fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Jangan Fokus (Hanya) Ke Passion

2 min read

“I have to face life with a newly found passion. I must rediscover the irresistible will to learn, to live and to love.” —Andrea Bocelli

Menurut Cal Newport, nasihat “Ikuti passion Anda” didasarkan oleh dua hipotesis:

Pertama, kita semua telah memiliki passion di dalam diri kita.

Kedua, jika Anda mencocokkan passion ini dengan pekerjaan Anda, maka Anda akan menikmati pekerjaan tersebut.

Jangan Fokus (Hanya) Ke Passion

Mari kita bedah dua hipotesis di atas.

Hipotesis pertama. Kata “ikuti” mengasumsikan passion itu “sesuatu” (dalam NLP dikenal sebagai nominalisasi; pembendaan; seperti benda) yang sudah ada di dalam diri kita. Kita tinggal menemukan lalu mengikutinya. Ternyata prosesnya tidak sesederhana itu. Sebagian besar orang tidak memiliki passion yang telah ada. Cal Newport berpendapat, passion itu ditumbuhkembangkan bukan ditemukan. Keyakinan ini lebih memberdayakan karena kata “menumbuhkembangkan” memiliki konsekuensi Anda perlu bekerja secara aktif untuk menumbuhkan passion Anda.

Steve Jobs menyarakan untuk mengikuti passion Anda. Sayangnya, kisah hidupnya tidak sesuai dengan sarannya. Passion Jobs adalah Zen Budhisme. Ia memulai Apple Computer hanya karena melihat peluang menghasilkan $1000 dengan cepat di sana. Namun Jobs terbuka pada peluang. Dia merasakan bahwa peluangnya lebih dari apa yang ia bayangkan. Ia pun berbelok dan memberikan sebagian besar energinya untuk membangun Apple Computer. Dia menumbuhkembangkan passionnya, bukan mengikutinya.

Untuk hipotesis kedua, riset juga menunjukkan bahwa orang menyukai pekerjaan mereka lebih ke nuansanya daripada kecocokan minatnya. William MacAskill, bahkan menyebutkan kepuasan kerja ada pada engangement bukan passion. Bahkan setidaknya ada lima faktor yang mempengaruhinya:

  • Independence: berapa banyak kendali yang Anda miliki di pekerjaan tersebut?
  • Sense of completion: berapa banyak pekerjaan Anda memenuhi keseluruhannya sehingga kontribusi Anda pada pekerjaan jelas terlihat?
  • Variety: seberapa banyak pekerjaan Anda membutuhkan aktivitas yang beragam, menggunakan beragam keterampilan dan keahlian?
  • Feedback: seberapa mudah Anda tahu bahwa Anda bekerja dengan baik atau dengan buruk?
  • Contribution: seberapa banyak pekerjaan Anda membantu meningkatkan kualitas hidup orang banyak?

Faktor lainnya termasuk dukungan dari rekan kerja, bayaran yang adil, dan faktor “hygiene” lainnya.

Jadi, bagaimana solusinya?

Pertama, carilah kebahagiaan dari apa yang Anda kerjakan saat ini.

Kita bisa bahagia apapun pekerjaan kita. Kepuasan dalam bekerja tidak hanya ditentukan oleh konten (apa yang kita kerjakan) melainkan oleh konteksnya (dengan siapa kita bekerja, budaya perusahaannya, bayaran yang kita terima, keahlian kita di pekerjaan ini, bagaimana pekerjaan kita membantu orang lain dsb). Jika memang Anda tidak menyukai pekerjaan dan nuansanya, barulah pertimbangkan untuk berpindah ke pekerjaan/karier/perusahaan lainnya.

Kedua, tetapkan bidang yang Anda ingin ahli di sana.

Pertimbangkan potensi kekuatan Anda, bukan hanya passion Anda. Tanyakan ke diri Anda: Jika saya menginvestasikan waktu, seberapa baik saya di karier ini dibandingkan bila saya memilih karier lainnya?

Hanya karena Anda passionate tentang sesuatu tidak berarti Anda pasti ahli di dalamnya. Dalam konteks karier, menjadi hebat di bidang kita lebih penting daripada menemukan bidang yang kita cintai. Dan untuk menjadi hebat, Anda perlu berinvestasi ribuan jam belajar dan melatih diri di sana. Minat itu datang dan pergi. Passion yang sebenarnya (terkait pekerjaan/karier Anda) muncul setelah Anda menginvestasikan ribuan jam menjadi seorang expert di bidang Anda.

Jangan lupa temukan informasi, sifat-sifat apa saja yang diperlukan untuk sukses di karier ini. Tanyakan juga apa yang membuat orang menyerah di karier ini. Ini mungkin memerlukan sedikir usaha, namun cukup layak dilakukan karena terkait dengan 30 tahun hidup Anda.

Ketiga, fokus pada apa yang dapat Anda berikan ke dunia.

Bukan fokus pada apa yang dunia dapat berikan pada Anda. Berorientasi pada passion seringkali membuat kita menjadi egois. Hanya fokus pada apa yang kita suka. Mengabaikan faktor-faktor lainnya. Alih-alih fokus pada apa yang bisa kita dapat – pada apa yang kita sukai, fokuslah pada apa yang bisa kita beri – pada kontribusi, bagaimana Anda bisa memberikan manfaat pada orang-orang di sekitar Anda.

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan pendapat saya. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *