fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Masihkah Engkau Mencintaiku?

1 min read

 

Apakah Anda mencintai anak Anda?

Tentu.

Lalu, apakah perilaku Anda mencerminkan rasa cinta pada mereka? dan apakah anak-anak Anda merasa dicintai oleh Anda?

 

 

Sambil membaca artikel ini, mari kita merenung sejenak.

Pernahkah Anda berpikir, mungkin salah satu perilaku kita membuat anak kita bertanya dalam dirinya: “Masihkan engkau mencintaiku wahai Ayah dan Bunda?”

Hal yang kita khawatirkan adalah,  kita bertindak pada anak kita berdasar kebencian yang tidak kita sadari.

Kebencian ini mulanya mungkin hanya setitik noda. Setitik noda yang muncul ketika melihat perilaku anak tidak sesuai harapan misalnya.  Namun, karena noda ini bertumpuk tahun demi tahun, akhirnya semakin menghitam, kelam.

Jadi, bagaimana membersihkannya? Bagaimana menumbuhkan kembali rasa cinta kepada anak kita?

Berikut langkah-langkah swa-terapi yang bisa Anda lakukan:

Tahap pertama: membuang energi negatif

  1. Ingat-ingatlah serangkaian kejadian yang membuat Anda kesal (marah, atau bahkan benci) pada anak Anda.
  2. Amati perasaan negatif yang muncul dalam diri Anda.
  3. Katakan perlahan-lahan dalam diri Anda (sepertiga dari kecepatan bicara normal): “Meskipun aku kesal karena melihatmu melakukan… (sebut perilaku sang anak), aku tetap mencintaimu apa adanya.”
  4. Ulangi kalimat di atas sambil rasakan perasaan negatif dalam diri Anda mengalir ke atas ubun-ubun dan menguap.
  5. Lakukan beberapa kali sampai Anda merasa lebih lega.

Tahap kedua: meningkatkan energi positif

  1. Ingat-ingatlah sebuah pengalaman atau peristiwa di masa lalu, saat Anda begitu bahagia melihat anak-anak Anda. Mungkin peristiwa saat anak-anak Anda masih kecil dan menggemaskan.
  2. Jika Anda sudah dapat mengingatnya, perjelas gambarnya, beri warna yang lebih terang, buat gambarnya lebih besar hingga Anda bisa melihat peristiwa itu dengan begitu nyata. Dengarkan suara-suara yang muncul dan buat semakin jelas.
  3. Alami kembali pengalaman ini. Rasakan seakan-akan Anda sedang mengalaminya kembali.
  4. Rasakan perasaan cinta yang muncul dan perkuat. Tarik napas yang panjang dan dalam dan biarkan perasaan cinta dan bahagia itu semakin menguat seiring dengan tarikan napas Anda.
  5. Sesaat sebelum perasaan itu mencapai puncaknya, sentuhkan tangan kanan Anda ke dada Anda. Niatkan, kapanpun Anda ingin merasakan perasaan seperti ini yang Anda lakukan cukup menyentuhkan tangan kanan Anda ke dada Anda. Ulangi langkah 4 dan 5 beberapa kali.

Tahap ketiga: melatih penerapan

  1. Lakukan tes. Sentuhkan tangan kanan Anda ke dada Anda. Apakah Anda bisa merasakan perasaan cinta itu muncul? Bagus.
  2. Sekarang imajinasikan sebuah peristiwa yang membutuhkan perasaan cinta ini. Mungkin peristiwa ketika Anda marah melihat anak Anda pulang terlambat. Munculkan gambaran peristiwa ini di benak Anda. Apa respon Anda saat itu yang paling Anda sesali?
  3. Putar balik kejadiaanya, kini, sebelum Anda merespon tindakan Anak Anda, sentuhkan tangan kanan Anda ke dada Anda. Rasakan perasaan cinta. Dengan perasaan cinta ini, respon seperti apa yang paling tepat untuk anak Anda? Lihat dan rasakan, bagaimana Anda bisa merespon kejadian tersebut dengan begitu bijaksana dan penuh cinta.

Cinta adalah energi yang bisa meruntuhkan keangkuhan. Selamat berlatih 🙂

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Masihkah Engkau Mencintaiku?”

  1. Betul selaki boss apa yang kita cari dalam bekerja hanyalah untuk anak-anak kita dan akan menjadi kebanggaan tersendiri ketika anak kita berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *