fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Resolusi Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Motivasi

1 min read

Kita lanjutkan bahasan kemarin ya: penyebab gagalnya resolusi. Kali ini kita bahas faktor kegagalan ketiga yaitu hanya mengandalkan semangat dan motivasi. Yup, mempertahankan resolusi tidak cukup hanya dengan mengandalkan motivasi. Sebuah survei menyebutkan bahwa 50% orang kehilangan motivasinya di tengah jalan. Artinya, motivasi tidak bisa diandalkan. Lalu, apa solusinya? Solusinya kita perlu membangun sistem pendukung (support system) di sekitar kita.

Pertanyaannya, kenapa kita membutuhkan sistem pendukung? Karena mengubah perilaku dan membentuk kebiasaan baru itu perlu waktu. Riset menunjukkan kita membutuhkan waktu 18-254 hari sampai perilaku itu menjadi otomatis, angka rata-ratanya di 66 hari. Nah, mempertahankan perilaku selama 66 hari awal ini yang tidak mudah. Kalau hanya mengandalkan motivasi, sudah tentu akan gagal. Kita tahu sendiri, motivasi itu naik turun. Inilah sebabnya kita perlu support system.

Support system semacam apa yang kita butuhkan? Menurut saya minimal ada empat elemen support system yang kita butuhkan.

  1. Komitmen publik. Menurut Leo Babauta, langkah pertama yang sangat membantu kita untuk berkomitmen terhadap perubahan adalah melakukan deklarasi publik. Jadi, kita mengumumkan target perubahan kita ke teman-teman atau lingkaran dekat kita. Kita bisa lakukan secara langsung di depan mereka atau dengan mengumumkannya di sosial media. Kita cenderung lebih komitmen pada resolusi atau target perubahan yang diumumkan secara publik.
  2. Monitoring. Kita perlu sistem untuk memonitor perilaku kita. Bentuknya bisa berupa buku catatan, ceklis atau aplikasi habit tracker. Jangan hanya mengandalkan ingatan. Kita butuh catatan agar kita memiliki data terkait perilaku kita.
  3. Akuntabilitas. Sistem pertanggungjawaban, kepada siapa kita melaporkan kemajuan kita? Memiliki partner untuk melaporkan kemajuan kita akan membantu kita lebih bertanggungjawab dengan target yang kita tetapkan. Partner ini bisa pasangan, teman, mentor, atau coach kita.
  4. Imbalan ekstrinsik. Di awal membentuk perilaku baru kita memerlukan imbalan ekstrinsik. Bentuknya bisa berupa hadiah, uang, apresiasi, atau pujian dari orang lain. Misalnya: setiap kali kita berhasil olahraga 15 menit, kita bayar diri kita Rp.10.000,- Nah, uang ini dikumpulkan selama tiga bulan, setelah itu kita belikan baju baru misalnya. Contoh lain, dulu saat saya membangun kebiasaan lari pagi, saya akan selfie atau men-screenshoot aplikasi Strava saya dan menguploadnya di sosial media. Imbalan ekstrinsik penting, karena motivasi instrinsik kita belum kuat terbangun di awal-awal.

Dengan empat sistem pendukung ini insyaallah proses pembentukan perilaku selama 66 hari akan lebih mudah untuk dilalui. Bila ingin lebih mantap, targetkan melakukan perilaku baru tersebut sampai 90 hari.

Selamat mencoba!

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *