fbpx

Shiny Object Syndrome, Gejala, dan Cara Mengatasinya

2 min read

cara untuk fokus

Seminggu yang lalu, kita baru saja mencanangkan membaca satu buku baru. Tiba-tiba seorang teman datang dan bercerita tentang kelas baru yang saja ia ikuti. Kelas yang menurutnya, sangat menginspirasi dan mengubah prespektif hidup.

Tanpa pikir panjang kita pun segera ikut mendaftar, dan membuat rencana agar bisa menyelesaikan kelas baru tersebut.

Saat melihat planner barulah sadar, ternyata ada banyak tantangan yang selama ini belum bisa kita tuntaskan.

Apa yang terjadi, inikah Shiny Object Syndrome? Mengapa kita bisa “terinfeksi” penyakit menyebalkan tersebut?

Shiny Object Syndrome atau SOS, dulu sering disebut sebagai penyakit para entrepreneur, yang sering loncat dari satu ide bisnis ke ide bisnis lain, padahal ide yang di depan mata belum juga kegiatan hasilnya.

Pada kenyataanya, sindrome ini bisa terjadi pada siapa saja. Menurut Payman Taei, founder Visme.co, ada beberapa penyebab SOS, diantaranya

  1. Merasa masih muda, dan kurang pengalaman, hingga semua ide terlihat keren. Semua kelas adalah ilmu dan pengalaman yang patut dimiliki.
  2. FOMO; kekawatiran jika ketinggalan tren akan membuat kesuksesan menjauh, tidak up date, dan lain sebagainya.
  3. Belum menemukan passion

Tanda “terinfeksi” Shiny Object Syndrome

Seorang entrepreneur mungkin akan berkata, jika mengeksekusi merupakan caranya untuk bertahan, atau menjalankan bisnis.

Memiliki ide yang berlimpah, memang salah satu syarat seorang enterpreneur. Namun perlu diingat jika teman-teman terbiasa pindah dari satu ide ke ide yang lain, -sementara project yang teman-teman tekuni saat ini belum terlihat hasilnya,- bisa jadi ini merupakan tanda dari shiny object syndrome.

Tiga tanda lainnya adalah

#1. Susah menyelesaikan satu project/ satu pekerjaan

Seperti peribahasa ke langit tak pernah sampai, ke bumi tak pernah nyata; dengan anggapan project lain lebih prospektif, ide lain lebih cemerlang; maka begitu ada ide datang, tanpa pertimbangan mendalam, langsung saja dieksekusi. Padahal, ongoing project pun dikerjakan separuh.

Berbati-hatilah, bisa jadi gejala SOS sudah mulai menghinggapi.

#2. Merasa bersalah jika tidak menjawab tantangan yang datang

Apapun profesi teman-teman, kita sering mendengar nasehat, jika ingin bertahan, harus sering update informasi, lebih kreatif, berani mencoba hal baru, dan lain sebagainya.

Dan saat memilih mengabaikan “panggilan” ide atau tantangan baru, kadang rasa bersalah, kekawatiran, atau takut gagal akhirnya perlahan mulai mengganggu.

Bila ini sering terjadi, mulailah waspada, siapa tahu ada bibit SOS dalam diri teman-teman.

#3. Punya daftar “undone”/ “unused”

Bila teman-teman punya plugin situs yang tak digunakan, kursus online yang tidak kelar, situs yang hanya dibayar biaya tahunannya (tapi isinya kosong melompong), boards Trello yang berjejer; … sepertinya teman-teman punya gejala SOS.

Apakah 3 tanda diatas sering ada pada diri teman-teman? Jika ya, cobalah 6 cara untuk mengatasi Shiny Object Syndrome di bawah ini.

4 Cara melepaskan diri dari Shiny Object Syndrome

Menyadari kondisi diatas mungkin teman-teman akan mulai merasa kesal, stres, bahkan benci diri sendiri. Sayangnya, teman-teman juga tidak punya keberanian untuk melepaskan salah satu dari daftar diatas.

Berikut ini adalah cara untuk mengatasi SOS dan menjadikan hidup kita lebih baik.

#1. Pertimbangkan setiap shiny object yang datang

Jika mendengar ide baru, kesempatan emas, atau kursus terbaru, cobalah tahan diri terlebih dahulu; jangan langsung memutuskan, “Okay, I am in.”

Endapkan terlebih dahulu ide yang muncul. Umumnya, jika setelah 24 jam ide tersebut masih kita pikirkan terus, maka biasanya butuh pertimbangan lebih mendalam.

Gunakan pertanyaan sebagai bahan pertimbangan

“Apakah kursus ini bisa segera aku terapkan?”

“Apakah waktu dan biaya yang aku keluarkan untuk project baru akan sebanding dengan hasil yang ku peroleh dari ide baru?”

“Apakah aku punya waktu dan tenaga untuk project baru ini?”

“Apakah ide baru ini sesusuai dengan motivasi hidupku?”

Petimbangkan semua baik buruk dari Shiny Object yang datang. Akan lebih baik jika pertimbangan ini ditulis diatas kertas, tidak hanya sekedar pertimbangan di kepala saja.

#2. Check apakah Shiny Object sesuai dengan goals hidup

Coba buka lagi goals bisnis atau goals hidup teman-teman, dan cek, apakah si Shiny Object ini sesuai dengan big picture teman-teman.

Cara lainnya, berlatihlah dengan sistem Warren Buffet way, seperti dibawah ini:

  1. Buat 25 daftar teratas yang berkaitan dengan goals bisnis dan hidup teman-teman
  2. Pilih 5 hal dari daftar diatas
  3. Mulailah kerjakan 5 goals di nomor 2

Bagaimana dengan 20 goals lainnya? Abaikan saja dulu.

Tujuan dari latihan ini untuk melatih fokus dan mencegah pikiran kita memikirkan hal-hal baru yang belum tentu kita butuhkan atau bermanfaat.

Jika suatu saat ada hal baru muncul, dan teman-teman tidak tahan untuk memikirkannya, gunakan daftar pertanyaan seperti diatas, dan kembalilah ke daftar prioritas-5.

#3. Latihan membuat prioritas

Setiap waktu kita berharga, bahkan dalam mahzab produktivitas, waktu lebih berharga daripada uang.

Dan setiap pilihan yang kita buat akan selalu ada harga yang harus dibayar. Karena itu, belajar menentukan prioritas sangatlah penting.

Caranya? Coba jawab pertanyaan berikut ini, “Jika esok hari adalah waktu terakhir teman-teman di dunia ini, project apa yang hendak teman-teman selesaikan?”

Kelihatannya memang agak ekstrim, tapi cobalah, menentukan prioritas akan lebih mudah dengan cara seperti diatas.

#4. Lakukan riset dan cobalah

Poin terkahir ini, terkait dengan poin nomor 2.

Jika memang si Shiny Object ini lolos “verifikasi” 5-goals dan picture, maka buatlah perencanaan, dan lakukan riset mendalam. Terutama apakah hasil yang akan kita peroleh benar-benar seperti yang kita bayangkan?

Jika jawabnya ya, maka cobalah ide tersebut, namun tidak lebih dari 30% waktu teman-teman.

Selamat mencoba, semoga ide diatas membantu teman-teman lepas dari rasa bersalah karena Shiny Object Syndrome.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *