fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Saya, Dadung Awuk, dan Diponegoro

4 min read

Menyelusuri jejak sejarah memang sangat menarik. Merangkai satu kisah dengan kisah lainnya dan menyatukannya dalam jejaring makna. Seperti kembali ke masa lalu dan tenggelam di dalamnya. Namun yang lebih penting, menyelusuri masa lalu dapat menguatkan alasan keberadaan kita saat ini. Menginspirasi generasi mendatang, bahwa kita adalah turunan pejuang.

Seperti yang saya dan adik saya lakukan beberapa tahun terakhir. Kami tertarik untuk menggali benang merah antara cerita-cerita yang disampaikan oleh simbah-simbah kami. Kami mencatat cerita dari beliau-beliau, melengkapinya dengan tutur yang masih diingat oleh para bulik dan paklik. Tak lupa membaca beberapa referensi sejarah untuk memetakan alur waktunya.

Salah satu kepingan sejarah yang paling menarik dan paling saya ingat adalah nasihat dari mbah putri dari jalur ibu saya. Mbah putri sering mengatakan “kalian ini masih keturunan Dadung Awuk…” sampai saya penasaran, siapa yang dimaksud dengan Dadung Awuk ini. Apalagi, orang-orang tua di daerah Pemalang mengatakan bahwa keturunan Dadung Awuk punya ciri yg sama di antara alis matanya.

Dalam catatan sejarah, saya menemukan ada dua nama Dadung Awuk. Dadung Awuk yang pertama adalah pesaing Jaka Tingkir di era Kesultanan Demak Bintara. Dalam babad diceritakan, Dadung Awuk terbunuh dalam pertarungan melawan Jaka Tingkir. Jaka Tingkir sendiri kemudian nantinya menjadi Sultan Pajang dengan nama Sultan Hadiwijaya. Kisah Dadung Awuk ini diabadikan dalam seni pertunjukan rakyat (semacam ketoprak keliling) dari Gunung Kidul. Sepertinya, rakyat bawah lebih menyukai Dadung Awuk dibandingkan Jaka Tingkir. Jelas, Dadung Awuk yang dimaksud bukan yang ini.

Dadung Awuk yang dimaksud kemungkinan adalah Dadung Awuk yang kedua. Dadung Awuk sebagai nama samaran dari Raden Nayantaka. Raden Nayantaka merupakan putra dari Pangeran Buminata yang mengasingkan diri ke Pemalang.1

Pangeran Buminata sendiri merupakan putra dari Sunan Amangkurat III yang diasingkan ke Ceylon Srilanka oleh VOC (1708). Konon, seluruh pusaka Mataram ikut dibawa ke Srilanka olehnya. Sunan Amangkurat III diasingkan setelah kalah perang dengan Pangeran Puger, yang didukung oleh VOC. Pangeran Puger kemudian menjadi Sultan di Mataram bergelar Sunan Pakubuwono I.2

Kembali ke kisah Dadung Awuk. Saya bolak-balik menggali sejarah Dadung Awuk. Beliau ini dikenal sebagai pendekar sekaligus pemimpin yang sering mengobrak-abrik kompi VOC yang melewati Alas Roban. Sampai-sampai ia dicari oleh VOC. Karena Dadung Awuk ini nama samaran, VOC pun tidak berhasil menangkapnya.

Menariknya, dari catatan sejarah, Dadung Awuk ini tidak punya keturunan. Lha kok bisa-bisanya mbah putri menyebut saya sebagai keturunan Dadung Awuk? Belum lagi mbah buyut putri (namanya mbah Wasmah) juga pernah menasihati “Dewek kiye turune wong seneng tirakat Dadungawuk, kabeh penjaluke di ijabah sing penting tumindak sing bener….” (kita ini keturunan orang yang senang tirakat – Dadungawuk, setiap keinginan pasti akan diijabah yang penting bertindak yang benar).

Ada beberapa hipotesis terkait hal ini.

Pertama, Dadung Awuk punya keturunan. Namun, karena ia adalah buronan VOC maka ia menyembunyikan keturunannya ke umum.

Kedua, Dadung Awuk adalah nama samaran yang generik. Bisa jadi, ia tidak hanya dipakai oleh Raden Nayantaka namun juga oleh kakak-kakaknya. Hanya karena beliau ini anak bontot, maka julukan ini berakhir pada dirinya. Para kakak Dadung Awuk sendiri, misalnya kakak sulung yang bernama Rangga Rajegwesi (Palang Negara) memiliki banyak keturunan di Pemalang dan Tegal.

Sayangnya, dokumen tertulis terkait ini sangat sedikit sekali. Saya hanya menemukan beberapa catatan tangan dari simbah yang tertulis tanpa tahun. Dari catatan dan cerita, saya menyimpulkan salah satu keturunan Dadung Awuk yang dimaksud adalah Nyai Sadamah.

Nyai Sadamah kemudian menikah dengan Raksawana, prajurit Diponegoro yang singgah dan menetap di Pemalang (kemungkinan di desa Cibuyur, karena tahun 1830 lurah desa Cibuyur adalah prajurit Diponegoro bernama Ki Nalaguna). Raksawana dan Nyi Sadamah melahirkan Ishak Trunowarsito (1850-1930). Mbah Ishak menjadi da’i di desa Datar, Pemalang. Beliau mendirikan masjid pertama dan menjadi lurah di sana.

Menurut salah satu penutusan simbah saya, antara umur 45-50 tahun, mbah Ishak menunaikan haji ke Makkah. Perhitungan saya sekitar tahun 1895-1900. Di masa itu, naik haji tidak semudah sekarang. Beliau harus menyiapkan bahan makanan untuk keluarga yang ditinggalkan. Beliau juga harus membawa bekal menggunakan pedati ke pelabuhan Tegal.3

Mbah Ishak memiliki putra bernama Durham Darmowasito (1901-1976). Mbah Durham menggantikan mbah Ishak sebagai lurah pada tahun 1925, padahal pada masa itu usia beliau baru 24 tahun. Mbah Durham dikenal sebagai lurah yang murah hati. Setiap jam makan siang, pintu rumahnya dibuka lebar-lebar. Beliau menyiapkan masakan yang sangat mencukupi siapapun yang mampir ke rumahnya. Warga dipersilakan datang dan makan sepuasnya di sana.

Kepala chef-nya saat itu adalah menantu dari mbah Durham. Namanya Dirah, beliau putri lurah desa Kecepit yang dipersunting oleh putra sulung mbah Durham yang bernama Suharno Darmowasito. Mbah Harno dan mbah Dirah inilah yang kemudian melahirkan ibu saya. Di masa mudanya, mbah Harno senang mempelajari ilmu kanuragan. Beliau juga senang meneliti sejarah. Sayang, saat beliau meninggal, saya belum sempat belajar banyak.

Kesimpulan sementara, keluarga kami berasal dari pertemuan dua jalur bersejarah. Jalur pertama dari Dadung Awuk dan jalur kedua adalah dari jalur Raksawana, prajurit Diponegoro. Kedua jalur ini bertemu pada diri mbah Ishaq Trunowarsito.

Maka, ketika saya mendengar ceramah ustadz Salim A Fillah terkait Diponegoro, saya teringat dengan seluruh rangkaian cerita ini. Termasuk cerita ustadz Salim, bahwa prajurit Diponegoro menggunakan sandi untuk menandai rumahnya. Sandinya adalah pohon Sawo yang merupakan ungkapan dari kalimat ‘Sawwu sufu fii kum…’ – luruskan dan rapatkan barisan. Saya tanya ke simbah yang masih hidup, apakah dulu ada pohon Sawo di rumah mbah buyut? Jawabannya ada. Bahkan, ada pohon Kemuning di depan pendopo rumah. Saya kaget, karena jika pohon Sawo adalah sandi bahwa rumah ini adalah rumah prajurit Diponegoro maka kombinasi Sawo dan Kemuning adalah sandi bahwa pemilik rumah adalah keturunan beliau. Jadi, mungkinkah Raksawana bukan sekadar prajurit Diponegoro? Melainkan juga mungkin keturunannya? Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

  1. Saat Ayahnya diasingkan, Pangeran Buminata memilih untuk mengasingkan diri ke Pemalang. Mengapa ke Pemalang? Kemungkinan karena di sana tinggal anak keturunan kakek buyutnya yang bernama Pangeran Benawa. Pangeran Benawa sendiri merupakan raja Pajang ketiga, putra dari Sultan Hadiwijaya. Dia dipersaudarakan dengan Sutawijaya – pendiri kerajaan Mataram. Sultan Agung raja terbesar Mataram dan Ronggowarsito pujangga besar dari Surakarta adalah cucu dari Pangeran Benawa ini. Di masa tuanya, Pangeran Benawa turun tahta, menyerahkan Pajang kepada Mataram, lalu ia mengembara ke arah barat dan mendirikan sebuah kota baru bernama Pemalang.

  2. Pangeran Puger sebenarnya mertua dari Sunan Amangkurat III sekaligus paman. Beliau adalah adik dari Sunan Amangkurat II. Perselisihan terkait tahta ini sudah terjadi antara kedua kakak beradik ini. Ayah mereka, Sunan Amangkurat I sendiri meninggal dunia dan dimakamkan di Tegal, ketika melarikan diri dari serangan Trunojoyo (tahun 1677). Perlu diketahui, Sunan Amangkurat I adalah putra dari Sultan Agung. Namun, entah kenapa sikapnya terhadap VOC berbeda 180 derajat dengan Ayahandanya.

  3. Berdasar catatan, imam Masjidil Haram pada masa itu adalah Syaikh Ahmad Khathib Al Minangkabawi – ulama asal Minang yang tinggal di sana. Besar kemungkinan mbah Ishak turut memperdalam ilmu keislaman ke beliau (pada masa itu, mereka yang naik haji bisa tinggal 1-2 tahun di sana). Perlu diketahui, Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah, ayah dari HAMKA), Kyai Haji Hasyim Asy’ari (pendiri NU), dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) juga menimba ilmu dari Syaikh Ahmad Khathib. Meskipun tahun keberangkatan haji mereka di kisaran tahun yang sama, tidak ada catatan apakah mbah Ishaq pernah bertemu dengan beliau-beliau di Makkah atau tidak.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Rahasia High-Performing Team: Belajar dari Serial One Piece

Ada yang menyimak serial One Piece? Tidak banyak anime yang bisa saya tonton berseri-seri. One Piece adalah salah satu dari yang sedikit itu. Mengapa saya suka dengan...
Darmawan Aji
3 min read

Kenapa Kita Suka Menunda-Nunda

Kenapa banyak orang suka nunda kerjaan sampai mepet deadline? Dengan memahami Hukum Parkinson kita akan tahu mengapa nunda itu jadi masuk akal. Aku lupa kapan persisnya mengenal Hukum...
Darmawan Aji
1 min read

14 Replies to “Saya, Dadung Awuk, dan Diponegoro”

  1. Assalamualaikum mas Darmawan Aji ,salam kenal sy Bu Tri Atmi dr Pemalang ,br td pg ibu cerita bahwa dl nenek uyut menceritakan kl keturunan Dadung Awuk… Malah ibu saya pingin kenal sama mas aji ini no Contak saya 081226927351 bs hub saya ,trimakasih🤝🏼

  2. saya andika bin kusno sutejo bin margo bin sontowikromo, semua saudara kakek saya juga mengatakan kami keturunan dadung awuk dari garis laki laki. mohon di bantu pencerahannya.

  3. assalamu alaykum, saya andi dari tegal, saudara dari kakek kami juga mengatakan hal yang sama, kami keturunan dadung awuk, nama kakek kami margo bin santawikromo, yg saya mau tanya sebetulnya sontowikromo apa sontodikromo ??? mengingat mereka yg mengatakan itu sudah meninggal semua

  4. Asalamualaikum. Nyuwun sewu dedulur kabeh. Saya dri desa bumi jawa kabupaten tegal. Embah saya pernah bilang kamu dri keturunan eyang dadung awuk pernah di suruh zaroh kemakan beliau tempatnya desa mandiraja pemalang di sana ada sodara 1 keturunan eyang dadung awuk . Namun saat itu aku sendri tak memperdulikan omongan mbah saya sampai saat ini alhamdulilah blm pernah zaroh. Tolong jika ada sodara yg kenal hususnya orang mandiraja dengan sisilah saya. Mbah sidik bin buyut santa dikrama kabari saya yah. Insaalloh bisa silahturohmi.

  5. Iya nih, punteun sy jg baru tau dan penasaran setelah kemarin lebaran berkunjung ke saudara2 bapak sy di daerah warung pring dan moga.Mereka menceritakan mengenai silsilah sy msh turunan ke nasab dadung awuk!. Klo penuturan bapak sy sih sy msh turunan tp bapak enggan menceritakan lebih lanjut karena di masa kakek sy dan mbah kyai shahmari dari karang tengah, itu buku silsilahnya dimusnahkan dg alasan khawatir anak cucunya jd sombong.Namun sy dapat rekomendasi untuk tau lebih lanjut untuk datang ke ponpes cikuya tegal……. Wallohu a lam.

