fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Memahami (Kembali) Bakat

2 min read

Bakat, ada atau tidak? Perbincangan semacam ini selalu menarik. Sebagian menanggap bakat itu ada. Sebagian lagi menganggap bakat hanyalah sebuah mitos. Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?

Sebagian besar praktisi pengembangan diri menganggap bakat hanya sebagai mitos. Perhatikan judul-judul buku berikut:

  • The Talent Myth oleh Larry Gluck.
  • Talent is Overrated: What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else oleh Geoff Colvin.
  • The Talent Code: Greatness isn’t Born, It’s Grown oleh Daniel Coyle.
  • Bounce: The Myth of Talent and The Power of Practice oleh Matthew Syed.

Buku-buku di atas menyimpulkan hal yang sama: bakat itu tidak ada atau minimal bakat itu tidak penting. Latihan dan kerja keras adalah segalanya. Mereka menganggap bahwa semua “keahlian” dapat dipelajari. Bahwa kita bisa menjadi siapapun yang kita inginkan. Perhatikan kutipan populer berikut ini:

“Jika kamu berpikir kamu bisa, maka kamu (pasti) bisa”

“Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan asal kita memiliki kemauan untuk mewujudkannya”

“Anything is possible”

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki pemikiran yang sama dengan mereka?

Sebelum menanggapi hal ini, tentu saja kita perlu menyamakan definisi tentang bakat terlebih dahulu. Jangan-jangan, definisi bakat kita berbeda sehingga kesimpulan berbeda.

Saat mendengar kata bakat, apa yang muncul dalam benak Anda? Mungkin, di dalam benak sebagian kita akan muncul kata melukis, menyanyi, bermain musik atau berolahraga. Ya, sebagian besar dari kita menghubungkan bakat dengan kemampuan-kemampuan ini. Apakah tepat? Mari kita lihat.

Mari kita merujuk ke kamus terlebih dulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bakat didefinisikan sebagai:

Dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir.

Sementara menurut Cambridge Dictionary:

a natural ability to be good at something, especially without being taught.

Terjemah bebasnya: kemampuan alamiah untuk bagus dalam suatu hal, terutama (bila kemampuan tersebut didapat) tanpa perlu dipelajari.

Perhatikan kata kuncinya:

  • Kepandaian, sifat dan pembawaan.
  • Dibawa sejak lahir.
  • Alamiah.
  • Tanpa perlu belajar.

Sekarang kita lihat, apakah kemampuan menyanyi dibawa sejak lahir? Tentu tidak. Apakah kemampuan bermain musik dibawa sejak lahir? Tentu saja tidak. Kemampuan semacam ini adalah hasil dari latihan. Maka, sebenarnya kita tidak tepat menyebutkan kemampuan semacam ini sebagai bakat. Bila kita memaksa memasukkan kemampuan ini sebagai bakat, maka benar kata para penulis dan pembicara di industri pengembangan diri di atas: bakat itu tidak ada.

Maka, kita perlu membedakan antara bakat (yang muncul alamiah tanpa perlu dipelajari) dengan keterampilan (yang dapat dilatih). Jika tidak, maka definisi bakat akan menjadi rancu.

Definisi yang paling memadai menurut saya saat ini adalah definisi bakat menurut Gallup. Gallup merupakan organisasi yang mendedikasikan dirinya dalam riset terkait bakat selama lebih dari 30 tahun. Gallup mendefinisikan bakat sebagai berikut:

Talents are naturally recurring patterns of thought, feeling, or behavior that can ber productively applied

Bakat adalah pola pikiran, perasaan, atau perilaku alamiah yang berulang dan bermanfaat (produktif).

Sementara, keterampilan didefinisikan sebagai urutan aktivitas (Skills are the steps of an activity). Urutan ini menciptakan sebuah struktur yang bila diikuti akan membawa kita pada performa yang baik.

Mari kita bahas contohnya. Public Speaking adalah sebuah skill. Ada urutan yang jika diikuti maka public speaking kita akan bagus (belum tentu hebat, namun setidaknya cukup bagus untuk diterima). Misalnya, salah satu guru saya mengajarkan struktur ABCD dalam public speaking.

  1. A – Aha! Sampaikan pernyataan atau pertanyaan yang mengejutkan.
  2. B – Bahas. Sampaikan bahasan utama Anda.
  3. C – Contoh. Berikan contoh untuk memperjelas.
  4. D – Dengan demikian… sampaikan kesimpulannya.

Mengikuti struktur sederhana ini akan membantu kita menjadi public speaker yang lebih baik. Sekali lagi, belum tentu hebat namun cukup bagus untuk diterima.

Mempelajari sebuah skill menghindarkan kita dari trial and error. Sehingga kita bisa perform dengan baik lebih cepat. Tanpa mempelajari skill, kita perlu mengalami pengalaman jatuh bangun berkali-kali terlebih dulu untuk menemukan strukturnya.

Pertanyaan berikutnya, meskipun sudah mempelajari skillnya, mengapa tidak semua orang bisa hebat melakukannya? Banyak orang berlatih public speaking namun berapa banyak yang bisa seperti pak Jamil Azzaini? Tidak banyak. Meskipun mereka “meniru” gaya pak Jamil, nada suaranya, pilihan katanya, gerak gerik tubuhnya dan sebagainya – bagi sebagian orang mereka tetap seperti peniru. Tidak otentik seperti saat pak Jamil melakukannya. Apa yang membedakannya?

Jawabannya adalah bakat. Bakat adalah faktor yang membedakan antara satu orang dengan orang lainnya. Meskipun sama-sama belajar public speaking, setiap orang akan muncul dengan hasil yang berbeda tergantung bakat bawaannya.

Tanpa bakat, keahlian Anda hanya akan sampai level bagus. Bakatlah yang membuat keahlian Anda menjadi hebat.

Pekan depan kita akan lanjutkan bahasan tentang bakat ini. Sampai jumpa Senin depan insyaa Allah.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.