fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

“Peta” dalam Otak Anda

1 min read

Peta adalah alat untuk memandu Anda mencapai tujuan. Jika Anda belum pernah ke Bandung, tentu sangatlah bijak jika Anda membawa peta Bandung. Peta ini akan memandu Anda mengambil keputusan dan menentukan arah. Saat Anda bingung di sebuah persimpangan, peta akan memandu Anda arah mana yang perlu Anda ambil. Peta memandu perilaku Anda.

Kita pun akhirnya sangat percaya dan bergantung pada peta. It’s OK jika peta yang kita bawa adalah peta ter up to date. Namun, bukankah akan menjadi masalah jika ternyata peta yang kita bawa adalah peta yang out to date? Jalan-jalan di Bandung di tahun 2012 menggunakan peta keluaran tahun 1912 tentu akan membuat kita tersesat, bingung, dan stress! Maka, pastikan peta yang Anda gunakan adalah peta keluaran terbaru yang up to date.

Menariknya, manusia pun memiliki “peta” di dalam otaknya. “Peta” ini memandu perilaku seseorang dalam menghadapi sebuah situasi. Persis, seperti peta kota, jika “peta” dalam pikiran kita out to date, tentu kita menjadi sangat tidak efektif dalam merespon sebuah situasi.

Mari kita lihat contoh “peta” seorang orangtua dalam konteks mendidik anak misalnya. Mendidik anak jaman sekarang tentu berbeda caranya dengan mendidik anak di tahun 70-an. Namun, sadarkah Anda, seringkali cara kita mendidik anak biasanya sama dengan cara orangtua kita mendidik kita? Bukankah itu artinya kita menggunakan “peta” lama dalam mendidik anak? OK, memang betul ada bagian-bagian dari “peta” lama kita yang masih relevan, namun kita juga perlu menyadari ada pula bagian dari “peta” tersebut yang perlu di update.

“Peta” dalam pikiran kita ini adalah akumulasi pengalaman (dari apa yang kita lihat, dengar, dan alami sejak lahir) serta akumulasi pengetahuan yang kita miliki. Tidak semua pengalaman dan pengetahuan kita bersifat konstruktif (membangun) dan memberdayakan. Maka, adakalanya kita perlu menguji “peta” yang kita miliki dengan sebuah pertanyaan: “Apakah ‘peta’saya membuat saya berdaya dalam mencapai tujuan saya, atau justru membuat saya tak berdaya?” Pertahankan jika “peta” Anda membuat Anda berdaya. Dan update dengan yang baru jika “peta” Anda membuat Anda tak berdaya.

“If your belief serve you, promote it. If don’t, fire it!”

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *