fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Visualisasi Impian: Apakah Bermanfaat?

2 min read

Teman-teman yang sudah membaca artikel kemarin mungkin bertanya-tanya: apakah visualisasi impian benar-benar tidak membantu kita dalam mencapai tujuan?

Pertanyaan ini muncul karena secara umum visualisasi dipercaya sebagai sarana yang ampuh untuk mencapai tujuan. Berbagai buku dan seminar pengembangan diri mengkampanyekan keyakinan ini. Namun, mengamati berbagai hasil riset kita sepertinya perlu memikirkan ulang kembali kepercayaan ini. Penelitian Richard Wiseman yang saya kutip di artikel kemarin salah satunya. Mereka yang menggunakan visualisasi sebagai metode pencapaian tujuan justru tidak mencapai tujuan yang divisualisasikan.

Riset Lime Pham & Shelley Taylor di Universitas California pun memberikan hasil yang serupa. Setiap hari mahasiswa diminta membayangkan diri mereka memperoleh nilai tinggi dalam sebuah UTS yang akan dilaksanakan. Mereka diminta membayangkan dengan jelas dan merasakan betapa menyenangkannya pengalaman tersebut. Mahasiswa lainnya digunakan sebagai kelompok kendali (control group). Mereka diminta melakukan kegiatan seperti biasa. Kedua kelompok diminta mencatat jumlah jam yang digunakan untuk belajar. Hasilnya, kelompok mahasiswa yang melakukan visualisasi justru belajar lebih sedikit dan mendapatkan nilai yang lebih rendah dibandingkan kelompok kendali. Mungkin latihan ini membuat mereka merasa lebih baik dengan diri sendiri, namun tidak mencapai apa yang mereka inginkan.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Prof. Gabriele Oettingen & Thomas Wadden dari Universitas Pennsylvania. Mereka mengikuti para wanita yang sedang mengikuti program penurunan berat badan. Selama latihan mereka diminta memvisualisasikan bagaimana mereka akan bersikap dalam berbagai skenario yang berhubungan dengan makanan (misalnya saat mereka tergiur es krim, pizza dan semacamnya). Setiap tanggapan mereka dikategorikan dalam dua kelompok:

  1. Tanggapan positif (misal: “saya akan menjauh dari es krim tersebut”)
  2. Tanggapan negatif (misal: “saya akan lahap semuanya, bahkan saya akan lahap jatah teman saya)

Setelah satu tahun, apakah kelompok dengan tanggapan positif lebih berhasil dalam menurunkan berat badannya? Ternyata tidak. Kelompok tanggapan negatif berhasil menurunkan berat badan 12 kg lebih banyak dibandingkan kelompok tanggapan positif. Visualisasi positif mereka tidak membantu mencapai sasaran mereka.

Efek yang sama pun terjadi pada kehidupan karier. Oettingen meminta mahasiswa tahun terakhir mencatat seberapa sering mereka berkhayal mendapatkan pekerjaan yang mereka idam-idamkan sesudah lulus universitas. Dua tahun kemudian ditemukan, mahasiswa yang sering bervisualisasi kesuksesan justru lebih sedikit membuat lamaran kerja, menerima jumlah tawaran kerja lebih sedikit dan mendapatkan gaji lebih sedikit dibandingkan lainnya.

Dari berbagai penelitian ini kita dapat menyimpulkan bahwa visualisasi positif (dan berpikir positif) tidak hanya tidak membantu pencapaian tujuan, bahkan berdampak negatif pada pencapaian tujuan!

Akan tetapi, benarkah visualisasi ini benar-benar tidak bermanfaat? Ternyata tidak juga. Kita masih mungkin mendapatkan manfaat dari visualisasi. Caranya adalah dengan menambahkan sedikit bumbu berpikir negatif pada saat visualisasi. Nama tekninya adalah Mental Contrasting. Teknik ini dikembangkan oleh Prof. Gabriele Oettingen (peneliti yang sama dengan di atas). Bagaimana caranya?

  1. Bayangkan Anda berhasil mencapai tujuan Anda. Pastikan tujuan ini menantang namun tetap realistis.
  2. Bayangkan manfaat, dampak dan perasaan positif yang Anda dapatkan dengan mencapai tujuan tersebut.
  3. Bayangkan hambatan yang mungkin muncul dalam proses perwujudan tujuan ini.
  4. Bayangkan cara mengatasi dua hambatan terbesar ini sehingga tujuan Anda terwujud.

Teknik Mental Contrasting ini ternyata memberikan dampak positif pada pencapaian tujuan. Dalam penelitian, teknik ini dibandingkan dengan tiga teknik lainnya:

  • Membayangkan tujuan dan dampak positif saja (indulging).
  • Membayangkan tujuan dan hambatan saja (dwelling).
  • Membayangkan hambatan terlebih dulu, baru dampak positif dari tujuan (reverse mental contrasting).

Hasilnya? Signifikan. Teknik Mental Contrasting dengan urutan yang tepat jauh lebih efektif dibandingkan ketiga teknik lainnya. Perhatikan hasil studinya berikut ini:

Jadi, masih mau coba-coba visualisasi tanpa urutan yang tepat?

Follow kicauan saya di @darmawanaji

 

Disclaimer: tulisan ini hanya merupakan tafsiran saya terhadap berbagai penelitian yang saya baca. Anggap sebagai sebuah hipotesis yang perlu diuji. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai satu-satunya referensi. Pelajari referensi lain juga dan ambillah keputusan Anda dengan bijak.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *