil mungkin, sesederhana mungkin, sehingga mudah bagi Anda untuk menguasainya. Misalnya, pada saat awal saya mempelajari beladiri wing chun, sangat banyak hal yang perlu dikuasai. Mulai dari kuda-kuda, postur, posisi tangan, penggunaan tenaga, dll. Belum lagi banyaknya istilah asing yang perlu dipahami (tan sao, bong sao, fuk sao, chi sao, pak da, yee jee kim yeung ma, dll). Ini semua sangat membingungkan. Maka, di awal yang saya lakukan adalah memecahnya, memilahnya, mengurutkannya dan memetakannya. Pada saat memilah, pilah dan pilih mana sub-skill yang esensial dan mana yang tidak esensial. Biasanya sub-skill yang esensial hanya 20% dari jumlah keseluruhan sub-skill yang ada. Fokuslah ke sub-skill yang esensial tersebut.

Prinsip Ketiga, penuhi dengan cepat latihan 20 jam pertama Anda. Menurut peneliti Josh Kaufman, 20 jam pertama saat mempelajari skill baru adalah waktu yang paling kritis. Banyak yang gugur dan berhenti di 20 jam pertama. Maka, kita perlu tetapkan target yang realistis, apa yang ingin kita capai di 20 jam pertama lalu kejar target itu dengan cepat. Lakukan 20 jam pertama Anda segera. Jangan gunakan waktu luang, namun luangkanlah waktu. Tanpa meluangkan waktu secara sadar, tidak akan ada waktu luang. Jika Anda meluangkan waktu 20 menit sehari, maka Anda memerlukan waktu 60 hari (dua bulan) untuk mencapai target pertama Anda ini. Pada saat 20 jam ini tercapai, Anda akan kaget dengan kemajuan skill Anda.

Prinsip Keempat, trust to yourself, don’t try too hard. Seringkali berusaha terlalu keras justru menghambat Anda dalam mengakuisisi sebuah skill baru. Yang perlu Anda lakukan bukanlah berusaha terlalu keras, melainkan masuk ke dalam situasi flow. Situasi dimana Anda hadir di sini saat ini, merasakan sukacita dengan apa yang Anda lakukan. Pada situasi inilah Anda dapat merasakan koneksi antara pikiran, perasaan dan tubuh Anda, sehingga proses belajar Anda menjadi sangat efektif. Pada situasi flow ini, mental Anda menjadi sangat rileks dan Anda mampu mengeksekusi skill baru Anda tanpa usaha, effortless. Lalu, bagaimana cara masuk ke dalam zona flow ini? Salah satu caranya adalah dengan melatih visualisasi. Bayangkan di dalam benak Anda, Anda  sedang melakukan skill baru Anda dengan baik. Bayangkan detailnya, rasakan seperti apa rasanya, dan Anda akan mendapatkan feeling-nya.  Latihan ini akan menjadikan perilaku yang divisualisasikan menjadi bagian alami dari tubuh Anda. Ingat, pikiran Anda tidak dapat membedakan antara kenyataan dengan imajinasi. Saat Anda mampu melakukan sebuah skill secara mental (membayangkan) tanpa hambatan, Anda pun akan dengan mudah mengeksekusi skill baru tersebut secara fisik.

Prinsip Kelima, dapatkan umpan balik. Mendapatkan umpan balik dari orang yang sudah menguasai skill yang sedang Anda pelajari adalah harta karun yang sangat berharga. Carilah umpan balik dari mereka. Demonstrasikan skill Anda di depan mereka dan minta umpan balik. Atau Anda pun dapat merekam diri Anda dan tunjukkan kepada mereka, minta umpan balik. Umpan balik yang tepat akan mengakselerasi penguasaan skill Anda. Bagaimana jika Anda tidak menemukan orang yang ahli dalam skill yang Anda sedang pelajari? Tonton rekaman Anda sendiri dan berikan umpan balik pada diri Anda sendiri. Meskipun ini tidak seefektif umpan balik dari orang lain, setidaknya Anda dapat melihat bagian mana yang perlu diperbaiki dari skill Anda. Setelah Anda mendapatkan umpan balik, segera terapkan perbaikan dan lihat bagaimana ia akan mengakselerasi penguasaan skill Anda.

Inilah lima prinsip yang dapat Anda manfaatkan untuk menguasai sebuah skill baru dengan cepat. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menemukan prinsip lain yang bermanfaat dalam proses menguasai skill baru? Jika ada, silahkan share di kolom komentar.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.