fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Disfungsional Bahasa

1 min read

Bahasa mencerminkan apa yang ada dalam diri seseorang. Bahasa mencerminkan belief system seseorang. Dalam konsep Family Therapy-nya Virginia Satir misalnya, penggunaan bahasa yang tak lengkap menandakan ada kondisi disfungsional dalam diri seseorang.

Satir mencontohkan dalam bukunya yang berjudul Conjoint Family Therapy (Science and Behavior Books, 1964) empat kategori disfungsi penggunaan bahasa[1].

Pertama, generalisasi.

Kecenderungan mengeneralisasi sebuah peristiwa. Menyatakan bahwa sebuah kejadian khusus berlaku umum. Misalnya:

Seseorang memperlakukan Anda secara tidak adil kemudian Anda menyimpulkan “tidak ada seorangpun yang menyukai saya”

Anda salah saat praktik resep masakan, lalu Anda mengatakan “Saya memang tidak bisa memasak”

Atau kalimat-kalimat serupa, misalnya:

“Semua orang seperti itu.”

“Semua wanita itu sama saja.”

Kedua, ‘permanenisasi’.[2]

Membuat situasi yang temporer menjadi permanen. Mengasumsikan bahwa penilaian kita terhadap dirinya/dunia luar/orang lain tidak akan berubah selamanya. Contoh:

“Beginilah saya”

“Itulah cara dia.”

“Dunia memang tak adil”

Ketiga, berpikir hitam/putih.

Tidak ada abu-abu di antaranya. Menganggap hanya ada dua alternatif dalam memandang sesuatu: benar atau salah, ya atau tidak, baik atau buruk. Contoh:

“Entah dia mencintai saya, atau membenci saya.”

“Jika Anda tidak mendukung saya, maka Anda pasti menentang saya.”

“Hidup itu seperti berjudi, entah Anda menang besar, atau Anda akan kalah besar.”

“Inilah cara yang benar dalam menjalankan bisnis”

Keempat, pembacaan pikiran.

Mengasumsikan bahwa kita bisa membaca pikiran orang lain. Menganggap diri kita mampu membaca pikiran dan perasaan orang lain, tanpa orang lain mengatakannya.

“Saya tahu bahwa dia berpikir saya adalah orang yang membosankan”

“Saya yakin bahwa mereka tidak menginginkan saya dalam tim ini”

“Saya tahu apa yang kamu pikirkan.”

“Saya tahu persis siapa yang dia maksud.”

 

Untuk menantang keyakinan yang disfungsional ini, Satir mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sepuluh tahun kemudian dikenal sebagai Pertanyaan Meta-Model di dalam NLP. Tujuan dari pertanyaan ini adalah menantang belief seseorang. Dengan proses ini, diharapkan orang yang mengujarkan kalimat tersebut menyadari keyakinan di balik pernyataannya dan ia dapat memodifikasi keyakinannya.

Contoh:

Menantang Generalisasi

“Semua wanita sama saja”

“Maksud Anda semua wanita atau hanya wanita yang Anda tahu?”

 

“Semua orang seperti itu”

“Apa maksudmu, ‘semua orang’ seperti itu? Apakah yang Anda maksud istri Anda, bos Anda, atau siapa?”

 

Menantang Pembacaan Pikiran

“Saya tahu apa yang kamu pikirkan.”

“Bagaimana Anda bisa tahu apa yang saya pikirkan?”

 

Menantang ‘permanenisasi’

“Beginilah saya”

“Begini itu yang bagian mana persisnya? Kapan persisnya Anda begini? Apakah Anda selalu begini? Di manapun? Kapan pun?”

 

Menantang pikiran hitam/putih.

“Entah dia mencintai saya, atau membenci saya.”

“Maksudmu apakah semua orang yang tidak mencintaimu berarti pasti membencimu?”

 

“Inilah cara yang benar dalam menjalankan bisnis”

“Cara yang benar menurut siapa? Seperti apa cara yang tidak benar? Apakah selalu benar menjalankan bisnis dengan cara seperti ini?”

 

[1] Catatan ini saya buat setelah membaca salah satu artikel Michael Hall. Istilah, kategori dan contoh-contoh saya buat menurut penafsiran saya.

[2] Mohon maaf kalau istilah yang satu ini agak ‘maksa.’

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *