fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Aktivitas Seperti Apa yang Mengisi Hari-Hari Anda?

2 min read

Kemarin, baru saja saya membaca buku Hyperfocus-nya Chris Bailey. Buku ini sudah teronggok lama di rak buku dan baru kemarin ia melambaikan tangan serta menunjukkan wajah memelasnya untuk dibaca. Saya tak tahan dengan sikap seperti ini, maka saya ambil buku tersebut dan saya baca. Rupanya buku ini ingin mengingatkan saya pada sebuah konsep menarik yang pernah saya pelajari di masa lalu. Saya akan menceritakannya sebentar lagi.

Hyrum Smith di buku klasiknya mengatakan “Kehidupan adalah rangkaian aktivitas.” Maka, kualitas aktivitas yang kita pilih di setiap waktu memengaruhi kualitas kehidupan kita secara umum. Jika kita mengisi hari kita dengan aktivitas yang tidak produktif maka hidup kita secara umum pun tak produktif. Jika kita mengisi hari kita dengan aktivitas tak bermakna, maka hidup kita pun jadi tak bermakna. Pertanyaannya, aktivitas seperti apa yang mengisi hari-hari kita? Kita yang menentukan.

Di sinilah letak masalahnya. Seringkali kita tidak sadar dengan aktivitas yang kita pilih. Kita memilih untuk terhanyut begitu saja dengan rutinitas. Kita menyerah pada kebiasaan kita. Kita melakukan aktivitas sehari-hari tanpa intensi, sehingga kemudian tanpa sadar sore sudah menjelang. Beberapa orang bahkan tidak menyadari hal ini bertahun-tahun sehingga di satu titik barulah ia terhenyak, tiba-tiba umur sudah 30 atau 40 tahun.

Rutinitas dan kebiasaan memang membantu kita dalam banyak hal. Ia meringankan beban otak kita dalam melakukan sebuah aktivitas. Namun, ada kalanya kita mengevaluasi rutinitas dan kebiasaan kita agar kita tidak terjebak pada rutinitas dan kebiasaan yang justru tidak memberdayakan kehidupan kita.

Di buku Hyperfocus yang memelas untuk dibaca kemarin, Bailey mengatakan, kita dapat mengevaluasi aktivitas sehari-hari kita dengan dua kriteria.

  1. Apakah aktivitas tersebut produktif atau tidak produktif? Produktif di sini ukurannya adalah apakah aktivitas tersebut membuat kita berhasil menuntaskan tugas-tugas kita? Apakah aktivitas tersebut berdampak besar pada pencapaian tujuan kita?
  2. Apakah aktivitas tersebut menarik atau tidak menarik? Aktivitas yang menarik artinya aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan. Sementara aktivitas yang tidak menarik adalah aktivitas yang membosankan atau sulit untuk dilakukan.

Menggunakan dua kriteria ini, kita akhirnya dapat mengelompokkan aktivitas kita ke dalam empat kategori.

  1. Aktivitas yang produktif tapi tidak menyenangkan, Bailey mengistilahkannya dengan pekerjaan wajib (necessary work).
  2. Aktivitas yang produktif dan menyenangkan, ini namanya pekerjaan bermakna (purposeful work).
  3. Aktivitas yang tidak produktif dan tidak menyenangkan, ini namanya pekerjaan tak perlu (unnecessary work).
  4. Aktivitas yang tidak produktif tapi menyenangkan, istilah Bailey adalah aktivitas yang mendistraksi (distracting work).

Nah, jenis aktivitas mana yang sering memenuhi hari kita? Apakah aktivitas yang tidak produktif yang menyenangkan? Misal, bagi seorang marketer, membuka sosial media, memposting konten di sana, dan berinteraksi dengan follower adalah aktivitas yang produktif. Katakanlah, aktivitas ini membutuhkan waktu satu jam sehari. Jika ternyata dalam sehari kita menghabiskan tiga jam di sosial media, itu artinya satu jam masuk aktivitas produktif sementara dua jam sisanya sebenarnya tidak produktif. Bisa jadi dua jam sisanya adalah distracting work, kita mengerjakannya hanya karena kita suka, bukan karena itu perlu (meskipun tentu saja, otak kita akan mencari pembenaran terhadap hal ini, “ini perlu kok, demi engagement” karena rasa nyaman itu penting bagi survival dan otak kita didesain untuk itu).

Sama seperti nonton serial TV. Saat lelah, bisa jadi kita memilih untuk menonton sebuah tayangan TV, misalnya NCIS (ini kalau saya yak hehehe). Saya nonton satu seri, sekitar 40 menit. Satu seri ini sebenarnya sudah cukup untuk memulihkan energi sehingga saya siap bekerja kembali. Namun, seringkali godaan datang. “Wah, ini menarik, kelanjutannya gimana ya? Nanggung nih, nambah satu seri lagi deh.” Akhirnya, berlanjutlah ke seri berikutnya. Seri berikutnya ini sudah tidak produktif. Ia dilakukan bukan karena intensi awal yaitu untuk refreshing – menyegarkan dan memulihkan energi. Melainkan dilakukan karena menyenangkan saja. Akhirnya, jatuhlah ia dalam kategori distracting work.

Sebagai latihan teman-teman, coba teman-teman buat daftar aktivitas sepanjang hari. Lalu kelompokkan mana yang masuk masing-masing kategori menurut Bailey di atas. Pertanyaannya mana yang lebih banyak? Lalu refleksikan:

  • Apakah saya puas dengan penggunaan waktu saya ini?
  • Apa yang sudah bagus?
  • Apa yang perlu saya ubah?

Ceritakan ke saya hasilnya ya. Sampai jumpa esok, insyaallah kita akan lanjutkan bahasan ini. Stay tune.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.