fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Tiga Elemen Penting dalam Menguasai Keahlian Apapun

2 min read

Saya termasuk orang yang senang mempelajari dan melatih banyak hal. Mulai dari pemrograman website sampai pemrograman manusia. Dari permainan sulap sampai permainan beladiri tradisional. Bacaan saya pun cukup beragam, mulai dari sastra yang filosofis sampai sains yang praktis.

Saya merasa punya dorongan dan minat untuk mempelajari hal yang beragam. Saya pun merasa penguasaan saya pada keterampilan yang beragam ini cukup baik. Meskipun tentu saja tidak sampai level ahli, karena saya memilih untuk ahli hanya di beberapa bidang yang menjadi fokus saya.

Dalam tulisan kali ini, saya akan membagikan tiga elemen yang cukup membantu saya untuk melatih dan menguasai keahlian baru. Saya merasa tiga elemen inilah yang membantu proses belajar saya selama ini. Mudah-mudahan dengan membagikannya, tiga elemen ini juga dapat membantu teman-teman untuk mempelajari keahlian baru yang ingin teman-teman yang ingin kuasai.

Elemen pertama, beginner’s mind.

Istilah aslinya adalah shoshin (初心). Istilah ini saya ambil dari filosofi dalam berlatih beladiri Jepang. ‘Sho’ (初) bermakna pertama; awal; permulaan. Sementara ‘shin’(心) bermakna hati, pikiran, pemikiran, perasaan atau niat. Dari kata per kata kita dapat memaknai shoshin sebagai pemikiran pertama atau niat awal. Namun terjemahan yang paling sering dipakai adalah pikiran pemula atau beginner’s mind.

Apa maksudnya? Seorang pemula cenderung terbuka, siap menerima apapun dari gurunya serta antusias dalam mendapatkan sesuatu yang baru. Maka, shosin bermakna sikap terbuka dan antusiasme untuk mempelajari sesuatu. Shoshin juga bermakna menghilangkan prakonsepsi (baca: sikap sok tahu) ketika mempelajari sebuah subyek – meskipun itu subyek lanjutan. Shoshin adalah sikap penting saat mempelajari sesuatu.

Kita akan kehilangan banyak hal ketika mempelajari sesuatu tanpa shoshin. Memegang prinsip shosin itu mudah ketika kita memang benar-benar pemula di satu bidang. Namun menjadi sulit ketika kita mempelajari ulang bidang yang sudah kita kuasai. Seperti saat saya berlatih silat aliran Cikalong. Ketika saya melihat silat Cikalong dari sudut pandang aliran yang saya kuasai sebelumnya, semua teknik Cikalong saya jadi mentah. Saya gagal menyerap apa yang diajarkan oleh pelatih saya.

Menerapkan prinsip shoshin membuat kita menjadi seperti spons yang mampu menyerap cairan apapun di sekitarnya. Seperti gelas kosong yang siap diisi cairan apapun. Shunryu Suzuki mengatakan: “In the beginner’s mind there are many possibilities, in the expert’s mind there are few.” – Ada banyak kemungkinan pada pikiran pemula, hanya ada sedikit kemungkinan pada pikiran yang merasa ahli.

Elemen kedua, mindful practice.

Kata pepatah repetition is mother of skill, pengulangan adalah ibu dari keahlian. Saya setuju. Namun, bukan sekadar mengulang. Namun melatih berulang-ulang apa yang saya pelajari secara sadar penuh, tenang, berhati-hati, tidak tergesa-gesa.

Menghadirkan kesadaran seutuhnya saat melatih sesuatu. Tanpa tergesa-gesa mendapatkan hasil. Saat tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil, kita cenderung akan menghakimi dan menilai. Saat kita menghakimi dan menilai, kita akan frustasi dengan apa yang kita lakukan. Lalu kita akan cemas dengan berbagai kesalahan. Ini akan menghambat kita dalam menguasai sebuah keahlian dengan baik.

Menghakimi diri sendiri akan menciptakan siklus emosi negatif yang menghambat pembelajaran. “Kok bisa terlupa?” “Bodoh sekali kenapa saya tadi melakukan hal itu?” “Saya nggak berbakat…” dan berbagai self-talk negatif lainnya. Penghakiman dan penilaian akan benar-salah atau baik-buruk saat berlatih hanya akan membuang-buang energi kita.

Saat berlatih, fokuslah berlatih seutuhnya. Lepaskan kemelekatan kita pada hasil akhir. Nikmati kesalahan-kesalahan yang terjadi. Lepaskan diri dari menilai: baik-buruk, benar-salah. Cukup lakukan aktivitas latihan Anda, perhatikan hasil yang muncul, lalu sesuaikan diri Anda agar semakin baik dari waktu ke waktu.

Elemen Ketiga, reflection.

John Dewey katakan “We do not learn from experience… we learn from reflecting on experience.” – Kita tidak belajar dari pengalaman… kita belajar dari merefleksikan pengalaman. Maknanya apa? Mengalami berulang-ulang saja tidaklah cukup. Kita perlu memberikan waktu bagi otak membentuk sebuah konstruksi pikiran baru.

Maka, setiap kali selesai berlatih kita perlu meluangkan waktu jeda sejenak, melakukan refleksi tentang apa yang sudah kita lakukan. Apa yang sudah baik? Apa yang perlu ditingkatkan? Apa makna baru yang kita dapatkan? Inilah proses yang akan memastikan kita semakin baik dari waktu ke waktu. Ingat, kita melakukan proses ini selesai berlatih, bukan saat berlatih.

Tanpa refleksi kita tidak akan mendapatkan kemajuan dalam berlatih. Kita hanya mengulang-ulang tanpa makna. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Confucius “Learning without reflection is a waste. Reflection without learning is dangerous.” – Belajar tanpa refleksi itu percuma, refleksi tanpa pembelajaran itu bahaya.

Mudah-mudahan tiga elemen ini bermanfaat bagi teman-teman dalam mempelajari sebuah keahlian baru.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.