fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

4 Elemen Deep Work

1 min read

Pada tahun 2010, Nicholas Carr menulis buku berjudul The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. Buku yang mendapatkan nominasi Pulitzer ini mengirimkan pesan yang sangat jelas: hati-hati dengan internet, karena internet berpotensi memperpendek rentang atensi kita. Kita menjadi sulit fokus, tergoda melompat dari satu tautan ke tautan lainnya. Akibatnya kerja kita menjadi tidak tuntas. Kita menjadi mudah teralihkan.

Cal Newport melalui bukunya, Deep Work, kemudian menguatkan hipotesis Nicholas Carr ini. Menurut Newport, saat ini sangat sedikit orang yang bekerja mendalam – melakukan deep work. Sebagian besar orang melakukan kerja-kerja dangkal – shallow work. Tak heran jika akhirnya sebagian besar orang tidak mampu menghasilkan karya besar. Mereka hanya menghasilkan karya-karya dangkal yang seadanya. Karya-karya semacam ini bernilai rendah karena mudah dibuat tiruannya.

Deep Work sendiri sebenarnya seperti apa? Setidaknya, ada empat elemen agar sebuah kerja disebut dengan deep work.

Pertama, single-tasking. Saat melakukan deep work, hindari multi-tasking. Berfokuslah pada satu hal saja dan kerjakan dengan baik. Bila kita melakukan deep work untuk menulis, maka fokuslah menulis saja. Bila melukis, fokuslah melukis saja. Bila membaca, fokuslah membaca saja.

Mengapa single-tasking ini penting? Karena ada biaya terselubung dari melakukan multi-tasking. Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya akan menghasilkan residu atensi. Misal kita beralih dari pekerjaan A ke B dalam satu waktu, saat mengerjakan pekerjaan B sebenarnya masih ada sisa atensi kita yang terarah ke A. Kita masih memikirkan A dalam rentang waktu tertentu. Tentu saja ini akan membunuh produktivitas Anda. Anda tidak dapat memberikan atensi penuh pada pekerjaan Anda dan akhirnya hasil yang tercipta tidaklah optimal.

Kedua, tanpa distraksi. Hilangkan hal-hal yang dapat mengalihkan kita semaksimal mungkin. Matikan notifikasi telepon genggam. Putuskan koneksi internet. Tutup pintu dan kondisikan orang-orang di sekitar kita bahwa kita sedang tidak dapat diganggu untuk beberapa waktu ke depan.

Sama seperti multi-tasking, sibuk dengan distraksi pun menghasilkan residu atensi. Akibatnya kita menjadi lebih mudah lelah. Kita pun sulit untuk fokus pada apa yang kita kerjakan saat ini.

Ketiga, fokus yang intens. Untuk melakukan deep work, kita memerlukan fokus yang intens. Kita perlu mencurahkan 100% perhatian kita pada apa yang sedang kita kerjakan. Parkirkan hal-hal yang melintas dalam pikiran kita (misalnya dengan melakukan braindumping sebelum sesi deep work kita).

Keempat, dilakukan dalam rentang waktu yang panjang. Deep work tidak akan terbentuk bila kita hanya menyisihkan 5-10 menit saja. Kita perlu meluangkan waktu panjang, 2-4 jam sehari atau 1-2 hari penuh untuk melakukan deep work. Mengapa? Karena karya yang dalam membutuhkan waktu panjang untuk menciptanya.

Pertanyaannya, apakah Anda berniat menciptakan karya besar dalam hidup Anda? Jika ya, maka siapkah Anda melakukan deep work?

Artikel terkait:

https://www.darmawanaji.com/deep-work-rahasia-para-pencipta-karya/

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.