fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

The Theory of Constructed Emotion: Bagaimana Emosi Terbentuk

1 min read

Emosi yang kita rasakan terasa begitu otomatis dan di luar kendali kita. Kita merasakannya begitu saja sebagai reaksi terhadap informasi atau memori tertentu. Bahkan, menurut teori yang sudah mapan emosi bersifat generik. Semua orang, di belahan dunia manapun, merasakan dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sama. Bahwa emosi adalah suatu bawaan yang sudah terpatri dalam otak kita sebagai hasil evolusi. Bahwa emosi adalah ‘sesuatu’ yang dapat terpicu secara otomatis di dalam tubuh kita. Bahwa ada sel-sel neuron khusus dalam otak kita yang bertugas untuk memicu emosi tertentu. Para pemikir lama semacam Aristoteles, Darwin dan Freud memahaminya semacam ini. Ilmu-ilmu bahasa tubuh semacam microexpression-nya Paul Ekman juga berangkat dari asumsi ini. Namun, benarkah demikian? Benarkah emosi sudah terpatri dalam otak kita sejak lahir? Benarkah emosi adalah ‘sesuatu’ yang di luar kendali kita? Benarkah setiap orang merasakan dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sama? Benarkah ada sel neuron khusus yang bertugas untuk memicu emosi tertentu?

Sayangnya, berbagai eksperimen dan penelitian tidak mendukung teori-teori ini. Psikolog sekaligus neurosaintis Lisa Feldman Barrett mengungkapkan hal ini dalam buku fenomenalnya: How Emotions are Made. Eksperimen membuktikan tidak ada ekspresi yang sama untuk berbagai emosi yang dirasakan (baca: tidak ada ekspresi sedih, ekspresi marah, setiap orang mengekspresikan sedih dan marah dengan cara yang berbeda-beda). Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada sel neuron (atau bagian otak) yang bertanggungjawab untuk memicu emosi tertentu (baca: tidak ada bukti bahwa emosi marah dikendalikan oleh area X, emosi sedih oleh area Y dst). Memang, ada peningkatan aktivitas di area tertentu saat seseorang merasakan emosi terntentu. Namun, area tersebut juga meningkat aktivitasnya ketika seseorang memikirkan hal-hal yang non-emosional.

Karena emosi memiliki pola yang berbeda pada diri setiap orang, maka kita tidak bisa merancang sebuah sistem baku untuk mengenali emosi yang dirasakan seseorang. Tidak ada ekspresi emosi universal. Pemindaian otak dan perubahan ekspresi muka (perubahan otot wajah) tidak akan memberikan hasil yang valid dalam membaca emosi seseorang. Maka, sistem semacam SPOT (Screening Passengers by Observation Technique) yang digunakan oleh pemerintah Amerika untuk mendeteksi potensi ancaman teroris berdasarkan gerakan tubuh dan ekspresi muka adalah sia-sia. Padahal sistem ini telah menghabiskan anggaran pajak senilai USD 900.000.000,-.

Emosi bukanlah bawaan lahir. Emosi dibentuk oleh pengalaman kita. Emosi adalah hasil ‘konstruksi’ dari otak kita. Emosi memang terjadi secara spontan di dalam otak kita, namun kita memerlukan bahan baku pengalaman sebelumnya untuk meresponnya. Inilah sebabnya mengapa dua orang yang sama-sama merasakan emosi marah bisa jadi merespon rasa marahnya dengan cara yang berbeda. Emosi bukanlah bawaan lahir, kita adalah arsitek dari pengalaman kita yang membangun (meng-‘konstruksi’) emosi kita sendiri.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Arah Motivasi

Darmawan Aji
1 min read