fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Jangan (Hanya) Ikuti Passion Anda!

1 min read

Sebuah hipotesis mengatakan: Agar kita bahagia dalam pekerjaan kita, temukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita. Hipotesis ini diringkas menjadi “Ikuti passion Anda.” Sayangnya menurut Cal Newport, dalam konteks karier, ini adalah saran yang buruk. Ada beberapa potensi masalah yang timbul akibat dari hipotesis ini. Mari kita simak satu per satu.

Jangan-Hanya-Ikuti-Passion-Anda

Pertama, tidak jelas bagaimana merealisasikannya. Nasihatnya mudah, namun realisasinya tidak semudah yang kita bayangkan. Bagaimana cara Anda hidup darinya? Apakah Anda masih passionate bila melakukannya setiap hari? Apakah passion Anda selaras dengan kompetensi yang Anda kuasai dan keduanya dibutuhkan oleh pasar?

Kedua, saran “Ikuti Passion Anda” terdengar mudah. Sayangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda hebat itu tidak semudah itu. Anda perlu menginvestasikan energi, waktu dan dedikasi untuk mencapainya. Anda perlu mau belajar, membangun jejaring, menunjukkan kerja nyata. Sampai Anda benar-benar menjadi expert di dalamnya.

Ketiga, passion bukanlah satu-satunya faktor kepuasan (baca: kebahagiaan) dalam bekerja. Jika Anda bekerja sesuai passion Anda, namun bekerja dengan orang yang tidak Anda sukai (atau mereka tidak menyukai Anda), kemudian Anda mendapatkan bayaran yang tidak fair, apakah Anda masih puas? Seringkali jawabannya adalah tidak.

Keempat, pekerjaan yang sesuai passion itu langka. Riset di Universitas Montreal misalnya menunjukkan. Sebagian besar passion mahasiswa ada di bidang seni, olahraga dan musik. Sementara itu, pekerjaan yang terkait dengan passion tersebut sangat terbatas. Sehingga menjadi sangat kompetitif ketika kita “bertarung” di sana. Tentu saja, akan menjadi melelahkan saat kita memutuskan terjun di sana.

Kelima, tidak semua orang merasa memiliki passion yang terkait dengan kariernya. Ada orang yang merasa tidak memiliki passion apapun. Ada juga yang punya passion namun bingung bagaimana hidup darinya. Sementara yang lain merasa memiliki banyak passion, dan ini membuat mereka bingung, passion mana yang bisa dijadikan penopang hidupnya. Akibatnya kelompok yang terakhir ini terjebak pada pola “kutu loncat” berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Tentu saja ini tidak sehat. Ini membuat kita gagal membangun keahlian di bidang kita. Akibatnya kita menjadi cemas dan meragukan diri sendiri, karena tidak memiliki kompetensi apapun yang bisa diandalkan.

Keenam, kita seringkali salah mengukur diri sendiri. Kita tidak tepat menentukan apa sebenarnya passion kita. Kita juga seringkali salah memprediksi apa sebenarnya yang membuat kita bahagia dan di bidang apa yang kita bisa hebat saat melakukannya. Sehingga, apa yang hari ini kita anggap sebagai passion kita, bisa saja berubah di kemudian hari, karena ketidakakuratan dari pengamatan kita sendiri.

Ketujuh, Anda membatasi pilihan-pilihan Anda. Saat Anda merasa passion Anda di basket misalnya, lalu merasa inilah jalur karier Anda maka Anda menutup peluang-peluang karier lainnya. Faktanya, seringkali minat kita berubah-ubah. Pikirkan 3-5 tahun yang lalu, apakah minat Anda di masa lalu masih sama dengan saat ini? Belum tentu. Ketika Anda membuka pintu untuk satu peluang, jangan tutup terlebih dulu pintu lainnya.

Jadi, bagaimana solusinya? Simak artikel berikutnya insyaallah.

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

2 Replies to “Jangan (Hanya) Ikuti Passion Anda!”

  1. Passion pada dasarnya bagus, namun apakah dg passion lalu kita menutup diri dari peluang/kesempatan lain yg tidak selaras dg passion kita? Ambil contoh, seorang yg passionate banget ama dunia peternakan kemudia ada tawaran untuk menjadi distributor . Lantas si peternak ini mengatakan, “maaf saya nggak passion kalau bekerja sbagai diatributor” . Nah, itu gimana? Kadang2 terlihatnya seperti sombong jadinya?

    I’m just share, give me your opinion. ✌😄

  2. Dulu sekali, saya sering beranggapan bahwa passion adalah sesuatu yang kita selalu excited ketika melakuannya, bahkan rela dan betah berlama-lama. Namun kadang bosan melanda dan saat itu untuk melakukannya pun jadi enggan. Hanya saat mood baik dan inspirasi sedang mengalir, kemauan untuk melakukan hal tersebut muncul kembali dan ingin berlama-lama lagi ketika melakukannya.

    Jadi penasaran ingin tahu kelanjutannya mas Darmawan. Hehehe, siap gelar tiker dah.. Lanjutkaaan…. 🙂

Leave a Reply to Andi Asri Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *