fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Menemukan Keindahan di Balik Setiap Perpisahan

2 min read

Semalam saya menonton film Collateral Beauty di channel HBO. Meski skor IMDB-nya hanya 6,8, film ini tetap menarik untuk dinikmati. Collateral Beauty menceritakan tentang Howard (Will Smith) yang mengalami kesedihan mendalam usai meninggalnya Olivia – sang putri kecilnya. Film ini mengingatkan saya pada masa-masa saya kehilangan ibu – seorang wanita tegar yang membesarkan dan mendidik saya. Sangat teringat dalam benak saya saat ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhirnya di depan saya. Setelah setelah ibu meninggal, saya membohongi diri seakan-akan ibu masih ada di rumah, dia hanya pergi sementara. Toh saya masih bisa merasakan usapan lembutnya, saya masih bisa mendengarkan senandungnya, saya masih bisa membayangkan senyumnya. Saya mengalami menyangkal kenyataan ini untuk meredam kesedihan mendalam yang saya rasakan. Sampai akhirnya, muncul kemarahan, pada Bapak pada diri sendiri. Hingga saya mengalami penyesalan berkepanjangan karena belum mampu memenuhi keinginan terakhir ibu. Beruntung akhirnya saya bertemu seorang kawan yang membantu saya melewati masa-masa ini.

Menonton film ini juga mengingatkan saya pada lima tahap kesedihannya Kübler-Ross. Menurut Kübler-Ross, saat seseorang mengalami kesedihan yang mendalam (kehilangan atau kematian seseorang yang ia sayangi), ia akan melalui lima tahapan: denial, anger, bargaining, depression, acceptance. Berikut penjelasan ringkasnya.

Tahap pertama, denial – penyangkalan.

Menyangkal peristiwa yang sudah terjadi. Tidak percaya bahwa hal tersebut benar-benar terjadi. Menganggap kejadian itu hanya sebuah mimpi. Bentuk penyangkalan lainnya adalah menganggap ini adalah sebuah kesalahan dan berharap apa yang ia dengar tidak benar-benar nyata.

Tahap kedua, anger – kemarahan.

Marah, frustasi dan cemas dengan kenyataan yang terjadi. Mempertanyakan “mengapa hal ini terjadi kepada saya?” “hidup ini tak adil!” dan berbagai pertanyaan lainnya. Kita mulai menyalahkan pihak lain, menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain dan menyalahkan siapapun di luar diri kita.

Tahap ketiga, bargaining – pertukaran.

Pergulatan mencari makna di balik kejadian tersebut. Kita mulai berdo’a, meminta agar Tuhan memberikan yang lebih baik, mencoba bernegosiasi dengan-Nya. Kita pun mulai berusaha mencari bantuan dari pihak lain. Menceritakan apa yang ia alami kepada orang lain dan berusaha menemukan hikmah di baliknya.

Tahap keempat, depression – ketidakberdayaan.

Bingung, merasa tidak berdaya dengan pengalaman yang dialaminya. Kita merasa kosong, merasa ada yang hilang. Kita pun mulai mati rasa, mencoba menghilangkan perasaan agar tidak merasakan apapun. Sebagian mulai menarik diri dari lingkungan, merasa dunia terlalu ramai, membutuhkan kesendirian. Beberapa pemikiran destruktif (seperti bunuh diri) biasanya muncul di sini. Tahap ini krusial, kita memerlukan teman untuk melaluinya.

Tahap kelima, accceptance – penerimaan.

Bila kita berhasil melalui keempat tahap di atas, kita akhirnya mulai ikhlas menerima kejadian, berhasil menemukan makna baru yang benar-benar membuatnya mau melepaskan apa yang tadinya ia genggam. Kita mulai merasa oke dengan kehilangan kita. Kita mulai hidup di atas kenyataan.

Di dalam film Collateral Beauty, kita bisa melihat bagaimana tahap-tahap di atas dilalui oleh Howard. Tahap denial nampak dari bagaimana ia menyangkal kematian anaknya. Sampai ia tidak bersedia menyebut nama anaknya dan menceritakan penyebab kematiannya. Ia bahkan tidak mau menandatangani surat kematian sang anak. Tahap anger terlihat dari kemarahannya pada cinta, waktu dan kematian. Dia menganggap ketiga ‘hal’ tersebut bertanggungjawab atas kematian anaknya. Tahap bargaining muncul saat ia bernegosiasi dengan ‘kematian.’ Juga pergulatannya mencari makna di balik kematian anaknya dengan mencoba menghadiri sebuah group therapy. Adegan dia mengurung diri di kamar, menyendiri menunjukkan tahap depression. Sampai ia akhirnya nekat bersepeda melawan arus lalu lintas di jalan raya. Akhirnya, film ini diakhiri dengan kisah bahagia saat ia akhirnya bersedia menerima kenyataan, ia masuk tahap acceptance. Pada akhirnya Howard menemukan Collateral Beauty – keindahan yang menyertai setiap perpisahan.

“Are you losing somebody? Just make sure you notice the collateral beauty…” ~Madelline

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Seni Menyampaikan Umpan Balik

Di artikel yang lalu kita sudah belajar bahwa umpan balik itu penting. Kita perlu memberi umpan balik untuk meningkatkan performa seseorang, menyelaraskan harapan, dan...
Darmawan Aji
2 min read