fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Empat Pertanyaan Penting dalam Menetapkan Tujuan

3 min read

Dalam sebuah sesi coaching, seorang coach perlu piawai mengajukan pertanyaan untuk mengklarifikasi tujuan yang ingin dicapai oleh coacheenya. Ini penting, karena setelan baku sebuah ide berbentuk abstrak. Demikian pula sebuah tujuan yang ada di dalam benak, bentuk awalnya abstrak. Tentu saja, tujuan yang abstrak membingungkan dan tidak memotivasi. Inilah sebabnya seorang coach perlu piawai mengklarifikasi tujuan yang diutarakan oleh coachee-nya.

Dalam NLP Coaching, kita bisa bantu mengklarifikasi tujuan coaching dengan mengajukan pertanyaan WFO (Well-Formed Outcome). Menurut versi Meta Coaching-nya Michael Hall, ada 18 pertanyaan yang dapat kita ajukan untuk mengklarifikasi sebuah tujuan sehingga tujuan tersebut menjadi clear. Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk membagikan empat pertanyaan awal yang paling esensial. Dan tentu saja, empat pertanyaan ini tidak hanya bermanfaat di dalam sesi coaching. Keempat pertanyaan ini juga dapat kita gunakan ke diri sendiri saat kita ingin mengklarifikasi tujuan kita.

Keempat pertanyaan tersebut adalah:

  • Apa yang ingin Anda wujudkan?
  • Kapan, dimana, bersama siapa Anda ingin tujuan ini terwujud?
  • Darimana Anda tahu bahwa tujuan Anda sudah terwujud?
  • Mengapa tujuan itu penting bagi Anda?

Mari kita bedah satu per satu keempat pertanyaan di atas.

Pertanyaan Pertama: Apa yang ingin Anda wujudkan?

Ini adalah pertanyaan outcome – pertanyaan tentang hasil akhir yang ingin dicapai. Pertanyaan ini diajukan untuk membingkai sebuah masalah menjadi sebuah tujuan. Untuk memfokuskan pikiran kita ke arah yang kita inginkan, bukan ke arah yang tidak kita inginkan. Tentu saja, jawaban yang kita inginkan dari pertanyaan ini berbentuk sebuah kalimat positif, bukan negasi. Artinya, diharapkan coachee akan menjawab:

“saya ingin langsing” bukan “saya tidak ingin gemuk”

“saya ingin berkomunikasi lebih baik dengan pasangan saya” bukan “saya tidak ingin sering berselisih dengan pasangan saya”

“saya ingin mendapatkan penghasilan yang stabil” bukan “saya tidak ingin penghasilan saya naik turun”

Bila ternyata coachee menjawab dengan kalimat negasi, maka seorang coach perlu membantu dengan mengajukan pertanyaan:

“jadi, jika Anda tidak menginginkan X, apa yang Anda inginkan?”

Atau bila Anda sudah ahli, Anda bisa ajukan dengan nada yang lebih informal:

“oke, tidak ingin X, lalu inginnya?”

Kadangkala, coachee juga terjebak menginginkan tujuan yang di luar kendalinya. Misalnya:

“Saya ingin suami saya lebih memahami saya”

“Saya ingin atasan saya fokus saja ke tanggung jawabnya tidak perlu mencampuri tugas anak buah saya”

“Saya ingin Andi meminta maaf ke saya agar saya bisa memaafkan dia”

Tentu saja, tujuan-tujuan semacam ini ada di luar kendali dia. Maka, tugas seorang coach membantu coachee agar fokus pada apa yang ada di dalam kendalinya. Caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan:

“Apa peran Anda dalam hal ini?”

“Apa yang ada di dalam kendali Anda dalam hal ini?”

“Apa yang secara proaktif dapat Anda lakukan untuk mewujudkan ini?

Kriteria terakhir, pastikan bahwa tujuan yang disebutkan memang benar-benar coachee inginkan. Anda bisa mengajukan pertanyaan berikut untuk melakukannya:

“Apakah hal ini yang benar-benar Anda inginkan?”

