fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Filosofi Shifu

1 min read

Dalam bahasa Mandarin, kita menyebut guru dengan istilah shifu (师父) atau laoshi (老师). Dalam ilmu linguistik, kita dapat memahami makna sebuah kata dengan memahami struktur kata pembentuknya. Demikian pula kata shifu dan laoshi, ada makna mendalam di balik kedua kata tersebut.

Sumber gambar: http://blog.tavbooks.com

Kata shifu dan laoshi sama-sama mengandung kata 师 (shi). Shi bermakna “orang yang ahli.”Artinya seseorang disebut guru ketika ia benar-benar mumpuni dan menguasai sebuah keahlian tertentu. ‘Shi’juga memiliki makna lain: contoh atau teladan, seorang model. Artinya, kita akan dapat menguasai sebuah keahlian bila bersedia memodel guru tersebut. Inilah makna shi yang terfokus pada aspek keahlian sang guru.

Sekarang kita bedah kata ‘lao’ dan ‘fu’. Apa yang membedakan antara keduanya? Kita mulai dengan kata ‘Lao’. Kata lao secara harfiah berarti orang yang sudah tua. Sehingga ‘laoshi’ secara harfiah berarti orang tua yang ahli. Maka, istilah laoshi awalnya digunakan untuk menyebut seorang ahli yang sudah tua. Ini menyiratkan, butuh waktu panjang untuk menguasai sebuah keahlian.

Menariknya, dalam dunia kungfu, istilah shifu lebih populer dibandingkan dengan laoshi. Berbeda ketika belajar ilmu lainnya (misal, kalau kita belajar bahasa Mandarin, gurunya kita sebut laoshi, bukan shifu. Demikian pula sebutan guru di sekolah menggunakan istilah laoshi). Mengapa dunia kungfu menggunakan istilah shifu alih-alih laoshi? Entahlah. Kata fu secara harfiah berarti ayah. ‘Shifu’ berarti ayah dan ahli. Ini menyiratkan bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mengajar atau menurunkan keahliannya. Namun ia juga perlu mendidik dan melindungi seperti halnya yang dilakukan oleh seorang ayah. Mungkin ini alasan mengapa di dunia kungfu istilah shifu lebih populer. Karena hubungan guru dan murid saat belajar kungfu ibarat hubungan ayah dan anak. Bahkan dalam beberapa kasus, hubungan mereka jauh lebih erat.

Apa hikmah dari semua ini? Kita dapat simpulkan bahwa filosofi guru dalam budaya Tiongkok ternyata ada kemiripan dengan filosofi guru di Jawa. Menurut kerata basa Jawa, guru itu bermakna digugu lan ditiru – artinya dipercaya dan diikuti. Maka, tugas seorang guru bukan hanya mengajarkan pelajaran yang menjadi tugasnya, naun jauh lebih dari itu. Ia bertanggungjawab untuk mendidik moral, etika, integritas, dan karakter. Sehingga terwujud apa yang disampaikan oleh Martin Luther King Jr: “Intelegence plus character; that is the true goal of education.”

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.