fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Investasi Pada Diri Sendiri, Persisnya Bagaimana?

3 min read

Kita tentu sering mendengar nasihat dari para motivator: berinvestasilah pada diri sendiri sebelum berinvestasi pada orang lain/bisnis. Persisnya bagaimana berinvestasi pada diri sendiri itu? Apakah membaca atau ikut pelatihan itu termasuk berinvestasi pada diri sendiri? Lalu, tahunya kapan bahwa investasi kita sudah cukup memadai? Mari kita bahas.

Tujuan investasi adalah membangun dan mengembangkan aset. Harapannya, setelah aset besar, aset tersebut bisa memberikan penghasilan kepada kita. Entah dalam bentuk cash flow atau dalam bentuk margin trading. Misalnya kita investasi di saham, maka ada dua potensi keuntungan: pertama dividen (bagi hasil) yang menghasilkan cash flow atau kenaikan nilai saham yang menghasilkan margin trading. Demikian juga berinvestasi pada properti, bila disewakan ia menghasilkan cash flow, sementara bila dijual setelah harganya naik ia menghasilkan margin trading. Semakin besar nilai asetnya, semakin besar potensi keuntungan yang akan kita raih.

Maka, tentu saja proses membangun aset ini perlu waktu. Bisa bertahun-tahun. Apalagi bila modal kita terbatas. Bahkan, ada kalanya kita perlu mengumpulkan modal dulu. Meskipun sekarang, ada banyak instrumen investasi yang bisa dimulai dengan modal terbatas, misalnya reksadana. Tentu saja, kita perlu secara rutin berinvestasi pada instrumen investasi ini agar ia semakin besar dan ujungnya bisa menghasilkan keuntungan yang optimal.

Pengembangan diri dan karier kita dapat dianalogikan dengan membangun aset. Bila aset kita terbangun, maka kita akan dianggap semakin bernilai. Saat kita dianggap bernilai, orang akan mau membayar kita sesuai nilai yang kita punya. Berinvestasi pada diri sendiri adalah proses kita membangun “aset pribadi” sehingga kita menjadi pribadi yang bernilai.

Ada 4 aset pribadi yang perlu kita bangun:

  1. Kompetensi;
  2. Kredensial;
  3. Koneksi;
  4. Karya.

Mari kita bahas satu per satu.

Kompetensi

Aset pertama yang perlu kita bangun adalah kompetensi: pengetahuan dan keahlian terkait bidang kita. Apa karier idaman kita? Menjadi financial planner? Maka kita perlu kompeten di bidang financial planning. Menjadi pengusaha? Maka kita perlu kompeten dalam ilmu bisnis dan entrepreneurship, mulai dari product development, marketing, membangun sistem, sampai mengelola tim. Menjadi professional coach? Maka perlu kompeten dalam skill coaching. Semua keahlian ini tidak bisa dibangun dalam semalam. Kita perlu berinvestasi secara rutin untuk membangunnya. Mulai dari membaca, ikut pelatihan, magang, bahkan latihan rutin atau trial dan error mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari.

Kredensial

Berikutnya adalah kredensial. Kredensial adalah surat atau pernyataan yang menyatakan kita kompeten. Kita hidup di Indonesia, dimana kemampuan kita kadang kala perlu ditunjukkan dalam bentuk sertifikat, ijazah, atau keanggotaan di asosiasi tertentu. Mau tidak mau, kita pun perlu berinvestasi di sini. Sebagai financial planner akan bermanfaat bila kita memiliki sertifikasi CFP, RFA, atau QWP. Sebagai coach, akan bermanfaat bila kita memiliki sertifikasi, misal sebagai Certified NLP Coach atau berafiliasi dengan asosiasi coaching tertentu. Ini akan memudahkan calon klien untuk mempercayai kita. Meskipun ujungnya, kredensial tidak berarti bila kita tidak kompeten. Anggap saja kredensial adalah pintu masuk. Bagaimana dengan pebisnis? Tentu tidak dibutuhkan sertifikasi atau ijazah. Namun keanggotaan seorang pebisnis pada sebuah asosiasi, semisal KADIN, TDA, APINDO atau AMA, akan meningkatkan kredibilitasnya.

Koneksi

Aset berikutnya yang perlu kita bangun adalah koneksi alias jejaring. Dalam konteks tulisan ini, koneksi memiliki arti yang luas. Ada tiga macam koneksi yang perlu kita bangun.

Pertama, koneksi ke atas. Membangun jejaring dengan para senior di bidang kita. Mereka akan menjadi jalan belajar yang bisa kita model. Bila beruntung, mereka bisa jadi mentor kita.

Kedua, koneksi ke samping. Ialah membangun jejaring dengan sesama profesi. Ini memudahkan kita dalam membangun partnership di kemudian hari.

Ketiga, koneksi ke bawah. Yaitu membangun jejaring dengan yunior kita. Ini akan memudahkan bila satu saat nanti kita membutuhkan tim dalam bisnis atau karier kita. Ini juga bisa kita gunakan sebagai sarana berbagi pengalaman yang kita punya.

Koneksi memudahkan kita dalam menapaki jenjang karier yang kita rencanakan. Silakan tanyakan kepada para profesional independen, saya yakin sebagian besar klien mereka datang dari koneksi. Tanyakan pula kepada para pengusaha, saya meyakini koneksi adalah aset intangible yang luar biasa nilainya.

Koneksi bersifat melipatgandakan. Ia akan melipatgandakan kredibilitas kita di mata calon klien, calon mitra, atau calon atasan kita. Namun sayangnya banyak yang salah paham tentang koneksi ini. Banyak yang berfokus pada “siapa yang kita kenal” padahal ada yang lebih penting. Apa yang lebih penting? “Kita dikenal oleh siapa.” Maka, dalam membangun koneksi jangan fokus pada take (saya dapat apa) tetapi fokuslah pada give (saya bisa beri apa). Saat kita memberi nilai tambah pada orang lain, kita akan dikenal oleh mereka.

Karya

Aset terakhir adalah karya. Karya adalah portofolio pengalaman dan produk yang kita miliki. Entah kita mau jadi profesional independen, karyawan, atau pengusaha, kita perlu berfokus pada mencipta karya. Bercita-cita jadi profesional coach? Perbanyak jam terbang, bantu klien secara pro bono. Minta izin untuk mencantumkan nama mereka di portofolio klien Anda. Ingin jadi seorang corporate trainer? Tawarkan untuk mengajar secara free di asosiasi HRD atau di komunitas atau buat kanal Youtube, mulai sharing di sana. Ini semua akan jadi karya yang dipertimbangkan oleh calon klien Anda. Bagaimana dengan yang ingin menjadi karyawan? Masih perlu kah berinvestasi membangun karya? Tentu saja. Perhatikan namanya karya-wan artinya orang yang berkarya. Caranya? Perbanyak pengalaman sebelum bekerja: magang, volunteer, berorganisasi. Ini semua akan jadi nilai tambah di mata tempat Anda ingin bekerja.

Kesimpulan

Jadi, apa yang bisa kita simpulkan dari tulisan ini? Berinvestasi pada diri sendiri artinya membangun aset pribadi berupa: kompetensi, kredensial, koneksi, dan karya. Dengan cara apa? Belajar dan berlatih secara terstruktur, mengikuti pelatihan yang memiliki standar kompetensi, membangun koneksi melalui komunitas atau pertemuan-pertemuan jejaring, dan mulai menghasilkan karya berupa pengalaman atau produk tertentu. Cal Newport mengistilahkan ini semua dengan modal karier. Semakin besar modal karier yang Anda miliki, semakin mudah Anda menjalani karier yang Anda pilih. Pertanyaannya, sudah kah kita memiliki modal karier yang memadai untuk berhasil di karier yang kita pilih? Bila belum mulailah berinvestasi pada diri sendiri.

Darmawan Aji Productivity Coach. Penulis 7 buku laris: Kitab Anti Penundaan, Self-Coaching, Mindful Life, Productivity Hack, Life by Design, Hypnoselling, dan Hypnowriting. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *