fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Lima Penghambat Perubahan

2 min read

Dalam hidup perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Dalam teori survivalnya Darwin, jika kita tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan maka kita akan punah.

“Bukan spesies paling kuat yang akan bertahan, bukan pula yang paling cerdas, melainkan mereka yang responsif terhadap perubahan” begitu kata mbah Darwin.

Artinya, dalam hidup kita “dituntut” untuk mampu mengubah diri.
Meskipun tanpa kita sadari, perubahan sebenarnya sudah menjadi bagian dari kebutuhan kita.

Mereka yang miskin pengin kaya.
Mereka yang sudah kaya pengin lebih kaya.

Mereka yang belum bahagia, ingin menjadi bahagia.
Mereka yang sudah bahagia, ingin lebih bahagia.

Mereka yang kurang ganteng pengin ganteng.
Mereka yang sudah ganteng pengin lebih ganteng.

Artinya semua orang pada dasarnya ingin berubah ke arah yang lebih baik.

Masalahnya, untuk berubah itu tidak mudah.
Bahkan terkesan sulit untuk sebagian besar orang.

Tak heran, banyak resolusi tahun baru yang tidak berubah dari tahun ke tahun.

Tahun 2013 ingin turun berat badan, tahun 2014 malah nambah berat badan.
Tahun 2014 ingin kurangi lingkar pinggang, tahun 2015 malah nambah lingkar pinggang.

Bahkan ada lelucon,
Resolusi tahun 2016 saya adalah menuntaskan resolusi tahun 2015.
Dimana resolusi tahun 2015 saya adalah menuntaskan resolusi tahun 2014 saya. Hehehe…

Mengapa berubah itu sulit bagi sebagian (besar) orang?

lima-penghambat-perubahan

Saya amati penyebabnya karena beberapa hal. Ada lima hal yang menghambat seseorang berubah.

Pertama, dia tidak sadar bahwa dirinya perlu berubah.

Kalau sadar saja tidak, bagaimana kita bisa berubah?
Selalu terngiang kata mas Teddi: “Apa-apa yang tidak kita sadari tak akan bisa kita ubah, apa-apa yang kita sadari bisa kita ubah”

Kedua, tidak tahu apa yang perlu diubah.

Kadangkala, kita sadar perlu berubah. Namun kita tidak tahu apa yang perlu kita ubah. Di posisi ini, kita tidak akan bisa berubah secara efektif.

Ketiga, salah fokus.

Sadar bahwa perubahan itu perlu. Namun fokusnya mengubah hal-hal yang ada di luar kendali dia. Mengubah suaminya, mengubah anaknya, mengubah sistemnya. Sementara dia tidak menyadari bahwa dirinya terlebih dulu yang perlu dia ubah. Karena seringkali perilaku orang lain adalah “cermin” dari perilaku kita. Teringat kata DR. Phill McGraw: “We train people how to treat us” – “kita (lah yang) melatih orang lain bagaimana memperlakukan diri kita”

Keempat, terlalu kompleks.

Perubahan yang terlalu kompleks, ingin drastis. Langsung berubah 90 derajat akan membebani mental kita untuk berubah. Demikian juga target-target perubahan yang terlalu tinggi, justru seringkali mendemotivasi kita. Juga dengan rencana perubahan yang terlalu kompleks. Ingin melakukan A, namun untuk melakukannya prasyaratnya B, untuk mencapai B perlu prasyarat D, E, F. Ini membuat otak “hang” dan akhirnya malah tidak ada tindakan yang dilakukan sedikitpun.

Kelima, tidak jelas.

Terlalu fokus ke apa yang ingin diubah namun tidak punya gambaran hasil akhir yang ingin dicapai setelah berubah seperti apa. Ini seperti kita ingin keluar dari kota Bandung, namun tidak tahu mau ke kota mana. Akhirnya, kita buang-buang sumberdaya yang dimiliki, tanpa bergerak kemanapun.

Jadi, kalau mau berubah dengan mudah simple saja. Hindari kelima hal di atas. Ikuti lima langkah berikut ini:

  1. Sadari bahwa ada yang perlu kita ubah.
  2. Cari tahu apa persisnya yang perlu kita ubah.
  3. Fokus mengubah hal-hal yang ada dalam kendali kita (hanya 4 macam: pikiran kita, perasaan kita, perilaku kita, kata-kata kita)
  4. Fokus pada satu hal sederhana terlebih dulu.
  5. Tetapkan hasil akhir yang diinginkan sejelas dan sekongkrit mungkin.

Contoh, misalnya kita merasa secara finansial bermasalah. Katakanlah, uang gajian selalu tidak sampai tanggal gajian berikutnya. Habis di tengah jalan. Di sini artinya kita sudah menyadari ada yang perlu kita ubah (langkah no 1 terpenuhi). Setelah menyadari, berikutnya kita perlu cari tahu, apa persisnya yang perlu kita ubah? Lakukan diskusi, brainstorming bersama pasangan. Misalnya ditemukan bahwa yang perlu kita ubah adalah pola pengeluaran kita (langkah 2 dan 3 terpenuhi). Setelah tahu, fokuskan ke satu hal saja yang ingin kita ubah terkait pola belanja kita, misalnya berhenti menggunakan kartu saat berbelanja, membiasakan berbelanja menggunakan uang tunai (langkah 4 dan langkah 5).

Mudah dan sederhana bukan?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *