fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Meta-Question

1 min read

Pernah dengar istilah Meta-Question (pertanyaan meta)? Saya mengenal istilah ini ketika mengikuti kelas APG (Accessing Personal Genius – Meta-States Practitioner) batch-1-nya mas Wahyudi Akbar di awal tahun 2011 yang lalu. Dan saya merasa it’s so exciting!

Saya mendapatkan pemahaman yang makin dalam setelah diskusi dengan mas Wahyudi Akbar via sms dan ngobrol-ngobrol dengan mas Antonius Arif sepulangnya beliau dari kelas Meta-Coach-nya Michael Hall di Bali (kebetulan kita satu angkatan di kelas APG waktu itu, bedanya beliau lanjut ke workshop Meta-Coach dengan Michael Hall sedang saya tidak :).

Konsep Meta-Question ini sangat simpel dan banyak membantu saya dalam melakukan coaching ke klien. Oh ya, bagi yang belum familiar dengan istilah meta, mungkin perlu kenalan dulu ya. Dalam bahasa inggris, meta artinya above atau beyond.  Dalam bahasa Indonesia apa ya? “melampaui” mungkin kata yang cukup aneh dan mewakili. Jadi, meta-question atau pertanyaan meta adalah pertanyaan yang melampaui kerangka berpikir seseorang. Kalau mau tanya definisi resmi atau aslinya silahkan tanya ke coach Wahyudi Akbar.

Pertanyaan meta digunakan untuk mengajak seseorang berpikir lebih luas dan bertindak lebih kongruen (pikiran, perasaan, fisiologi). Langsung pake contoh saja ya. Misalnya ada seseorang yang merasa marah dengan anaknya, namun bahasatubuhnya mengatakan hal lain, kita bisa menanyakan pertanyaan meta. Let’s see…

Klien: “Saya merasa marah dengan perilaku anak saya.” (perhatikan bahasa tubuhnya. Jika tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda marah alias inkongruen maka inilah saatnya Anda mengajukan pertanyaan meta)

Coach: “Baik, jadi Anda merasa marah dengan perilaku anak Anda. Ketika Anda merasa marah dengan perilaku anak Anda, apa yang Anda rasakan?”

Klien: “Saya merasa bersalah…” (perhatikan bahasa tubuhnya, apakah sekarang sudah kongruen?)

Setelah bahasa tubuh dan kata-kata klien kongruen, Anda bisa melanjutkan sesi coaching dengan teknik lainnya. Ada 15 macam pertanyaan meta, jika tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut boleh hubungi coach wahyudi akbar, antonius arif, atau saya 🙂

NB: Bagi yang masih bingung, just remember: bingung tanda belajar.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *