fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Decision Fatigue: Kelelahan Mental Akibat Memilih & Memutuskan

2 min read

Daniel Levitin mengatakan: “Pada 1976, hanya ada 9000 produk di sebuah toko grosir. Hari ini jumlah itu menggelembung menjadi 40.000 produk. Padahal, kebutuhan belanja kita akan terpenuhi hanya dengan 150 item produk saja. Artinya, kita perlu mengabaikan puluhan ribu produk lainnya setiap kali kita berbelanja!”

Ledakan informasi menyebabkan ledakan pilihan. Kita dituntut untuk memilih lebih banyak keputusan. Masalahnya, otak kita hanya memiliki kuota energi mental yang terbatas. Kita memulai setiap hari dengan kuota energi tertentu. Sepanjang hari, setiap keputusan, entah penting atau tidak, mengkonsumsi energi kita. Pertanyaan seperti “Saya perlu pakai baju biru atau merah?” sama-sama menggunakan energi seperti pertanyaan “Saya baru saja didiagnosis kanker. Penanganan mana yang akan saya pilih? Kemoterapi atau operasi?”

Decision-Fatigue-Kelelahan-Mental-Akibat-Memilih-Memutuskan

Otak kita mengkonsumsi energi bahkan hanya untuk memutuskan:

  • Hari ini pakai baju apa?
  • Hari ini makan apa? Dimana?
  • Deterjen mana yang perlu saya beli? Apakah yang mengandung softener atau tidak?
  • Saya perlu menjawab pesan WhatsApp ini atau tidak? Jika perlu, sekarang atau nanti? Bagaimana saya akan menjawabnya. Setiap twit, postingan facebook, teks WhatsApp berkompetisi merebut sumberdaya di otak kita untuk mengambil keputusan.

Ya, untuk keputusan-keputusan trivial seperti itu, kita mengkonsumsi kuota pengambilan keputusan kita. Otak tidak membedakan apakah keputusan yang diambil adalah keputusan penting atau tak penting (trivial). Perlakuannya sama. Setelah kita mengambil banyak keputusan yang bersifat trivial, kita mulai mengambil keputusan-keputusan yang buruk. Kita tidak bisa memutuskan dengan baik, tidak peduli betapa pentingnya.

Bila kuota energi mental kita habis, maka kita tidak lagi bisa memutuskan sesuatu dengan jernih. Tidak peduli betapa pentingnya keputusan itu. Dalam psikologi, kelelahan mental seperti ini dikenal dengan decision fatigue.

Ketika saya berbicara energi, saya tidak berbicara energi secara metaforik namun energi dalam makna yang sebenarnya. Energi yang dimaksud adalah glukosa yang menjadi bahan bakar setiap sel neuron di otak kita. Secara biologis, pengambilan keputusan dikerjakan oleh neuron di otak kita. Neuron adalah makhluk hidup yang bisa lelah. Dia membutuhkan oksigen dan glukosa sebagai bahan bakarnya. Setiap kali kita mengambil keputusan, glukosa berkurang sehingga otakpun lelah. Ada harga yang dibayar dalam setiap pengambilan keputusan.

Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari decision fatigue ini?

Pertama, batasi asupan informasi dan saluran komunikasi Anda

Inilah rahasianya mengapa orang-orang sukses membatasi informasi dan komunikasi dengan dunia luarnya. Mereka menggunakan tools atau asisten yang memfilter semua informasi dan komunikasi yang ditujukan kepada dirinya. Mereka mencegah distraksi seoptimal mungkin. Mereka menyadari bahwa atensi adalah sumberdaya mental utama yang sangat berharga.

Kedua, prioritaskan tugas dan keputusan penting di pagi hari

Keputusan penting seharusnya dibuat di awal hari, ketika energi kita berada di level tertinggi.

Bila kita menghabiskan waktu di pagi hari untuk membuka Facebook, WhatsApp atau Email. Hari kita menjadi kurang produktif. Kita kelelahan untuk berpikir jernih di siang dan sore harinya. Kuota energi mental yang tersedia diserobot oleh semua hal trivial di atas, akhirnya tidak tersisa untuk hal-hal yang lebih penting.

Menjelang tidur, pikirkan tiga hal terpenting yang perlu Anda selesaikan esok harinya (The Most Important Task). Kemudian, kerjakan semuanya di keesokan paginya. Baik juga bila kita memiliki rutinitas pagi produktif yang sama. Anda bisa gunakan menggunakan waktu pagi untuk membaca Al Ma’tsurat, menulis artikel dan berolahraga. Miliki rutinitas pagi yang akan menjadi mood booster Anda seharian nantinya. Niscaya hari Anda akan lebih produktif.

Ketiga, simplifikasi dan otomatisasi.

Simplifikasi dan otomatisasi memungkinkan Anda menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk keputusan, tugas dan aktivitas yang berharga.

Kurangi jumlah pengambilan keputusan kecil dan tidak penting yang perlu kita lakukan setiap hari. Tujuannya agar mereka dapat fokus ke pengambilan keputusan yang lebih besar dan penting.

Untuk mengorganisir tagihan dan kwitansi, Anda tidak perlu membuat indeks berwarna. Ini hanya menyita energi mental Anda. Cukup simpan dalam kotak, dan buka kotaknya lalu cari ketika Anda membutuhkannya.

Steve Jobs menggunakan kaos hitam yang sama setiap hari agar tidak perlu memutuskan akan menggunakan baju apa hari ini. Sistem seperti apa yang dapat kita lakukan untuk menghemat konsumsi energi dalam pengambilan keputusan? Berikut beberapa ide yang bisa Anda lakukan:

  • Autodebet untuk pembayaran tagihan – sehingga Anda tidak perlu mengingat-ingat apakah Anda sudah membayar tagihan atau belum.
  • Perencanaan menu selama seminggu – sehingga Anda menghemat energi mental untuk memutuskan: masak apa hari ini?
  • Rutinitas pagi – kebiasaan pagi yang sama, membuat Anda produktif sejak pagi hari.
  • Asynchronous Communication – Hanya menjawab chat di waktu-waktu tertentu yang sudah dijadwalkan.
NB: Sudah gabung channel Telegram Bedah Buku Bisnis? Silakan meluncur ke t.me/darmawanaji
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.