fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Agar Dampak Ramadhan Bertahan Lama

2 min read

Kita seringkali menganalogikan bulan Ramadhan sebagai bulan pelatihan. Namanya sebuah pelatihan, maka idealnya setelah selesai ada dampak yang terjadi. Entah itu berupa perubahan perilaku atau perubahan kinerja. Dengan kata lain, kita berharap adanya perubahan dan perbaikan setelah pelatihan selesai dilakukan. Bila tidak, maka pelatihan tersebut bisa dibilang “gagal.”

Sayangnya, ini yang biasanya terjadi dalam sebuah pelatihan. Saya sempat membaca di TD Magazine, pelatihan bisa hanya buang-buang waktu dan uang bila tidak dilanjutkan dengan tindak lanjut setelahnya. Bahkan, laporan dari ATD menyebutkan bahwa hanya 38% organisasi yang merasa pelatihan dapat membantu terjacapainya tujuan organisasi (oh ya, ATD adalah Association for Talent Development – sebuah asosiasi internasional yang membidangi dunia pelatihan dan pengembangan. Dulu bernama ASTD – American Society for Training and Development. TD Magazine adalah publikasi resmi dari ATD).

Conrad Gottfredson dan Bob Mosher bahkan menggambarkan dampak pelatihan tanpa tindak lanjut setelahnya dalam grafik warna merah di bawah ini:

Grafik merah ini sebenarnya modifikasi dari Ebbinghaus Forgetting Curve – kurva lupa Ebbinghaus. Dalam tiga bulan atau kurang, peserta pelatihan akan lupa alias “kehilangan” kompetensinya – seakan-akan mereka tidak pernah mengikuti pelatihan sebelumnya.

Lalu, bagaimana solusinya? Gottfredson dan Mosher menyarankan perlunya tindak lanjut. Istilah yang mereka gunakan adalah transfer train then transfer. Transfer adalah tindak lanjut pasca pelatihan. Bentuknya bisa berupa practice group, coaching, mentoring, penugasan, latihan mandiri/praktik, dsb. Tanpa tindak lanjut semacam ini, maka dampak pelatihan akan luntur perlahan-lahan. Namun, bila kita melakukan tindak lanjut maka grafiknya akan mengikuti grafik hijau. Dampak pelatihan akan bertahan bahkan meningkat dari sebelumnya.

Bila dihubungkan dengan “lunturnya” dampak Ramadhan sepertinya jadi masuk akal bukan? Pelatihan dan perubahan perilaku yang kita rintis selama Ramadhan, meluntur perlahan-lahan. Hingga tiga bulan pasca Ramadhan, kita kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama kita.
Maka, bila kita ingin mempertahankan dampak Ramadhan, kita perlu
membuat rencana tindak lanjut. Caranya adalah dengan memilih 1-3 perubahan yang akan dipertahankan dalam tiga bulan ke depan. Tentu saja Anda perlu membuat daftarnya terlebih dahulu. Anda bisa membuat daftar bila Anda sudah melakukan evaluasi Ramadhan. Bila belum, maka lakukan proses evaluasi terlebih dahulu. Panduannya dapat Anda baca di artikel berikut ini:

Ide tindak lanjut pasca pelatihan adalah memilih 1-3 perilaku baru yang sudah terbentuk selama Ramadhan lalu:

  1. Pertahankan. Jadikan sebagai kebiasaan baru.
  2. Tingkatkan. Baik kuantitas (jumlah atau frekeuensi) dan kualitasnya.
  3. Perluas konteksnya. Mempertahankan perilaku dalam bentuk yang sedikit berbeda atau dalam konteks yang berbeda.

Perhatikan beberapa contoh berikut ini.

Selama Ramadhan, Anda sudah terbiasa melakukan puasa selama 30 hari. Maka, Anda bisa pertahankan, tingkatkan atau perluas konteks dengan:

  • Mempertahankan pola makan 2x sehari.
  • Membiasakan puasa sunah Senin-Kamis.
  • Tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.
  • Membiasakan pola makan sepertiga. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, sepertiga untuk udara.

Contoh lain, katakanlah selama Ramadhan Anda sudah terbiasa bangun pagi sebelum subuh. Maka, Anda bisa lakukan tindak lanjut sebagai berikut:

  • Mempertahankan bangun pagi sebelum subuh.
  • Tidak tidur setelah subuh.
  • Berolahraga setelah subuh.
  • Tilawah setelah subuh.
  • Mandi pagi sebelum subuh.
  • Shalat subuh berjamaah di masjid.

Berikutnya, misal Anda berhasil khatam Al Qur’an dalam sebulan. Maka, tindak lanjutnya mungkin:

  • Membaca Al Qur’an 1 juz setiap hari.
  • Membaca terjemah Qur’an, 1 halaman setiap selesai shalat wajib.
  • Membaca tafsir Al Qur’an, 1 halaman setiap hari.
  • Mengikuti kajian keislaman yang lebih sistematis.

Anda berhasil melakukan tarawih setiap hari. Tindak lanjutnya bisa jadi:

  • Membiasakan shalat malam (misal diawali seminggu dua kali).
  • Shalat berjamaah dengan keluarga.
  • Shalat berjamaah di masjid.

Anda berhasil puasa secara mental selama 30 hari. Maka, tindak lanjut yang bisa Anda lakukan misalnya:

  • Menahan diri untuk tidak berpikir dan berkata kotor.
  • Menahan panca indera dari maksiat.
  • Lebih sabar dan menahan amarah dalam menghadapi anak-anak.

Nah, pertanyaannya adalah:

  1. Apa perubahan yang berhasil Anda lakukan di bulan Ramadhan yang ingin Anda pertahankan?
  2. Apa perubahan yang berhasil Anda lakukan di bulan Ramadhan yang ingin Anda tingkatkan kuantitas atau kualitasnya?
  3. Apa perubahan yang berhasil Anda lakukan di bulan Ramadhan yang ingin Anda perluas konteksnya?

Bila ini berhasil kita lakukan, maka kita telah memaknai bulan Syawal dengan makna aslinya yaitu naik atau meningkat. Maka, bukankah tepat bila Syawal kita jadikan sebagai bulan peningkatan?

Semoga bermanfaat!

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *