fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

3 Fase Membangun Keahlian (Pengetahuan Prosedural)

1 min read

a person playing an acoustic guitar

Ada dua macam pengetahuan: deklaratif dan prosedural. Pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) adalah pengetahuan yang kita gunakan saat memberi nama, menjelaskan, dan menceritakan sesuatu. Pengetahuan prosedural (procedural knowledge) adalah pengetahuan yang kita gunakan untuk bertindak, mengerjakan tugas, atau melakukan sesuatu.

Kadang kala kita jago banget menjelaskan sesuatu, namun pas praktiknya nggak bisa apa-apa. Sebaliknya kadang kita jago banget melakukan sesuatu tapi tidak bisa menjelaskannya. Ini adalah fenomena perbedaan pengetahuan yang kita kuasai. Bila ada yang bisa melakukan sekaligus bisa menjelaskannya (atau sebaliknya) itu artinya dia menguasai keduanya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena memori yang terlibat berbeda. Pengetahuan deklaratif terkait dengan memori deklaratif (bagian dari memori eksplisit), sementara pengetahuan prosedural terkait dengan memori prosedural (bagian dari memori implisit).

Coba perhatian contoh berikut ini, mana yang membutuhkan pengetahuan deklaratif dan mana yang membutuhkan pengetahuan prosedural?

Contoh:

  • Nama ibukota Vietnam.
  • Mengendarai sepeda motor.
  • Menjelaskan sebab Perang Dunia II.
  • Melakukan presentasi.
  • Melakukan coaching.
  • Menjelaskan perbedaan coaching dengan training.

Cocokkan jawaban Anda dengan jawaban berikut ini.

  • Pengetahuan deklaratif: nama ibukota Vietnam, menjelaskan sebab Perang Dunia II, dan menjelaskan perbedaan coaching dengan training.
  • Pengetahuan prosedural: mengendarai sepeda motor, melakukan presentasi, melakukan coaching.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keahlian/skill, kita sebenarnya sedang berbicara tentang pengetahuan prosedural. Untuk menguasainya kita perlu mengombinasikan kemampuan kognitif dengan perilaku tertentu. Mereka yang sudah menguasai pengetahuan prosedural akan mampu mengakses pengetahuan ini secara tak sadar/otomatis. Bila seseorang masih perlu berpikir untuk mengakses pengetahuan proseduralnya, ini memandakan bahwa pengetahuan proseduralnya masih belum terbangun dengan baik.

Pertanyaannya, bagaimana membangun pengetahuan prosedural ini? Tentu saja cara menguasai pengetahuan prosedural berbeda dengan menguasai pengetahuan deklaratif. Untuk menguasai pengetahuan deklaratif mungkin kita cukup membaca berulang-ulang, menghafal, atau berusaha memahaminya. Bila kita melakukan hal yang sama untuk menguasai pengetahuan prosedural, saya yakin hal itu tidak akan berhasil.

Saya ambil satu contoh, melakukan coaching misalnya. Tidak bisa dikuasai hanya dengan membaca berulang-ulang, menghafal, atau berusaha memahami metodenya tanpa mempraktikkannya. Kita perlu berlatih dan mendapatkan umpan balik saat melakukan latihannya.

Maka, ada tiga tahap dalam menguasai pengetahuan prosedural.

Pertama, fase kogntif.
Kedua, fase asosiatif.
Ketiga, fase otonom.

Fase kognitif adalah fase ketika kita berusaha memecah sebuah keterampilan ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, lalu berusaha memahami keterkaitannya satu sama lain. Dalam belajar coaching misalnya, di sini adalah fase ketika kita berusaha memahami berbagai kompetensi coach dan perilaku-perilaku kunci yang membentuknya.

Fase asosiatif adalah fase ketika kita berusaha mentransfer apa yang kita ketahui (secara kognitif) ke dalam perilaku kita. Di fase ini kita mengulang-ulang bagian dari keterampilan dan mendapatkan umpan balik apakah perilaku kita sudah sesuai dengan prosedur yang tepat atau belum.

Fase otonom adalah fase ketika kita bisa memunculkan keterampilan kita dengan mudah, otomatis, tanpa perlu berpikir lagi. Di fase ini lah pengetahuan prosedural terbentuk secara “sempurna.” Tentu saja, kita masih bisa terus melatih keterampilan kita sehingga kita semakin tajam dan presisi dengan keterampilan yang sedang kita latih.

Nah, kita bisa gunakan tiga fase ini untuk menguasai pengetahuan prosedural apapun. Mulai dari menguasai bahasa asing, menggambar, bermain gitar, melakukan penjualan, melakukan public speaking dan sebagainya.

Bagi seorang trainer, memahami tentang pengetahuan deklaratif dan prosedural adalah bagian dari pemahaman dasar yang penting. Demikian juga memahami tiga fase dalam pembentukan keahlian ini. Bila pemahaman dasar ini tidak dikuasai, jangan heran kalau kemudian seorang trainer “ngawur” dalam mendesain program pelatihan yang diadakannya.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *