fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Mindset Anda: Fixed atau Growth?

2 min read

Ketika Anda menghadapi sebuah kesulitan dalam mengerjakan sesuatu, mana respon yang paling sering Anda ucapkan:

“Ok, saya akan berusaha, pasti ada cara untuk melakukan hal ini”

Atau

“Ah, sepertinya memang saya nggak berbakat melakukan pekerjaan ini”

Respon yang pertama atau yang kedua? Perbedaan cara merespon ini menentukan nasib Anda.

Mindset-Anda-Fixed-atau-Growth

Carol Dweck, seorang profesor psikologi di Universitas Stanford melakukan riset yang cukup ekstensif terkait mindset yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Secara ringkas, dia menyimpulkan, ada dua macam orang di atas bumi ini.

Pertama, orang-orang yang meyakini bahwa kualitas diri mereka (kecerdasan, bakat, karakter) itu tetap (tidak bisa berubah). Dweck menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang yang memiliki Fixed Mindset.

Kedua, orang-orang yang meyakini bahwa kualitas diri (kecerdasan, bakat, kepribadian) mereka bisa bertumbuh (bisa berubah). Dweck menyebut orang-orang seperti ini sebagai orang yang memiliki Growth Mindset.

Masing-masing mindset tentu saja memiliki dampak yang berbeda.

Pertama, terkait tantangan.

Orang-orang dengan fixed mindset menghindari tantangan. Mereka hanya mau mengerjakan pekerjaan yang mereka sukai (dan anggap mampu) untuk mereka lakukan. Aktivitas adalah ajang pembuktikan diri, bukan ajang belajar dan mengembangkan diri. Mereka bertanya “Akankah saya sukses atau gagal melakukan hal ini?” Jika mereka merasa akan gagal, mereka akan menghindarinya. Mereka tidak ingin terlihat jelek, mereka ingin terlihat sempurna – berbakat. Sementara mereka dengan Growth Mindset, suka merentangkan diri, menantang diri mereka. Mereka bertanya: “Apakah aktivitas ini membantu saya untuk bertumbuh?”

Kedua, terkait kegagalan.

Mereka dengan Fixed Mindset menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa mereka memang tidak berbakat di sana. Sehingga mereka mudah menyerah. Menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang permanen, berada di level identitas mereka: “Memang bukan saya banget” Sementara mereka yang memiliki Growth Mindset menganggap kegagalan sebagai suatu yang sementara, dan umpan balik dari tindakan mereka: “Saya akan mencari cara yang lebih baik”

Ketiga, terkait kerja keras.

Pemilik Fixed Mindset menganggap kerja keras tidaklah berguna. Dia tidak mengubah apapun. Tidak mengubah kecerdasan, bakat, dan karakternya. Sementara pemilik Growth Mindset menganggap kerja keras adalah jalan menuju penguasaan. Mereka meyakini, kecerdasan, bakat dan karakter tidak dipahat di atas batu. Mereka bisa mengubahnya, asal mau bekerja ke arahnya.

Keempat, terkait kritik.

Fixed Mindset menghindari kritik, karena mereka ingin terlihat sempurna. Sementara Growth Mindset belajar dari kritik. Kritik berarti umpan balik menuju keahlian.

Apa dampak dari berbagai hal di atas?

Dampak yang paling kentara adalah di pertumbuhan diri serta pencapaian pemilik masing-masing mindset. Anda akan melihat, pemilik Fixed Mindset dari setahun yang lalu dengan saat ini tidak berkembang – begitu-begitu saja. Entah dari sisi keahlian ataupun kariernya. Mereka mengalami plateau (kalau di grafik, kondisi ketika kurva mulai mendatar. Baca: level tanpa kemajuan) dengan cepat. Karena saat mengalami kesulitan, mereka berhenti. Menganggap itu bukan bakatnya. Sehingga mereka tidak mencapai potensi maksimal mereka. Berbeda dengan pemilik Growth Mindset, mereka lebih lambat mencapai plateau. Sehingga pencapaian mereka, secara keahlian atau karier, menjadi lebih tinggi. Mereka lebih optimal dalam memaksimalkan potensinya.

Perhatikan, saya tidak berbicara tentang apakah kecerdasan, bakat, dan karakter adalah kualitas yang menetap atau bisa berubah. Saya berbicara tentang pola pikir yang memberdayakan hidup. Jika Anda ingin mencapai potensi maksimal Anda, tidak ada salahnya mengadopsi Growth Mindset sebagai pola pikir Anda bukan? Jadi, jangan mencari apa yang nyaman bagi Anda, namun cari apa yang bisa merentangkan dan mengembangkan diri Anda sehingga potensi Anda benar-benar maksimal.

“Mind is a flexible mirror, adjust it, to see a better world.”
― Amit Ray

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *