fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Tahu, Paham, Bisa

1 min read

Kalau teman-teman pernah belajar taksonomi Bloom, saya yakin teman-teman familiar dengan istilah: knowing, understanding, applying, analyzing, evaluating, creating. Saya akan bahas sedikit tiga level pertamanya:

  • Tahu
  • Paham
  • Bisa

Tahu tentang coaching berbeda dengan paham tentang coaching. Paham tentang coaching, belum tentu bisa melakukan coaching. Ketiga hal tersebut berada di level kemampuan yang berbeda. Untuk bisa melakukan coaching, kita perlu paham bagaimana melakukan coaching terlebih dulu. Dan untuk paham, kita perlu tahu apa itu coaching terlebih dulu. Ini adalah sunnatullah dalam belajar. Belajar memerlukan tahapan: tahu, paham, baru bisa.

Tahapan ini berlaku pada pengetahuan dan skill apapun. Facebook Marketing misalnya. Orang banyak yang tahu tentang Facebook Marketing. Berapa banyak yang paham bagaimana melakukannya? Kemudian mereka yang sudah paham, apakah pasti bisa melakukannya? Belum tentu. Karena paham dan bisa berada di lapisan yang berbeda. Bisa ada di level di atas pemahaman. Kalau di dunia kungfu ada istilah Keyboard Warrior – mereka yang sangat tahu dan paham tentang kungfu. Jago berdebat dan berdiskusi di dunia maya berbekal pengetahuannya. Bisa menceritakan berbagai konsep dan teknik kungfu. Namun saat bertemu tatap muka dengan mereka ternyata mereka tidak bisa apa-apa. Tahu, paham, dan bisa memerlukan proses yang berbeda untuk mencapainya.

Nah, terkait ini, banyak orang yang salah menempatkan ekspektasi saat belajar. Entah saat mengikuti kelas, seminar, training atau baca buku. Banyak orang berharap langsung bisa selesai ikut training. Banyak yang berharap langsung bisa setelah baca buku. Padahal untuk sampai ke level bisa, kita perlu tahu dan paham dulu.

Level tahu bisa kita dapatkan cukup dengan membaca atau ikut seminar. Untuk paham, kita perlu membuat catatan, skema, mencorat-coret, menghubungkan dengan apa yang sudah kita tahu, menghubungkan dengan pengalaman kita, berdiskusi, nanya-nanya, membuat hipotesis, memvalidasinya dan berbagai proses belajar aktif lainnya. Setelah itu, barulah kita paham. Kita akan mendapatkan Aha! Moment atau insight. Kita bisa melihat gambaran besar sekaligus elemen-elemen detailnya di dalam benak kita dengan jelas dan clear. Setelah itu, apakah kita langsung bisa menerapkannya di dunia nyata? Belum tentu. Untuk sampai ke level bisa kita perlu mempraktikkan dan melatihnya berulang-ulang. Kita perlu masukan (feedback; umpan balik) dari praktisi yang sudah melakukan (senior, mentor, coach, atau siapapun). Setelah melalui minimal 20 jam praktik, barulah kita bisa mulai menerapkannya dengan lumayan. Kalau kita ingin sampai di level ahli (world-class performer) bahkan kita perlu melatihnya selama minimul 10.000 jam!

Jadi, saat mengikuti pelatihan, membaca buku atau belajar apapun, pastikan kita menetapkan target yang realistis. Kejar tahu dulu, lalu aktiflah bertanya dan berpikir supaya paham, setelah itu jangan lupa untuk melatihnya, mempraktikkannya. Dengan demikian, Anda akan ahli di bidang Anda. Apapun bidang yang Anda pilih.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *