fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Affective Forecasting: Salah Prediksi Penyebab Prokrastinasi

2 min read

photo of man leaning on wooden table

Manusia itu peramal yang buruk. Termasuk ketika meramalkan apa yang akan ia rasakan di kemudian hari. Ramalan kita terhadap apa yang mungkin akan kita rasakan, lalu kita jadikan sebagai panduan apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan. Kita bisa salah menginginkan sesuatu karena kita berpikir saat berhasil mendapatkannya kita akan merasa lebih baik dalam jangka yang lebih panjang.

Dan Gilbert & Tim Wilson melakukan studi khusus terkait hal ini. Mereka mengistilahkannya dengan affective forecasting – ramalan perasaan. Manusia, pada dasarnya buruk dalam meramalkan apa yang akan kita rasakan nanti. Inilah yang menyebabkan kita kemudian terjebak dalam miswanting – salah menginginkan sesuatu.

Studi yang dilakukan Gilbert & Wilson sangat sederhana. Gilbert & WIlson melakukan studi pada keyakinan para asisten profesor. Para asisten profesor meyakini bahwa bila mereka mendapatkan posisi yang permanen di tempat mereka bekerja maka itu akan memengaruhi kebahagiaan jangka panjang mereka. Ini adalah ramalan mereka tentang apa yang akan dirasakan di masa depan. Gilbert & Wilson kemudian membandingkan keyakinan ini dengan menilai kebahagiaan aktual dari dua kelompok asisten profesor: mereka yang gagal mendapatkan posisi permanen dan mereka yang berhasil menerima posisi permanen dalam beberapa tahun ke belakang.

Hasilnya apa? Tidak ada berbeda. Mereka yang gagal sama bahagianya dengan mereka yang berhasil. Mungkin, kita bisa analogikan hal ini dengan pekerja honorer. Para pekerja honorer meyakini bahwa bila mereka mendapatkan posisi permanen, maka itu akan memengaruhi kebahagiaan jangka panjang mereka di masa depan. Bila kita terapkan hasil studi yang sama, bisa jadi sebenarnya entah mereka gagal ataupun berhasil, tidak begitu berpengaruh terhadap kebahagiaan jangka panjang mereka.

Hasil studi Gilbert & Wilson ini menunjukkan bahwa kita sering kali meremehkan kemampuan kita beradaptasi terhadap kejadian baik maupun buruk di masa depan. Efeknya dua:

Pertama, kita cenderung membesar-besarkan perasaaan buruk yang mungkin terjadi bila gagal di masa depan. Terutama memanjangkan durasi perasaan buruk yang mungkin kita rasakan.
“Nanti kalau saya gagal mendapatkan dia, hidup saya akan menderita selamanya.”
“Nanti kalau saya gagal diterima sebagai PNS, saya akan kesulitan menghidupi keluarga saya selamanya.”
“Nanti kalau saya tidak diterima di PTN, teman-teman saya akan menertawakan saya setiap kali bertemu dengan saya.”

Kedua, kita membesar-besarkan perasaan bahagia yang mungkin terjadi bila kita berhasil di masa depan.
“Kalau saya berhasil mendapatkan dia, hidup saya akan bahagia selama-lamanya.”
“Nanti kalau saya berhasil diterima sebagai PNS, saya akan bahagia sepanjang hidup saya.”
“Nanti kalau saya berhasil diterima di PTN, saya akan merasa bangga dan bahagia saat bertemu dengan teman-teman di reuni.”

Apakah prediksi di atas selalu tepat? Jawabannya belum tentu. Seringnya malah tidak tepat. Banyak yang gagal mendapatkan gadis idamannya, namun mereka bahagia dengan jodohnya. Banyak yang gagal diterima sebagai PNS namun hidupnya tetap bahagia. Banyak yang gagal diterima di PTN, namun mereka baik-baik saja. Sebaliknya, banyak yang sudah mendapatkan gadis idamannya, namun tidak bahagia, bahkan berujung ke perceraian. Banyak yang diterima sebagai PNS, tapi malah stress dan merasa tidak bahagia. Banyak yang diterima di PTN, lalu merasa menderita. Hehehe…

Intinya, sangat sering kita salah memprediksi apa yang mungkin kita rasakan di masa depan. Akibat dari kesalahan prediksi ini, sering kali kejadian buruk yang kecil membuat hidup kita lebih menderita dibandingkan kejadian buruk yang besar. Ini karena kita salah memprediksi, salah meramalkan perasaan kita.

Jangankan memprediksi perasaan, saya sendiri sering kali salah memprediksi berapa banyak cemilan yang perlu saya beli seminggu ke depan, bila saya pergi berbelanja dalam keadaan kenyang. Sangat berbeda bila berbelanja saat lapar.

Lalu, apa hubungannya dengan penundaan? Kita seringkali menunda saat kita merasa bahwa bila kita mengerjakannya besok, maka kita akan bersemangat. Kita melakukan affective forecasting – meramalkan perasaan kita besok. Namun, dari studi kita jadi tahu bahwa ramalan perasaan tidaklah akurat. Kita tidak bisa meramalkan mood kita besok bakal seperti apa. Maka, saat pikiran semacam ini terjadi segera hentikan. Lalu katakan pada diri sendiri: “Belum tentu besok saya lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas ini daripada sekarang, jadi lebih baik saya bertindak sekarang saja.” Yakinlah, bahwa besok kita belum tentu lebih bersemangat dibanding hari ini. Maka, bila saat ini Anda bersemangat mengerjakan sesuatu yang baik, segera kerjakan. Karena bisa jadi, besok semangat itu sudah luntur dan bahkan menghilang.


Tertarik mempelajari A-Z tentang penundaan sehingga Anda bisa mengatasi penundaan yang Anda lakukan? Cek info Kelas Anti Penundaan di sini.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.