Jadi, ada tiga kriteria yang perlu kita klarifikasi di pertanyaan outcome ini.

  • Kalimat positif.
  • Dalam kendali.
  • Bermakna.

Pertanyaan Kedua: Kapan, Dimana, Bersama Siapa Anda ingin Tujuan ini Terwujud?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan context – spesifikasi dari tujuan Anda. Tanpa konteks yang jelas, tujuan Anda pun menjadi tidak jelas dan tidak presisi. Konteks bermanfaat untuk memperjelas: kapan, dimana, bersama siapa sebuah tujuan ingin diwujudkan. Sebuah tujuan yang sama dalam konteks yang berbeda bisa jadi membutuhkan cara yang berbeda untuk mewujudkannya.

Misalnya tujuan: ingin lebih percaya diri. Bila tidak jelas konteksnya, kita akan bingung bukan? Percaya diri dalam hal apa? Kapan dan dimana persisnya? Saat bersama siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu menspesifikasikan tujuan tersebut.

Pertanyaan Ketiga: Darimana Anda tahu bahwa tujuan Anda sudah terwujud?

Pertanyaan ketiga ini adalah pertanyaan evidence – bukti nyata bahwa tujuan tersebut sudah terwujud. Kita perlu membantu coachee berpikir lebih kongkrit, sehingga ia dapat melihat dengan jelas di dalam benaknya seperti apa kelihatannya saat tujuannya telah terwujud.

Pertanyaan tersebut dapat ditambahkan dengan pernyataan dan pertanyaan berikut:

“Bayangkan, tujuan ini akhirnya benar-benar dapat Anda wujudkan. Apa yang Anda lihat?”

Lanjutkan dengan:

“Apa yang Anda dengar?”

“Apa yang Anda rasakan?”

Tujuannya adalah menetapkan bukti tercapainya tujuan. Sehingga coachee memiliki ukuran keberhasilan yang jelas di dalam benaknya sebagai patokan dalam perwujudannya. Tanpa patokan yang kongkrit, coachee akan bingung saat menjalani prosesnya. Ia akan bingung: apakah tujuan yang dia inginkan sudah benar-benar tercapai atau belum?

Saya ingat pernah bertanya kepada seorang mahasiswa tentang impiannya. Dia menjawab “saya ingin sukses” – nah, ukuran sukses setiap orang berbeda bukan? Maka, kita perlu mengkongkritkan dengan mengajukan pertanyaan evidence ini: “Darimana kamu tahu bahwa kamu sudah sukses?” “Apa yang kamu lihat?” “Apa yang kamu dengar?”

Pertanyaan Keempat: Mengapa Tujuan ini Penting bagi Anda?

Pertanyaan keempat ini adalah pertanyaan value – nilai dan makna dari tujuan tersbut. Kalau kita hubungkan dengan tiga kriteria yang kita bahas di pertanyaan pertama, pertanyaan keempat ini sebenarnya menguatkan kriteria ketiga: bermakna. Semakin bernilai dan bermakna sebuah tujuan, semakin termotivasi seseorang berusaha mewujudkannya. Sebaliknya, semakin tidak bernilai dan semakin tidak bermakna sebuah tujuan, semakin kecil motivasi seseorang untuk mewujudkannya. Ajukan pertanyaan ini 3-5 kali agar terungkap core value yang menggerakkan motivasi coachee kita.

Ketiga pertanyaan pertama: outcome, context dan evidence menjawab WHAT dari sebuah tujuan. Pertanyaan keempat: value, menjawab WHY dari sebuah tujuan. Setelah WHAT dan WHY jelas, barulah kita dapat mendiskusikan HOW-nya. Di sinilah banyak dari kita yang salah memprioritaskan. Kita sibuk memikirkan HOW padahal WHAT dan WHY-nya belum clear. Perjelas dulu WHAT dan WHY-nya barulah pikirkan HOW-nya.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.