fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Penyebab Gagalnya Resolusi Tahun Baru

2 min read

Tahun baru, biasanya kita beramai-ramai menetapkan resolusi – sebuah keputusan tentang perilaku yang akan kita mulai atau kurangi atau hentikan di tahun depan. Misalnya:

  • Mulai berolahraga secara rutin;
  • Mulai berinvestasi di reksadana;
  • Mengurangi makanan instan;
  • Mengurangi pembelian impulsif di toko online;
  • Berhenti merokok;
  • Berhenti membeli dan menumpuk barang yang tidak dibutuhkan;
  • Dsb.

Namun menariknya, berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Prof. Richard Wiseman, hanya 12% yang bisa mempertahankan resolusi tahun barunya sampai akhir tahun. 88% sisanya gugur di tengah jalan. Bukan hanya itu, statistiknya semakin menarik jika menilik riset yang dilakukan oleh John Norcross:

  • 29% melupakan resolusinya di dua minggu pertama;
  • 36% lupa setelah 1 bulan;
  • 54% melupakan resolusinya setelah enam bulan.

Artinya apa? Tanpa perlu menunggu satu tahun, dalam dua minggu pertama sudah ada sepertiga yang gugur. Lalu, dalam enam bulan setengahnya menyusul.

Mengapa bisa demikian? Dan apa solusinya? Kita akan bahas di artikel ini. Berdasarkan apa yang saya pelajari dari berbagai referensi, ada tiga penyebab utama gagalnya resolusi:

  1. Jumlah resolusi yang terlalu banyak.
  2. Bentuk resolusi yang tidak spesifik dan terlalu sulit.
  3. Hanya mengandalkan semangat dan motivasi.

Mari kita bahas satu per satu.

1. Jumlah resolusi yang terlalu banyak

Berapa jumlah resolusi yang Anda tetapkan? 3? 5? 10? 15? Sebagian orang menetapkan resolusi terlalu banyak. Mereka membuat daftar resolusi yang sangat panjang. Padahal, setiap resolusi membutuhkan alokasi energi, waktu, dan pikiran kita. Bila kita menyebarkan energi terlalu banyak, maka masing-masing tidak akan tumbuh optimal. Ibarat sinar matahari yang menyebar, ia tidak akan bisa membakar kertas tipis kecuali difokuskan. Pertanyaannya, berapa jumlah resolusi yang optimal?

Sean Covey dalam buku 4 Disciplines of Execution (4DX) mengutip sebuah hukum yang menarik. Namanya Hukum Penyusutan Hasil (Law of Diminishing Returns). Hukum ini menjelaskan berapa jumlah goal yang akan dicapai secara ekselen berdasarkan jumlah goal yang ditetapkan. Secara ringkas:

  • Bila kita menetapkan 2-3 goal dalam jangka waktu yang sama, maka ada 2-3 goal yang akan tercapai secara ekselen.
  • Bila kita menetapkan 4-10 goal dalam jangka waktu yang sama, maka hanya 1 goal yang akan tercapai secara ekselen.
  • Bila kita menetapkan lebih dari 10 goal dalam jangka waktu yang sama, maka tidak satu pun goal yang akan tercapai secara ekselen.

Sekarang, jadi masuk akal kan? Bila kita menetapkan jumlah resolusi yang sangat banyak wajar bila yang terwujud hanya satu atau bahkan tidak ada sama sekali. Secara optimal, cukup tetapkan 2-3 resolusi saja.

Lalu, bagaimana bila kita memiliki banyak keinginan atau tujuan? Kita bisa break down resolusinya per tiga bulan. Tetapkan 2-3 resolusi per tiga bulan, tiga bulan berikutnya tetapkan 2-3 resolusi yang berbeda. Dengan demikian dalam rentang waktu yang sama (tiga bulan) kita hanya fokus pada 2-3 resolusi saja. Namun, bila dilakukan dengan baik maka dalam setahun kita akan bisa mewujudkan 8-12 resolusi. Tidak buruk kan?

2. Bentuk Resolusi Tidak Spesifik dan Terlalu Sulit

Resolusi pada dasarnya adalah target perilaku (behavioral goal), maka ia perlu spesifik dan mampu dilakukan. Saya meringkas behavioral goal yang buruk adalah yang memenuhi kriteria ABCD:

  • Abstract (terlalu abstrak)
  • Big (terlalu besar)
  • Complex (terlalu rumit)
  • Difficult (terlalu sulit)

Katakanlah kita menulis resolusi “mulai berolahraga” ini terlalu abstrak. Saat mendengar kata “olahraga” apa yang dipikirkan orang berbeda-beda; multitafsir. Kata yang multitafsir menunjukkan bahwa kata tersebut masih terlalu abstrak. Kata yang abstrak membuat otak bingung, saat kita bingung kita cenderung tidak bertindak. Berbeda dengan “jalan kaki 20 menit setiap selesai sholat subuh.” Ini lebih konkret sehingga kemungkinan dijalankannya lebih besar.

Penyebab kegagalan lainnya adalah resolusi yang terlalu besar dan rumit sehingga menjadi sulit dilakukan. Misalnya, kita belum terbiasa lari pagi 40 menit, baru 15 menit saja ngos-ngosan, lalu kita menetapkan resolusi tahun baru: lari pagi 40 menit. Sudah bisa dipastikan, resolusi ini tidak akan bertahan. Mulailah menetapkan resolusi dengan target yang kecil dan sederhana. Ini akan memudahkan kita dalam menjalankan san mempertahankannya. Misal, mulailah dengan 10 menit, setelah terbiasa baru naikkan ke 15, 20, dst sampai akhirnya kita bisa mencapai 40 menit.

Kita cukupkan dulu bahasan penyebab gagalnya resolusi sampai di sini ya. Terkait penyebab kegagalan ketiga insyaallah kita bahas di artikel besok.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *