fbpx

3 Pelajaran Membangun Kebiasaan Baik dari Hadits Bukhari Muslim

2 min read

membangun kebiasaan baik sesuai hadits nabi

Seperti yang sudah sering kita dengar, jika habits atau kebiasaan kita sehari-hari adalah pondasi kita menuju kesuksesan. Dan sebagai muslim yang percaya pada hari pembalasan, kita perlu menjadikan arti sukses ini, sebaagi sukses di dunia dan di akhirat.

Penting juga bagi kita untuk meluangkan waktu, memilah mana kebiasaan yang baik dan menghentikan kebiasaan buruk, jika kita ingin menjadi versi terbaik dari diri kita.

3 Pelajaran penting tentang membangun kebiasaan baik dari hadits

Jika mengaitkan amalan sehari-hari dengan hadits Nabi, kita biasanya akan mengingat amalan ibadah sunah seperti solat lail, berpuasa di hari Senin dan Kamis, memperbanyak membaca Al Qur’an, dan masih banyak lagi.

Tapi jika kita memahami lebih dalam, sebetulnya ada 3 nasehat praktis yang bisa kita lakukan terkait dengan membangun kebiasaan baik.

#1. Konsistensi

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,

Masruq bertanya kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha: “Amalan apa yang paling dicintai oleh Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam? maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjawab, ‘Yang terus-menerus dilakukan’.

Dari hadits tersebut kita dapat belajar, bahwa membangun konsistensi sangatlah penting.

Biasanya, saat kita ingin mencapai sesuatu, kita melakukan perubahan secara revolusioner, meletakkan semua fokus kita untuk mencapai goals yang kita inginkan.

Bagi sebagian orang, cara ini mungkin berhasil; sayangnya, tidak bagi sebagian besar kita.

Melakukan perubahan besar-besaran seketika, sering terasa sangat berat. Satu dua hari pertama berhasil, tapi kebanyakan menyerah, di hari berikutnya. Akhirnya rencana hanya menjadi resolusi, tanpa ada realisasi.

Hadits di atas mengajarkan kita untuk fokus pada tindakan yang dapat kita pertahankan. Poin utamanya adalah, mengubah pola pikir kita dari perubahan perilaku jangka pendek, -atau tantangan dalam waktu terbatas,- menuju perubahan gaya hidup jangka panjang.

Fokus pada konsistensi juga bisa menanamkan rasa tanggung jawab pada diri kita.

Konsistensi sering terkait erat dengan membuat komitmen dan membuat pilihan atau keputusan yang tepat. Dan sikap ini akan membantu kita lebih bertanggung jawab atas setiap komitmen dan pilihan yang kita ambil.

membangun kebiasaan baik sesuai hadits nabi
Konsisten, lakukan semampunya
adalah cara membangun kebiasaan baik sesuai hadits nabi

2. Lakukan semampunya

Dalam hadits lain, Ummul Mukminin Aisyah –radhiyallahu ’anha-, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahui lah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.

Hadits di atas tidak hanya menekankan tentang melakukan ibadah dengan rutin, namun juga amalan yang sesuai dengan kemampuan kita.

Kita cenderung mengaitkan “sebuah tindakan akan memiliki arti”, dengan seberapa besar kita melakukannya.

Sebagai contoh, saat ingin membangun kebiasaan membaca Al Qur’an seusai mengerjakan sholat. Kita merasa tidak pantas atau keterlaluan jika hanya membaca 10-20 ayat saja. Kita menganggap sudah sewajarnya kita membaca ½ – 1 juz setiap usai sholat.

Namun karena membaca berlembar-lembar butuh waktu tidak sebentar, maka kita malah cenderung menangguhkannya dengan alasan harus segera kembali bekerja, mengantuk, lelah, dan lain sebagainya.

Tidak berarti salah jika membuat target besar. Yang salah adalah membuat target terlalu tinggi pada saat membangun kebiasaan tersebut. Lebih baik membiasakan diri membaca Al-Qur’an 10-20 ayat seusai sholat, namun pasti dan kontinu dilakukan.

Temukan standar terkecil dari kebiasaan yang ingin teman-teman bangun. Jika kebiasaan telah terbentuk, barulah naikkan standar tersebut secara perlahan.

Kebiasaan kecil dan mudah menumbuhkan tingkat kedisiplinan yang nantinya akan teman-teman butuhkan untuk meningkatkan usaha di kemudian hari.

Artikel terkait: 7 Quotes Motivasi, Inspirasi Sederhana dari Buku Atomic Habits

3. Proses lebih penting dibandingkan hasil

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi SAW pernah bersabda

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.”

Ketika kita berniat menghafalkan Al-Qur’an, namun tidak pernah melakukan rencana tersebut, maka kemungkinan kita hanya akan mendapat pahala dari niat.

Beda halnya ketika niat tersebut kita laksanakan, meski hanya satu ayat sehari (atau malah dua hari), kita tetap akan mendapatkan pahala (Insya Allah), walaupun sesekali meninggalkan amalan tersebut karena sakit atau sedang bepergian.

Kita sering terjebak pada hasil akhir, sehingga melupakan proses sehari-hari. Padahal proses inilah yang justru lebih membawa keberlanjutan dan barakah.

Bangun perubahan dan kebiasaan baik bersama kelas “27 Hari Mengubah Hidup”

Hidup kita adalah rangkaian pilihan, termasuk dalam memilih kebiasaan mana yang hendak kita bangun.

Alangkah lebih baik jika kita membangun kebiasaan yang sesuai dengan tujuan hidup, passion dan kekuatan kita.

Kami merekomendasikan kelas “27 Hari Mengubah Hidup” untuk membantu teman-teman menentukan kebiasaan mana yang perlu dibangun guna mencapai tujuan hidup teman-teman.

Kelas ini, Alhamdulillah sudah diikuti oleh 350 lebih peserta, dan dengan review kelas yang cukup memuaskan.

Silahkan hubungi:

Atau kunjungi situs ruangtraining.com untuk mendapatkan gambaran detil kelasnya.

Selamat membangun kebiasaan baik, dan sampai jumpa di kelas. 😊