fbpx
Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Self-Talk: Mengenali Dialog dalam Diri

1 min read

Sadarkah kita bahwa hampir setiap waktu kita berbicara pada diri kita sendiri? Kita mengatakan betapa indahnya rumah seseorang yang kita kunjungi, kita mengatakan betapa merdunya suara penyanyi yang kita dengar, kita mengatakan kepada diri kita betapa enaknya makanan yang kita rasakan. Kita mengomentari segala sesuatu yang kita lihat, dengar, dan rasakan di dalam benak kita (baca: di dalam hati). Inilah cara otak kita menafsirkan berbagai informasi yang kita serap dari lingkungan kita. Inilah cara otak kita mengolah berbagai pengalaman yang kita alami. Pembicaraan kita dengan diri kita di dalam hati inilah yang kemudian kita kenal dengan nama “self-talk.”

Sayangnya, jarang sekali self-talk yang kita lakukan benar-benar netral, obyektif tanpa penilaian. Sebagian besar (kalau saya tidak sebut seluruhnya) self-talk kita sangat subyektif dan mengandung penilaian. Kita menilai segala sesuatu yang kita lihat, dengar dan alami. Entah dengan penilaian positif, atau penilaian yang negatif. Menariknya, secara default manusia lebih sering melakukan self-talk yang negatif daripada yang positif. Lalu, apa masalahnya? Bukankah ini sesuatu yang normal? Yup, ini sesuatu yang normal. Namun, kita perlu menyadari bahwa self-talk kita akan memengaruhi emosi kita, dan emosi kita akan memengaruhi perilaku kita. Coba bayangkan, bila self-talk yang sering muncul adalah self-talk negatif apa yang mungkin akan terjadi?

Self-talk yang kita lakukan juga mencerminkan keyakinan-keyakinan bawah sadar kita. Keyakinan tentang diri kita sendiri, keyakinan tentang orang lain, juga keyakinan tentang bagaimana dunia bekerja. Dari sini, kita dapat mengkategorikan self-talk menjadi dua jenis:

Self-talk yang konstruktif. Self-talk yang mewakili keyakinan-keyakinan yang memberdayakan hidup kita.

Self-talk yang destruktif. Self-talk yang mewakili keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan hidup kita.

Pertanyaannya, jenis self-talk mana yang lebih sering kita lakukan?

Saat kita tidak berhasil dalam melakukan sesuatu, self-talk apa yang kita munculkan dalam benak kita? Apakah “Sepertinya saya perlu belajar lagi bagaimana cara melakukannya” atau “Saya memang tidak berbakat melakukannya”?

Saat proposal Anda ditolak, apa self-talk yang muncul? Apakah “Saya perlu tahu apa yang perlu diperbaiki dari proposal saya” atau “saya tidak akan pernah berhasil di bisnis ini”?

Saat Anda dikecewakan seseorang, apa self-talk yang muncul? Apakah “Pelajaran apa yang saya dapatkan dari kejadian ini?” atau “Dia memang brengsek?

Secara alamiah, self-talk yang negatif maupun destruktif tidak dapat kita hilangkan. Namun kabar baiknya, Anda bisa belajar bagaimana mengelola self-talk Anda. Anda bisa belajar ‘menantang’ dan ‘mempertanyakan’ apa yang Anda katakan pada diri Anda sendiri. Dengan demikian Anda dapat menciptakan self-talk yang lebih konstruktif. Self-talk yang konstruktif akan mendorong emosi dan perilaku yang lebih konstruktif. Apa langkah pertamanya? Mulailah dengan lebih sadar dengan self-talk Anda sendiri.

Darmawan Aji Productivity Coach & NLP Enthusiast. Penulis 4 buku laris: Hypnowriting, Hypnoselling, Life by Design, Productivity Hack. Gandrung membaca, menulis dan berlatih silat tradisional. Tinggal di kaki Gunung Manglayang kota Bandung.

Arah Motivasi

Darmawan Aji
1 min read