fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Banjir Informasi dan Dampak Negatifnya

1 min read

Hari ini kita diserbu oleh banjir informasi. Ada 6000 video baru diunggah di Youtube setiap hari. Ada 2000 buku diterbitkan setiap hari. Belum lagi jutaan artikel yang tersebarluas di dunia maya. Di Facebook saja, per menit ada 136.000 postingan status, 510.000 komen, dan 136.000 foto diupload (sekitar 300 juta foto per hari!). Ini benar-benar mengerikan.

Banjir informasi ini pun diiringi dengan tercampurnya informasi berkualitas dengan informasi sampah. Hoax bertebaran dimana-mana. Orang menyampaikan pendapat hanya berdasarkan informasi di dunia maya. Sehingga kita mulai sulit membedakan, mana informasi yang penting dan tidak penting. Mana informasi yang berkualitas tinggi dan berkualitas rendah.

Bila kita tidak memilah-milah, otak kita akan mengalami cognitive overload. Otak kita dipenuhi berbagai data dan informasi, baik yang berkualitas maupun sampah. Berguna maupun tak berguna. Sehingga kita menjadi kewalahan dan kebingungan. Kita tidak bisa membedakan mana informasi yang esensial dan mana yang tidak.

Banjir-Informasi-dan-Dampak-Negatifnya-bagi-Kita

Di sisi lain akses ke berbagai pengetahuan terbuka lebar. Kita dengan mudah mempelajari pengetahuan baru hanya dengan googling. Kita bisa dengan mudah mempelajari skill baru dengan buka Youtube. Akibatnya, kita tergoda untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Bahkan ketika tidak mampu menyerap, kita tergoda untuk menimbunnya. Berapa banyak buku yang tidak terbaca? Bookmark yang tidak pernah dibuka? Ebook yang tersimpan di hardisk selamanya?

Kita merasa produktif dengan menyerap berbagai informasi. Kita pun sibuk mengolah data lalu menunda-nunda tindakan dengan alasan datanya belum lengkap. Pada akhirnya kita tidak melakukan apa-apa atas informasi yang kita miliki. Padahal informasi yang dikumpulkan tidak berguna sampai kita menindaklanjutinya, sampai kita menerapkannya.

Terlalu banyak informasi pun menyebabkan terlalu banyak pilihan. Akhirnya kita kehilangan fokus. Terlalu banyak hal yang perlu diperhatikan. Terlalu banyak yang perlu direspon. Akibatnya, sangat sedikit tugas dan pekerjaan yang tertuntaskan.

Maka kita pun sibuk dengan informasi berkualitas rendah dari sosial media, namun kita lupa mempelajari informasi berkualitas tinggi dari buku. Kita sibuk mengumpulkan informasi, namun kita lupa mengolahnya. Kita sibuk menyerap informasi, namun lupa untuk menerapkannya. Kita mengenal banyak hal, namun tidak menguasai satupun.

Lalu, apa solusinya? Jerry Michalski – seorang konsultan produktivitas – menjawabnya dengan satu kalimat: “Anda perlu seutuhnya melepaskan kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu”.

Bagaimana praktikknya? Ada tiga hal utama yang perlu kita lakukan.

Pertama, batasi jumlah expert atau guru yang Anda follow, demikian Sarah Peterson – seorang professional blogger – menyarankan. Terlalu banyak mengikuti banyak expert membuat Anda bingung. Karena seringkali pendapat satu expert dengan expert lainnya berbeda-beda. Ini akan menyebabkan pertentangan dalam otak kita yang membuat kita akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Kedua, berhenti menimbun informasi. Jangan terlalu mudah tergoda mempelajari sesuatu yang baru. Informasi hanyalah informasi sampai Anda benar-benar menggunakannya. Pengetahuan hanya pengetahuan sampai kita benar-benar menerapkannya.

Ketiga, saran dari Cal Newport penulis buku Deep Work: berhenti atau setidaknya batasi penggunaan media sosial. Media sosial adalah pencuri waktu dan atensi terbesar. Jika waktu dan perhatian kita habis untuk media sosial, kita tidak punya waktu dan atensi untuk hal-hal yang lebih penting dalam hidup kita.

Jadi, apakah Anda siap menerapkan ini semua dan mulai fokus serta memberikan atensi pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup Anda?

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

One Reply to “Banjir Informasi dan Dampak Negatifnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *