fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Saya Tidak Punya Waktu

1 min read

“Saya tidak punya waktu”

“Suatu hari nanti, ketika saya punya waktu, saya akan…”

Kalimat ini terdengar familiar? Berapa banyak Anda mendengar orang di sekitar Anda mengatakan hal ini? Berapa sering Anda mengatakan hal ini kepada diri Anda sendiri?

Ketika Anda punya keinginan, apapun itu. Memulai bisnis baru. Membaca lebih banyak buku. Mengambil S2. Ikut pelatihan. Berolahraga rutin. Liburan dengan anak-anak. Lalu kita merasa tidak punya waktu, biasanya kalimat itu pun muncul dengan berbagai variasinya.

“Nanti, ketika waktu saya sudah mulai longgar, saya akan…”

“Suatu saat, ketika kerjaan nggak sepadat sekarang, saya akan…”

“Suatu hari, ketika saya punya waktu luang, saya akan…”

Kalimat-kalimat seperti ini didasari oleh kesalahan berpikir tentang waktu.

Setidaknya, ada tiga kesalahan berpikir terkait mengelola waktu.

saya-tidak-punya-waktu

Pertama, kita berpikir bahwa kita akan memiliki waktu lebih banyak waktu di suatu saat nanti (entah kapan) dibandingkan saat ini.

Saya menyimpulkan, kalimat inilah yang melatarbelakangi kalimat-kalimat di atas. Termasuk kalimat: “kita akan lakukan nanti kalau anak-anak sudah besar, setelah saya pensiun, setelah semua kerjaan ini beres… maka saya akan punya lebih banyak waktu”

Sayangnya, waktu yang seperti itu tidak akan hadir. Kita akan selalu disibukkan dengan berbagai rutinitas. Sampai kita masukkan batu besar terlebih dulu sebelum pasirnya. Saya percaya, tidak ada yang namanya waktu luang. Yang ada adalah kita mau meluangkan waktu, atau tidak. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang kita inginkan, tidak akan ada waktu luang. Sesederhana itu.

Kedua, kita berpikir bahwa kita tidak punya waktu.

Faktanya, waktu yang kita miliki semuanya sama, 24 jam sehari, setara dengan 1.440 menit sehari, 86.400 detik sehari. Maka ketika Anda ingin membaca buku secara teratur namun Anda beralasan, “saya tidak punya waktu” – itu adalah sebuah kebohongan. Toh faktanya, semua orang punya waktu yang sama. Bedanya, ada yang menyempatkan membaca buku, ada yang tidak. Kebenarannya adalah, “saya menganggap aktivitas membaca buku itu tidak penting, tidak berharga, saya memilih untuk melakukan aktivitas lain”

Saat kita diajak bertemu dengan seseorang, dan kita berkata “saya tidak punya waktu” – sebenarnya kita sedang membohongi orang lain dan diri sendiri. Kebenarannya, ada aktivitas yang lebih penting untuk dilakukan di waktu yang sama. Dan kita memilih untuk melakukan aktivitas itu.

Ketiga, kita berpikir bahwa kita dapat menghemat waktu, entah bagaimana caranya.

Waktu berbeda dengan uang. Anda dapat menghemat uang dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan. Namun, tidak demikian dengan waktu. Digunakan ataupun tidak, ia akan tetap berjalan. Waktu yang kita miliki tidak akan berkurang, tidak akan berlebih. Aktivitas di dalamnya lah yang membedakannya.

Ya, waktu adalah rangkaian aktivitas hidup. Jika ia (secara sadar) tidak diisi dengan aktivitas yang produktif dan bermanfaat maka (secara tidak sadar) ia akan terisi dengan aktivitas yang tidak produktif dan tidak bermanfaat.

Saya ingat, ustadz Hasan Al Bana mengatakan, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Barangsiapa menyia-nyiakan waktu, sesungguhnya ia menyia-nyiakan kehidupannya. Tugas kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Masihkah kita akan menyia-nyiakan waktu kita?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.