  6. Sedari kecil kami juga sering di ceritani oleh mbah buyut kami bahwa kami adalah keturunan dadung awuk, dari salah satu jalur anaknya turunnya yang kemudian menetap di balapulang – tegal. Di sini keluarga besar kami mayoritas tersebar di desa harjawinangun dan danawarih, dan alhamdulillah sampai kini masih menjalin silaturrahmi meski akhirnya menggunakan bani atau nama keluarga (anak turun) lainnya. Wallahu’alam

  7. apakah ada hubungan antara mbah dadung awuk dengan mbah pandan jati yang ada di moga pemalang.
    karena silsilah dari cerita turun temurun keluarga saya dadung awuk merupakan nama pasukan memang bagian dari pasukan diponegoro
    dan di balapulang ada makam yg tertulis tahun 1916

  8. keluarga mertua laki laki jugha mengaku keturunan ki dadung awuk ataw pendiri pemalang, secara ayah kakek dan moyang mereka adalah kades atau lurah turun temurun dan pohon sawo, kemuning dan senjata yang sudah diserahkan / diambil BRM Danang dari kasunan surakarta adalah beberapa hal yang erat dengan cerita kerajaan dan perjuangan jaman dahulu, wallohu a’lam

  9. Kang mas.mbah saya nama nya mbah suradikrama bin mbah zakaria asli bintara demak.makam nya dan rumah zaman dulu ADA CIRi KHAS YaITU POHON SAWO.SAMPAI SEKaRANG SAyA MASiH MENJEAK KElUARGA MBaH SAYa.MOHON IKATKN SAYA SMA KELUARGA BESAR DADUNG HAWUK.

  10. Admin pada saat mengkaji sejarah Mbah Dadung awuk, apakah benar beliau memiliki saudara yang bernama Mbah Gadung? Mbah gadung merupakan sesepuh dari desa Balapusuh, Tonjong,Brebes.
    Terima Kasih

  11. Admin pada saat mengkaji sejarah Mbah Dadung awuk, apakah benar beliau memiliki saudara yang memiliki nama Mbah Gadung?
    Terima Kasih

  12. Punya catatan Silsilah Keluarganya nggak, Mas hingga ke Mbah Dadung Awuk? Saya pun ada informasi bahwa keturunan Mbah Dadung Awuk itu ada, di antaranya di Brebes. Ada kemungkinan memang di Pemalang pun juga ada. Cuma kelemahannya memang budaya menulis Silsilah keluarga itu tidak dilakukan setiap keturunan Mbah Buminata, jadi hanya melalu cerita. Sy sendiri cek & menemukan terputus hanya sampai di 2 generasi di atas Mbah Saya (Canggah).

  13. Punya catatan Silsilah Keluarganya nggak, Mas hingga ke Mbah Dadung Awuk? Saya pun ada informasi bahwa keturunan Mbah Dadung Awuk itu ada, di antaranya di Brebes. Ada kemungkinan memang di Pemalang pun juga ada. Cuma kelemahannya memang budaya menulis Silsilah keluarga itu tidak dilakukan setiap keturunan Mbah Buminata, jadi hanya melalu cerita. Sy sendiri cek & menemukan terputus hanya sampai di 2 generasi di atas Mbah Saya (Canggah)

  14. Saya sangat tertarik dengan cerita saudara, pasalnya nenek saya pun semasa hidupnya sering bercerita demikian.. “kamu itu masih keturunan bupati pemalang dengan nama mbah dadung awuk atau kh.blendang”.

    yang beliau pernah ceritakan bahwa buyut saya dulu pernah di berikan semacam buku (silsilah keluarga) namun pada saat itu ada chaos di desa buyut saya kemudian di bakarlah buku tersebut..

    Walahua’lam..

    Saya hanya ingin mencari informasi mengenai mbah dadung awuk tersebut. Apakah benar dahulu kala ada bupati dengan nama mbah dadung awuk atau kh. Blendang? Atau itu hanya fiksi?

    Barang kali kita bisa bertukar informasi mengenai hal tersebut. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *