fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Work From Home Productivity Guide: Bagaimana Tetap Produktif Meskipun Bekerja dari Rumah

4 min read

Penerapan social distancing akibat wabah Covid-19 ini membuat sebagian besar pekerja diharuskan bekerja dari rumah (remote). Bagi mereka yang terbiasa ngantor, tentu ini mengagetkan. Suasana bekerja di rumah tentu saja berbeda dengan di kantor. Rumah yang biasanya menjadi tempat bersantai, kini berubah menjadi tempat bekerja. Wajar bila sebagian pekerja mengalami kegamangan saat diminta bekerja dari rumah. Produktivitas pun tiba-tiba menurun tajam.

Selama 10 tahun terakhir, saya menghabiskan 80% waktu bekerja saya di rumah. Berbeda dari rumah tentu saja berbeda dengan bekerja di kantor. Meskipun, prinsip dasarnya sama. Dalam tulisan ini, saya akan membagikan 8 praktik yang bisa teman-teman terapkan (atau latihkan) agar dapat tetap produktif meskipun bekerja dari rumah.

Apa saja 8 praktik tersebut? Mari kita bahas satu per satu.

Praktik #1: Dedicated Space.

Photo by Christopher Gower on Unsplash

Kita perlu menciptakan tempat khusus yang kita dedikasikan untuk bekerja. Tak perlu ruangan khusus jika memang tak punya. Meja dan kursi khusus bekerja pun sudah memadai.

Jika memungkinkan, jangan bekerja di kamar tidur atau di ruang hiburan. Mengapa? Karena otak kita nanti akan bingung, apakah kita perlu mengaktifkan mode bekerja atau beristirahat? Bekerja atau bersantai?

Otak adalah pengenal pola. Tugasnya mengenali pola dengan memindai isyarat dari lingkungan sekitarnya. Katakanlah, kita mencoba bekerja di ruang keluarga yang difasilitasi televisi berlayar lebar dan sofa. Kita duduk di sofa, membuka laptop. Apa yang akan terjadi? Mungkin kita bisa bekerja 5-10 menit, namun godaan untuk googling film terbaru, buka sosial media, atau bahkan memungut remote TV akan sangat kuat. Kita akan kesulitan melawan lingkungan kita.

Skinner mengatakan “If you’re old, don’t try to change yourself, change your environment.” – Jika kamu sudah berumur, jangan mencoba mengubah dirimu, ubahlah lingkunganmu. Maka, memiliki decicated space untuk bekerja akan memudahkan mental kita melakukan transisi dari family time ke work time. Ini penting saat kita bekerja di rumah.

Praktik #2: Start the Day

Photo by Austin Distel on Unsplash

Bayangkan para freelancer yang bekerja dari rumah tanpa perlu mandi pagi, cukup pakai sarung dan kaos oblong. Hmm, ini adalah ilusi. Para freelancer sukses tidak melakukan hal seperti ini di waktu kerjanya. Mereka tetap mandi pagi dan memakai pakaian yang layak untuk bekerja (meskipun tentu saja, pakaian mereka jauh lebih santai daripada mereka yang bekerja kantoran).

Jika kita terbiasa bekerja di kantor, kita perlu memulai hari kerja kita secara formal. Lakukan rutinitas yang biasa kita lakukan di hari kerja: mandi pagi, berpakaian yang rapi, lalu pergi menuju dedicated space kita sebelum jam kerja dimulai. Tentu saja, kita perlu menetapkan jam berapa kita mulai bekerja.

Mengapa ini perlu dilakukan? Untuk memberikan isyarat pada otak bahwa kita siap untuk bekerja. Saat ini dilakukan, mode otak akan berubah dari mode bersantai menjadi mode bekerja. Secara mental kita juga melakukan transisi dari family time ke work time.

Praktik #3: Plan Your Day

Photo by Cathryn Lavery on Unsplash

Bekerja dari rumah berarti bekerja tanpa pengawasan melekat. Ini satu keuntungan, karena memberikan kita (sedikit) kebebasan dalam bekerja. Namun, di sisi lain, kita kehilangan unsur monitoring yang bisa jadi membuat kita lalai dalam bekerja. Akhirnya, kita pun menjadi kurang produktif dibandingkan saat bekerja di kantor.

Maka, saat bekerja dari rumah, kita perlu merencanakan hari kita. Mau kita habiskan hari kita untuk apa. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

  1. Kita perlu atur prioritas. Mana pekerjaan yang harus selesai hari ini (wajib). Mana yang kalau selesai hari ini maka akan menjadi nilai tambah (sunah). Mana yang bisa dikerjakan hari, bisa juga di hari lain (mubah).
  2. Buat to-do list. Tuliskan apa saja yang perlu Anda tuntaskan hari ini. Pastikan to-do list Anda mudah dipahami dan bisa dikerjakan. Jangan membuat to-do list yang tidak masuk akal.
  3. Tetapkan jadwal. Apa yang akan Anda kerjakan, kapan Anda akan mengerjakannya, sampai kapan. Setidaknya, buat deadline di to-do list yang Anda buat.

Praktik #4: Focused Work

Photo by Hannah Wei on Unsplash

Kini, saatnya bekerja. Pastikan Anda bekerja dengan fokus tanpa gangguan. Anda akan menuntaskan lebih banyak hal saat bekerja dengan fokus daripada bekerja secara tidak fokus. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu kita fokus?

  1. Gunakan timer. Saya menerapkan metode Pomodoro, bekerja per 25 menit. Ini sangat membantu saya dalam menuntaskan banyak hal.
  2. Batasi distraksi. Matikan notifikasi chat dan sosial media. Beri pengertian pada anak-anak dan pasangan. Matikan pula telepon agar Anda tidak terganggu di tengah pekerjaan Anda.
  3. Lakukan break terjadwal. Jeda dan istirahat memulihkan energi kita. Setelah bekerja 25 menit, lakukan jeda 5 menit. Berjalan kaki, minum kopi, menyapa anak, apapun. Ini akan mengembalikan energi dan fokus Anda. Selain itu, jeda teratur (berdiri atau berjalan kaki sejenak alih-alih duduk terus menerus) dapat mengurangi risiko serangan jantung. Penelitian Mayo Clinic misalnya menyatakan bahwa seseorang yang bekerja sambil duduk 6 jam sehari memiliki risiko tinggi penyakit jantung. Risiko ini hanya dapat dikurangi bila kita ingat untuk berdiri sejenak minimal per satu jam.

Praktik #5: Batching

Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash

Batching adalah mengelompokkan tugas yang serupa. Jangan biarkan tugas serupa tersebar di berbagai waktu Anda. Kumpulkan jadi satu. Ini akan membuat Anda lebih efektif.

Apa saja tugas atau aktivitas yang bisa kita batching? Berikut beberapa ide:

  • Menjawab chat.
  • Telepon dan berkomunikasi dengan kolega.
  • Pekerjaan administratif (membuat laporan dsb).
  • Memproses email.
  • Melakukan transaksi (membayar tagihan, membeli pulsa, memesan Gofood dsb).

Praktik #6: Collaboration.

Photo by Webaroo on Unsplash

Bekerja dari rumah bukan berarti mengerjakan apa-apa sendiri. Kita masih bisa mendelegasikan tugas serta berkoordinasi dengan tim. Hanya bedanya, kita melakukannya secara virtual.

Di sinilah pentingnya memanfaatkan teknologi. Kita bisa gunakan teknologi yang ada untuk membantu kita berkolaborasi dengan tim.

Beberapa teknologi yang saya pakai misalnya:

  • Trello untuk mengelola tugas tim.
  • Telegram (alternatif: Slack atau Discord) untuk berkomunikasi dengan tim.
  • Google Classroom untuk melatih pegawai.
  • Zoom/Skype untuk rapat virtual (saya pernah membaca, rapat virtual jauh lebih efektif dibandingkan rapat tatap muka).

Praktik #7: Stay Active

Photo by Anastase Maragos on Unsplash

Produktivitas membutuhkan energi. Berada di rumah seharian bagi sebagian orang bisa membosankan, bahkan melelahkan. Berolahraga membantu kita untuk mengatasi hal ini.

Berolahraga juga penting untuk menajamkan pikiran. Pikiran dan tubuh satu kesatuan, jika tubuh pasif pikiran pun akan ikut pasif. Meluangkan waktu untuk berolahraga akan membantu kita dalam menajamkan pikiran kita.

Maka, kita perlu memilih olahraga harian yang cocok untuk kita. Boleh olahraga berat atau olahraga ringan. Boleh aerobik atau non-aerobik. Teman-teman boleh memilih, mulai dari Yoga, HIIT, freeletic, 7-minute workout, apapun.

Praktik #8: End the Day

Photo by Ales Me on Unsplash

Jika jam mulai kerja jelas, berakhirnya pun perlu jelas. Tetapkan, kapan teman-teman akan mengakhiri jam kerja. Ini penting, apalagi bila kita bekerja di rumah.

Alasannya sederhana: kita perlu melakukan transisi mental, dari work time ke family time. Saat jam berakhir, tinggalkan pekerjaan kita. Catat apa yang perlu dilakukan besok. Lalu, tinggalkan dedicated space kita. Jangan gunakan dedicated space ini untuk aktivitas lain, kecuali untuk bekerja.

Ini 8 praktik yang bisa teman-teman terapkan. Tentu saja penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks pekerjaan teman-teman sekalian. Di artikel ini saya belum meng-cover bahasan tentang bagaimana mengelola anak-anak yang bersekolah di rumah. Do’akan agar artikel berikutnya dapat membahas hal ini.

Download panduan ini dalam bentuk ebook PDF di sini.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *